Kisah Ibu Donorkan Organ Hati ke Pimpinan Perusahaan Demi Anak Bisa Kerja, Malah Berakhir Sedih
Seorang ibu rela mendonorkan organ hati (lever) ke pimpinan perusahaan demi anak bisa kerja malah berakhir menyedihkan. Seperti apa ceritanya?
Penulis: Sara Masroni | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM - Seorang ibu rela mendonorkan organ hatinya (lever) ke pimpinan perusahaan demi anak bisa kerja malah berakhir menyedihkan. Seperti apa ceritanya?
Diketahui seorang ibu berinisial K yang berusia 50-an di Korea Selatan, ingin sekali melihat anaknya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan.
Kemudian ia mendapat informasi dari seorang teman bahwa pimpinan sebuah perusahaan konstruksi sedang sakit parah.
Dikutip Serambinews.com dari Eva.vn, pimpinan perusahaan tersebut membutuhkan transplantasi hati dini untuk menyelamatkan hidupnya.
Baca juga: Mengenang Tsunami Aceh 2004, Nasi Goreng Terakhir Mama yang Penuh Air Mata
Teman ibu K tersebut kemudian menghubungkannya ke salah seorang karyawan berinisial N yang juga teman sekelas sekolah putra pimpinan perusahaan tersebut.
Ketika bertemu dengan N, ibu K mengatakan dirinya bersedia menyumbangkan organ hatinya kepada pimpinan perusahaan konstruksi dengan beberapa syarat.
Syarat pertama yakni memberikan imbalan 100 juta won atau setara dengan Rp 1,2 miliar.
Kemudian syarat kedua yakni memberikan pekerjaan kepada putranya agar bisa bekerja di perusahaan kontruksi tersebut.
Berkat koneksi dengan N, anak pimpinan perusahaan yang tengah sakit dan dirawat itu pun menyetujui syaratnya.
Selanjutnya ibu K masuk ke rumah sakit di Seoul pada 7 Maret 2022 untuk pemeriksaan kesehatan sebelum mendonorkan organ hatinya.
Baca juga: Kisah-Kisah Menakjubkan saat Tsunami Aceh 2004, Diselamatkan Ular hingga Bantuan Boat dari Buaya
Saat itu ibu K berpura-pura menjadi menantu pimpinan sebuah perusahaan konstruksi untuk menghindari kecurigaan dari staf rumah sakit tersebut.
Sebab di Korea Selatan melarang keras perdagangan organ tubuh manusia dengan imbalan tertentu antara pendonor dengan yang menerima donor.
Sepekan kemudian ibu K disetujui, memenuhi syarat mendonorkan organ tubuhnya oleh National Institute of Blood, Tissue and Organism, organisasi pemerintah yang mengurusi hal tersebut.