Internasional

Remaja Turkiye Dokumentasikan Pesan Perpisahan dari Reruntuhan, Jadi Orang Pertama Diselamatkan

Seorang siswa sekolah menengah berusia 17 tahun telah merebut hati orang Turkiye. Dia berhasil merekam pesan perpisahan kepada orang yang dicintainya

Editor: M Nur Pakar
AP
Taha Erdem (tengah) bersama ibunya Zeliha Erdem (kiri) dan ayahnya Ali Erdem berfoto di samping bangunan yang hancur di Adiyaman, Turkiye pada 17 Februari, 2023. 

SERAMBINEWS.COM, ADIYAMAN - Seorang remaja sekolah menengah berusia 17 tahun telah merebut hati orang Turkiye.

Dia berhasil merekam pesan perpisahan kepada orang yang dicintainya saat terjebak di bawah reruntuhan bangunan rumahnya saat gempa minggu lalu.

Taha Erdem dan keluarganya sedang tertidur lelap ketika gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncag kampung halaman mereka di Adiyaman pada 6 Februari 2023 dinihari.

Taha tiba-tiba terbangun oleh guncangan hebat yang mengguncang gedung apartemen berlantai empat di lingkungan kerah biru di pusat kota Anatolia.

Dalam 10 detik, Taha, ibu, ayah, dan adik laki-laki dan perempuannya terjun ke bawah bersama bangunan tersebut.

Dia mendapati dirinya sendirian dan terjebak di bawah berton-ton puing, dengan gelombang gempa susulan yang kuat menggeser puing-puing, menekan ruangnya di tengah beton dan baja bengkok.

Baca juga: Korban Gempa di Hatay Memilih Tinggal Dekat Rumah, Tolak Mengungsi ke Tempat Lain

Taha mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam ucapan selamat tinggal terakhir, berharap itu akan diketahui setelah kematiannya.

"Saya pikir ini adalah video terakhir yang akan saya rekam untuk Anda," katanya dari ruang sempit, ponselnya bergetar di tangannya saat getaran mengguncang bangunan yang runtuh.

Menunjukkan ketangguhan dan keberanian yang luar biasa bagi seorang remaja yang percaya dia mengucapkan kata-kata terakhirnya, dia menyebutkan luka-lukanya dan berbicara tentang penyesalannya.

Termaskuk hal-hal yang ingin dia lakukan jika dia hidup kembali.

Selama video berlangsung, teriakan orang lain yang terjebak terdengar.

“Kami masih gemetar, kematian, teman-temanku, datang pada saat yang paling tidak terduga.” kata Taha, sebelum membaca doa dalam bahasa Arab.

“Ada banyak hal yang saya sesali, semoga Tuhan mengampuni saya dari semua dosa saya, "ujarnya.

"Jika saya keluar dari sini hidup-hidup hari ini ada banyak hal yang ingin saya lakukan," tambahnya.

Baca juga: Kota Bersejarah, Era Zaman Romawi di Antakya, Turkiye Hancur Diguncang Gempa

Remaja itu melanjutkan dengan menceritakan dia yakin keluarganya telah meninggal, bersama dengan banyak orang lain di kota, dan dia akan segera bergabung dengan mereka.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved