Opini
Libido Menguras ‘Non-Renewable Energy’ Aceh
Contoh dari energi tak terbarukan yang sangat dikenal, yaitu bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak bumi
Oleh Prof Dr APRIDAR SE MSi, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK) dan Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Aceh
NON-RENEWABLE merupakan energi tak terbarukan yaitu energi yang diperoleh dari sumber daya alam yang waktu pembentukannya sampai jutaan tahun.
Energi ini dikatakan tak terbarukan karena, apabila sumber daya tersebut sudah digunakan, akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk menggantikannya.
Hal ini karena, di samping memerlukan waktu yang sangat lama untuk terbentuk, proses pembentukan sumber daya ini pun sangat bergantung pada lingkungan sekitar serta keadaan geologi saat itu.
Contoh dari energi tak terbarukan yang sangat dikenal, yaitu bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak bumi.
Batu bara sendiri terbentuk dari proses pengendapan serta perubahan kayu-kayu besar yang tertimbun didalam rawa-rawa.
Proses ini memakan waktu jutaan tahun dan memerlukan kondisi lingkungan yang spesifik, yaitu pengendapan dan penimbunan kayu-kayu pepohonan dalam suatu kawasan rawa-rawa.
Sedangkan, minyak bumi atau minyak mentah merupakan senyawa hidrokarbon yang berasal dari sisa-sisa kehidupan purbakala (fosil), baik berupa hewan, maupun tumbuhan.
Umumnya, sisasisa fosil hewan dan tumbuhan tersebut akan berubah menjadi senyawa minyak setelah terkubur di perut bumi selama jutaan tahun.
Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa energi tidak terbarukan memerlukan waktu yang sangat lama untuk ber-regenerasi.
Dewasa ini di berbagai negara di belahan dunia, aktivitas pencarian energi alternatif untuk menggantikan energi tak terbarukan tengah digalakkan, biasanya dengan melakukan penelitian khusus mengenai kandungan senyawa kimiawi terhadap spesies tumbuhan tertentu, dilanjutkan dengan berbagai proses percobaan, agar energi yang dihasilkan setara dengan atau paling tidak, mendekati besarnya energi yang diperoleh dari sumber energi tak terbarukan itu.(wikipedia.org).
Baca juga: Potensi Migas di Blok Meulaboh-Singkil
Baca juga: Berkunjung ke Lokasi Survei Seismic, Puluhan Mahasiswa PNL Belajar Proses Pencarian Sumber Migas
PT Pembangunan Aceh (PEMA) Merupakan Badan Usaha Milik Daerah Aceh (BUMD) yang sahamnya 100 persen dimiliki Pemerintah Aceh, didirikan yang untuk tujuan meningkatkan pembangunan, perekonomian serta Pendapatan Asli Aceh.
Tujuan yang sangat mulia tersebut sepertinya belum terseleksi dengan baik dan bijaksana, dimana penerjemahan terhadap peningkatan pembangunan perekonomian lebih pada orientasi pada pendapatan jangka pendek dengan cara menguras berbagai potensi sumber daya alam untuk dapat dirupiahkan.
Sepak terjang perusahaan milik pemerintah Aceh “PEMA” lebih mencuat pada aktivitas eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di daerah yang menerapkan syariat Islam.
Kegiatan industri dan perdagangan terkesan kurang menonjol dalam berbagai aktivitas yang dilakukan.
Dengan kalimat lain, seakan-akan pembangunan akan terjadi apabila perusahaan milik pemerintah Aceh tersebut mampu mengeksploitasi minyak dan gas bumi lebih optimal.
Untuk dapat menguras minyak bumi setiap sumur yang akan dibuka, memerlukan anggaran sekitar 300 juta $AS.
Dengan modal pengurasan yang begitu besar, namun belum dapat memastikan perolehan minyak dan gas bumi yang diharapkan.
Pertaruhan terhadap risiko yang begitu besar, tidak membuat para engineer turun semangatnya.
Bahkan mereka selalu memperlihatkan kedisiplinan serta kinerja yang luar biasa dalam menguras energi tak terbarukan tersebut.
Para pemilik modal dengan keyakinan penuh akan selalu berupaya maksimal untuk menggelontorkan anggaran dengan harapan dapat mengeksploitasi rahmat Allah yang berada dalam perut bumi Aceh.
Dengan menggunakan teknologi digitalisasi foto satelit, yang dilanjutkan dengan seismik yang dilakukan dengan kapal dilepas pantai atau kendaraan alat berat di daratan.
Setelah potensi sumber daya alam yang tersembunyi tersebut mampu mereka ketahui, sehingga muncul keinginan yang begitu besar untuk segera menguras migas untuk diperdagangkan dalam bentuk minyak mentah atau petroleum.
Baca juga: HinggaKuartal III 2022,Lifting Migas Capai 110 Persen, 21 Ribu Barel
Setelah diolah minyak mentah di luar negeri seperti Singapura, biasanya minyak jadi tersebut kembali dijual ke dalam negeri.
Sehingga nilai tambah yang diterima Singapura lebih tinggi dibandingkan pemilik minyak mentah itu sendiri.
Namun konsep dagang yang telah diikat dalam perjanjian jangka panjang, tidak mungkin diubah sehingga ketentuan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang berlaku dalam perdagangan luar negeri.
Minyak bumi pertama sekali ditemukan oleh bangsa Cina pada tahun 347 setelah masehi yang menggunakan bambu mereka mampu mengebor hingga 243 meter dan mendapatkan minyak untuk pertama kali.
Di Benua Amerika berhasil membangun migas pertama di Ontario Canada pada tahun 1858.
Kemudian pada tahun 1920- 1940 perkembangan migas mengalami kemajuan pesat yaitu dimulainya pengeboran offshore lepas pantai.
Pada tahun 1981 pengeboran lepas pantai secara horizontal hingga saat ini telah berhasil dilakukan.
Perusahaan pengeboran migas terbesar milik Amerika seperti ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips, Duke Energy, Enterprise Produsts dan lain sebagainya, lebih banyak melakukan pengeboran minyak di luar negaranya.
Walaupun potensi migas mereka masih banyak, namun mereka lebih senang mengimpor migas dari berbagai negara untuk kebutuhan energi masyarakatnya.
Bahkan migas yang diimpor, disimpan dalam bunker untuk konsumsi energi jangka panjangnya.
Migas yang berada dalam perut bumi Amerika tidak disentuh, namun disimpan untuk keperluan anak cucu mereka.
Pengelolaan cadangan energi sangat ketat mereka lakukan demi ketahanan energi bangsa yang lebih panjang.
Baca juga: Conrad Asia Energy akan Eksplorasi Migas di Aceh
Penerapan energi terbarukan seperti energi matahari, energi angin, energi panas bumi, energi biomasa dan lain sebagainya semakin digalakkan oleh pemerintah.
Penelitian serta insentif untuk menemukan berbagai energi terbarukan dilakukan dengan masif.
Hasil temuan serta inovasi lembaga research lebih banyak digunakan untuk menutupi kekurangan energi bangsanya.
Berbeda halnya yang sering dilakukan oleh negeri berkembang seperti Indonesia.
Mereka sangat senang menggunakan energi tak terbarukan secara instan untuk kebutuhan energinya.
Libido untuk melakukan pengurasan energi sangat tinggi dengan risiko pencemaran udara dan merusak lingkungan semakin parah, namun keinginan menguras asupan energi milik anak cucu sudah menjadi tindakan yang lumrah.
Saatnya Aceh menyikapi kebijakan terhadap penggunaan energi yang lebih cerdas.
Melalui PT PEMA Aceh harus mampu memanfaatkan Crude Palm Oil (CPO) sawit yaitu minyak nabati yang melimpah tersebut untuk proses pembuatan berbagai produk serta turunannya yang lebih banyak lagi.
Harga minyak ekstrak sawit CPO yang sangat murah tersebut saatnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar biodiesel selain digunakan sebagai bahan baku kosmetik, pakan ternak, sabun dan lain sebagainya.
Pengolahan serta inovasi sektor pekebunan pada dasarnya lebih mudah dan murah dibandingkan tindakan terhadap eksploitasi migas yang memang memiliki risiko serta perusakan lingkungan lebih tinggi.
Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar dunia memproduksi 43,5 juta ton setiap tahunya serta melakukan ekspor ke berbagai negara seperti India, Pakistan, Afrika dan lain sebagainya.
Menjadikan Aceh sebagai pusat pengolahan CPO lebih memiliki nilai guna dari pada sibuk dengan pengurasan migas yang memang banyak sekali kemudaratannya.
Pemilik bumi, langit, serta seluruh isinya sangat membenci orang yang melakukan pengrusakan terhadap bumi yang telah Allah diciptakan dengan sempurna.
Namun manusia sering mengatakan bukan merusak, tetapi melakukan pembangunan.
Pengumpulan pundi-pundi rupiah hasil pengurasan lingkungan, semestinya tidak masuk dalam katagori Pembangunan Aceh yang bermartabat.
Saatnya Aceh berada di garda terdepan dalam menciptakan inovasi serta meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.
Semoga kita mampu mengelola energi untuk ketahanan masa depan yang lebih cemerlang. (apridar@ unsyiah.ac.id)
Baca juga: Tepat Sasaran Sekaligus Kurangi Antrean, Hiswana Migas Imbau Pengguna BBM Subsidi Gunakan Barcode
Baca juga: Cari Cadangan Migas, PGE Persiapkan Pengeboran 3 Sumur di Aceh Utara Mulai Desember, Ini Lokasinya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)