Rabu, 22 April 2026

Opini

Akankah Sejarah Andalusia Berulang di Piala Dunia 2022

Di depan kalian adalah gunung dan dibalik gunung itu ada pasukan musuh yang akan menyambut kalian semua dengan senjata mereka

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof Dr MUHAMMAD AR MEd,  Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh 

OLEH Prof Dr MUHAMMAD AR MEd,  Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh

KITA adalah hamba Allah yang sangat dhaif untuk memahami skenario Zat Yang Maha Kuasa.

Jika kita telusuri jejak sejarah (khusus bagi yang tidak benci sejarah), Jenderal Thariq bin Ziyad berangkat dari Maroco melintasi selat Liberia yang melintasi Portugal dan Spanyol.

Ketika melewati dua laut yang tidak pernah bercampur airnya (marajal bahrain dalam Alquran), kemudian Jenderal Thariq memerintahkan kepada pasukannya untuk membakar semua kapal perang yang bersandar di tepi laut tersebut.

Selepas itu beliau pun berucap kepada pasukannya, "Sekarang kalau mau pulang, kalian akan mati karena kendaraan perang telah dibumihanguskan semuanya, dan kalian akan menjadi hantaman ombak serta santapan binatang laut yang menyeramkan.

Di depan kalian adalah gunung dan dibalik gunung itu ada pasukan musuh yang akan menyambut kalian semua dengan senjata mereka.

Maka sekarang pilihlah, apakah ingin mati konyol di hantam ombak dan binatang laut atau mau mati terhormat di medan dakwah dalam menyebarkan risalah Islam dengan mengibarkan bendera tauhid atau agama tauhid kepada penduduk Andalus? Akibat perjuangan Jenderal Thariq bin Ziyad dan pasukan Islam tersebut, maka selama 7 abad Andalus (Spanyol) dapat diterapkan syariat Islam, berkibarnya bendera tauhid, didengungdengungkan azan lima waktu dan tidak ada lagi paganisme di Eropa.

Semua peradaban Arab Islam sudah menjadi bahagian dari kehidupan bangsa di Andalus.

Ketika itu Andalus dihias bak dunia modern masa kini dan ini tidak dinafikan oleh setiap ahli sejarah yang normal walau ia sejarawan identitas.

Namun, akhirnya karena umat Islam terkena penyakit keduniaan, sehingga sangat mencintai dunia, tahta, kemewahan, dan saling memperkuat posisinya sebagai penguasa dengan bergandengan bersama orang-orang yang tidak seakidah untuk mempertahankan kedudukan dan tahta.

Berpunca dari sini, tanpa disadari mereka saling memusuhi sesama kaum muslimin dan bersumpah setia dengan raja-raja Kristen di negara tetangganya dalam rangka membasmi lawan-lawan politiknya, dan hal-hal yang mengganjal kekuasaannya walau mereka sesama muslim.

Baca juga: 13 Ribu Tiket Gratis untuk Suporter Maroko Nonton Semifinal Piala Dunia, Pendukung Padati Stadion

Baca juga: Pelatih Kroasia Berambisi Kalahkan Argentina Demi Ukir Sejarah Lolos Final Piala Dunia 2022

Oleh karena itu, tentu saja mereka menawarkan berbagai permintaan atau bargaining sehingga dengan demikian kekuatan muslim berada dalam genggaman raja-raja kafir tersebut.

Akhirnya sesuai peringatan Allah dalam Al-Baqarah ayat 120; yang artinya “yahudisasi dan nasranisasi tidak akan pernah berakhir sehingga kamu ikuti agama mereka”.

Akhirnya kaum muslimin di seluruh Andalusia ketika itu harus memilih dua pilihan yaitu, "masuk agama Kristen atau dibunuh?" Karena kebanyakan kaum muslimin terkena penyakit cinta dunia dan takut mati, maka segolongan mereka menjadi Nasrani.

Adapun sebagian lainnya yang penuh keimanan dan ketaqwaan siap gugur demi membela agama Allah hingga titik darah yang penghabisan.

Jadi, dengan bahasa kasar, kaum muslim diusir secara membabi buta dari Andalus, hampir sama perlakuannya seperti di zaman modern ini yang dialami umat Islam Uighur (Xinjiang) oleh Komunis Cina, muslim Rohingya oleh Pemerintah Budha Myanmar dan muslim Palestina oleh zionis Israel.

Namun dalam piala dunia di Qatar 2022 ini, Portugal dan Spanyol diusir secara terhormat dari lapangan sepakbola oleh pasukan Marocco, sehingga kilas balik ini menjadikan momen terbaik bagi keturunan-keturunan Islam di negara tersebut dan mengundang kembali Islam ke daratan Eropa yang telah ditinggalkan oleh moyang-moyang mereka.

Raja Qatar bersama para rakyatnya yang secara totalitas adalah muslim, telah benar-benar memperlihatkan kemuslimannya yang hampir tidak dapat ditemukan ketimpangan dan kekurangan sedikitpun oleh para kaum anti identitas selama ini.

Bagaimana tidak, usai pertandingan sepakbola, rakyat Qatar memberikan kue dan minuman halal secara gratis kepada siapa saja.

Apakah hal seperti ini pernah dilakukan di negara-negara barat? Mungkin yang lebih menarik lagi adalah umat Islam Qatar menyuguhkan makanan dan minuman tersebut kepada manusia yang memiliki identitas yaitu, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha, Confusion, Zoroaster, Manusia, Yahudi dan sebagainya seperti yang punya identitas agama--- communism.

Dengan perlakuan seperti itu, masihkah Islam diberikan label teroris, fundamentalis, radikalis dan extrimis? Umat Islam kalau mau tetap eksis, maka janganlah menjauhkan diri dari Allah, jangan mati-matian mengharapkan kepada manusia karena mereka sangat terbatas jangkauannya serta terbatas sekali masanya.

Karena telah banyak umat dan para pemimpin yang tersungkur dan jatuh terhina dari singgasana mereka.

Dan semua itu bukanlah karena kehendak manusia tetapi itulah ketetapan yang tak dapat dipungkiri datangnya dari Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi yang tidak pernah salah dalam setiap keputusan-Nya.

Baca juga: Skandal Mega Korupsi Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 Guncang Anggota Parlemen Uni Eropa

Memang dari skenario Allah tersebut banyak hal yang belum terlintas dalam hati manusia, misalnya warna baju klub Portugal selalu menggunakan kostum warna merah, namun di pertandingan itu baju tersebut dengan warna persis sama pindah ke tubuh- tubuh pemain Marocco (tim Marocco yang memakai warna merah tersebut).

Ini pertanda apa? Kemudian nama stadiom juga orang banyak lupa.

Kenapa kerajaan Qatar menamakannya dengan "Al Thumama Stadium".

Apakah ini nama kebetulan? Mungkin bukan, karena ada makna yang mendalam terkandung di dalamnya.

Nama itu kalau kita lihat sejarah (lagi-lagi pentingnya sejarah) adalah Tsumamah bin Utsal yaitu pemimpin Bani Hanifah yang sangat ditakuti oleh bangsa Arab karena mereka suka merampok, berperang dan bahkan tidak segan-segan membunuh bagi yang melintasi daerah jajahannya.

Khususnya yang tidak mau membayar pajak nanggroe dan blasteng atau uang keamanan kepadanya di Najd yang terletak jauh dari kota Madinah.

Namun pada suatu hari pasukan Garnizun Rasulullah melakukan rondaan di sekitaran Najd, hingga terjadi pertempuran dengan kelompok Tsumamah dan akhirnya mereka ditangkap oleh pasukan Garnizun dan dibawa pulang ke Madinah serta diikat di dalam masjid selama 4 hari kemudian dia dilepas oleh Baginda Rasulullah dengan aman.

Akan tetapi tidak lama berselang (dalam hitungan jam), Tsumamah bin Utsal sang perampok itu kembali ke masjid dan mengucapkan dua kalimat syahadat di depan Rasulullah dan para sahabatnya.

Mungkin bagi orang-orang yang sudah masuk ke Al Thumama Stadium itu semoga mendapat hidayah semuanya.

Sinyal-sinyal seperti ini terkadang sering kita lupakan.

Mungkin saja pengganti Jenderal Thariq bin Ziyad akan digantikan oleh para pemain Marocco di pentas piala dunia Qatar 2022, ataukah ini hanya sebagai langkah awal kebangkitan Islam yang Allah tunjukkan lewat perhelatan bola sepak yang bergengsi ini.

Semoga Allah memperlihatkan kebenaran Islam di seantero dunia, supaya para manusia selamat dari kehinaan dunia dan kesengsaraan akhirat.

Semoga Allah mudahkan langkah Marocco di Qatar. (emharahmani48@ gmail.com)

Baca juga: Gaya Main Maroko Dikritik di Piala Dunia 2022, Walid Regragui: Saya Tidak Mendewakan Pep Guardiola

Baca juga: 4 Fakta Jelang Laga Argentina Vs Kroasia di Semifinal Piala Dunia 2022, Live SCTV Pukul 02.00 WIB

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved