Kupi Beungoh
Guru Jadi Versus Jadi Guru
Kenapa bisa seorang Gie menulis seperti itu? Barangkali guru adalah salah satu sosok yang menyebabkan kekecewaan seorang mantan siswa seperti Gie.
Selanjutnya, mengutip perkataan Ali bin Abi Tholib, yaitu “didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu jaman yang bukan jamanmu, sebab mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan jamanmu”, mempertegas bahwa jadilah guru dan jangan jadi guru pun jadilah.
Baca juga: Deretan Bisnis Indra Bekti, Artis yang Lagi Terbaring di Rumah Sakit hingga Istri Galang Dana
Menjadi guru harus dilandasi rasa ikhlas dan sungguh-sungguh, sehingga segala aktifitas yang dilakukan berkaitan dengan tugasnya sebagai guru akan berbuah amal.
Dengan segala hal yang membebani guru dalam menjalankan tugasnya, maka timbul pertanyaan bagaimana menjadi “Guru Jadi” yang bukan sekadar “Jadi Guru”?.
Menurut penulis, Guru Jadi itu bukan karena menjadi guru sebagai pilihan tapi sebagai kewajiban. Guru Jadi berarti juga guru yang mampu membawa siswa generasi milenial antusias terhadap pembelajaran, dan mampu beradaptasi dengan jaman.
Guru Jadi menyadari bahwa perannya sangat dibutuhkan dan menuntut mereka untuk selalu belajar.
Seorang guru dituntut sempurna, walaupun tak ada yang sempurna di dunia ini.
Namun cara mengajar dalam kelas, pergaulannya dengan masyarakat, keadaan keluarganya, bahkan cara berpakaiannya pun akan menjadi perhatian semua orang.
Garansi Guru Jadi tentunya bisa mengarahkan anak didik menjadi generasi yang mampu bersaing dan memiliki moral yang baik, dan menjadi teladan bagi siswa.
Baca juga: Gading Marten, Jadi Aktor, Presenter hingga Pernah Rilis Album, Ini Rincian Bisnisnya
Oleh karena itu, Guru Jadi akan selalu berkomitmen dalam menjalankan profesinya sebagai sebuah kewajiban dan panggilan hati nurani.
Bukan sebaliknya, dimana siswa tak menginginkan kehadiran sang guru untuk hadir bersama mereka dalam belajar, atau mungkin siswa menutup pintu kelas agar sang guru tak dapat masuk ke ruang kelas.
Belum lagi alasan-alasan klasik di balik guru yang malas masuk kelas.
Rendahnya komitmen guru, rendahnya penguasaan materi pelajaran, tidak menguasai metode mengajar, sampai minimnya variasi mengajar yang mengakibatkan siswa cepat bosan.
Ditambah lagi faktor keluarga anak si guru yang sakit secara tiba-tiba, orangtuanya sakit, sementara alasan tidak ada yang mengurusinya.
Ada juga guru yang fokus ke bisnis usahanya, sementara tugas utamanya mengajar hanya dijadikan pekerjaan sampingan.
Atau barangkali menjadi guru karena profesi terdesak, akibat tidak ada lagi pekerjaan yang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FERI-IRAWAN-SSi-MPd-Kepala-SMK-Negeri-1-Jeunieb-dan-Ketua-Daerah.jpg)