Luar Negeri
Pria Tua Ini Lari Maraton Sejauh 42 KM Selama 3 Jam Sambil Menghisap Rokok, Finish di Posisi 574
Aksinya mengikuti lomba lari maraton sejauh 42 kilometer mendapat perhatian setelah finis dalam waktu 3 jam 28 menit 45 detik sambil merokok.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Pria Tua Ini Lari Maraton Sejauh 42 KM Selama 3 Jam Sambil Menghisap Rokok, Finish di Posisi 574
SERAMBINEWS.COM, BEIJING - Seorang pria tua di China berhasil menyedot perhatian penonton dan warga setelah menyelesaikan lomba maraton.
Mungkin bagi sebagaian orang, melihat pria tua ikut lomba lari maraton sudah bisa dan lumrah terjadi.
Namun berbeda dengan pria bermarga Chen yang berusia 50-an asal China ini.
Aksinya mengikuti lomba lari maraton sejauh 42 kilometer mendapat perhatian dari penonton setelah finis dalam waktu 3 jam 28 menit 45 detik sambil menghisap rokok.
Peristiwa itu terjadi dalam lomba maraton Xin An Jiang yang digelar di Jiande, 6 November 2022 lalu.
Baca juga: Stadion Harus Bebas Asap, FIFA Larang Tembakau dan Rokok Selama Piala Dunia 2022
Yang menarik perhatian publik adalah seorang pria bernama Chen berusia 50-an yang sedang berlari sambil merokok.
Dilansir dari The Voket di Sohu, ketika berlari Chen terlihat membawa sebungkus rokok dan terus menghisapnya sepanjang maraton.
Chen menyelesaikan lomba sepanjang 42 kilometer hanya dalam waktu 3 jam 28 menit dan 45 detik.
Dia berada di posisi ke-574.
Melihat gaya hidup tak sehatnya itu, ternyata ini bukan pertama kalinya Chen seperti itu.
Baca juga: Cukai Rokok Naik 10 Persen, Masyarakat akan Bertambah Miskin?
Ia memulai debutnya pada tahun 2017 dan secara aktif berpartisipasi dalam semua jenis maraton hingga 2019.
Rekornya meningkat sepanjang tahun saat ia mencatatkan waktu 3 jam 36 menit pada 2018, 3 jam 32 menit pada 2019, dan 3 jam 28 menit pada tahun ini.
Namun, beberapa warga dan pengguna media sosial merasa bahwa cara Chen berlari sambil merokok adalah contoh yang tidak sehat.
Beberapa orang mengkritiknya, sementara yang lain menganggap itu sebuah kelucuan.
Meski merokok itu berbahaya, tak bisa dipungkiri ketangkasan dan ketangguhan seorang Chen yang sudah tua menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang berpengalaman.
Namun tidak dibenarkan bagi orang lain melakukan aksi hidup tidak sehat seperti Chen.
Baca juga: Anak Durhaka! Bunuh Ibu Kandung Karena Tak Diberi Uang untuk Beli Rokok, Ditangkap saat Bawa Golok
Percuma Olahraga Tapi Masih Merokok
Dikutip dari Kompas.com, para perokok mungkin mengira rajin berolahraga bisa mengurangi dampak dari kebiasaan buruknya itu.
Sayangnya, anggapan itu salah besar karena olahraga tidak bisa menangkal efek buruk rokok.
Bahkan, kebiasaan merokok yang masih kita jalani akan membuat manfaat olahraga sia-sia.
Mengapa demikian?
Untuk memiliki tubuh sehat dan bugar, sejumlah organ seperti jantung, paru-paru dan otot membutuhkan darah yang kaya akan oksigen.
Ketika menghisap asap tembakau dari rokok, karbon monoksida dapat mengikat sel darah merah.
Akibatnya asupan oksigen dalam darah berkurang dan tidak aliran darah ke otot dan jaringan tubuh lainnya jadi tidak maksimal.
Hal ini menyebabkan peningkatan asam laktat yang berujung pada kelelahan, napas berat hingga peningkatan rasa sakit setelah berolahraga.
Secara tidak langsung penurunan jumlah oksigen dalam darah ini mengurangi daya tahan fisik, sehingga sulit diperbaiki meski rajin olahraga.
Baca juga: Asyik Nongkrong di Pos Kamling, Pedagang Syok Ditangkap Polisi, Ternyata Simpan Ini di Bungkus Rokok
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat terjadi jika rajin olahraga tapi masih merokok.
1. Pengurangan kekuatan otot
Selama berolahraga, darah membantu meningkatkan suplai oksigen ke jaringan otot.
Namun nikotin pada rokok dapat mengurangi kemampuan tersebut, sehingga otot kekurangan suplai oksigen dengan cepat untuk berfungsi dengan baik.
Jadi manfaat olahraga dalam meningkatkan kekuatan otot akan tidak maksimal jika masih merokok.
2. Risiko penyakit jantung
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan detak jantung meski tidak melakukan aktivitas apapun.
Ketika tubuh sedang aktif seperti saat berolahraga maka jantung akan bekerja lebih keras.
Peningkatan detak jantung inilah yang berbahaya untuk kesehatan.
Detak jantung yang lebih tinggi dari seharusnya bisa berakibat fatal dan meningkatkan risiko kematian.
3. Kerusakan paru-paru
Kandungan tar pada asap rokok dapat melapisi paru-paru sehingga membuat kantung udara kurang elastis.
Kondisi ini bisa membatasi kinerja gerakan fisik termasuk ketika berolahraga.
Dampaknya ini dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menggunakan oksigen secara efektif.
Karenanya, perokok akan lebih cepat lelah saat olahraga dibandingkan non-perokok. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)
Baca juga: Piala Dunia 2022 - Qatar Larang Alkohol, LGBT hingga Seks Bebas, Negara Barat Khawatir
Baca juga: Perang Dingin Baru Dengan China tidak akan ada lagi, Janji Biden Kepada Jinping di Bali