Opini

Menyoal Sengkarut Makroekonomi Aceh

Di samping itu adanya persoalan dalam penyediaan atau stok bahan bakar minyak (BBM) di Aceh yang dibatasi, meskipun sejak Indonesia merdeka Aceh merup

Editor: Ansari Hasyim
ist
Dr Taufik A Rahim PhD 

Oleh Taufiq Abdul Rahim

Dosen Universitas Muhammadiyah Aceh dan Peneliti Senior Political and Economic Research Center/PEARC-Aceh

DALAM kehidupan sehari-hari, aktivitas ekonomi memiliki arti serta nilai krusial, karena memahami perilaku aktivitas ekonomi memerlukan waktu yang tidak sedikit dalam melakukan refleksi setiap langkah serta kegiatan lainnya.

Bahwasanya aktivitas ekonomi yang menyita perhatian dan waktu, maka dapat saja kondisi ekonomi dalam suasana memprihatinkan. Karena secara rasional tanggapan terhadap pentingnya kehidupan ekonomi sedapat mungkin mampu bersikap kritis. Jika tidak akan menjadi korban pasif orang-orang lain yang memanfaatkan serta memahami perilaku aktivitas ekonomi secara masif.

Hal yang mesti disadari adalah harus mampu memisahkan alternatif-alternatif kebijakan. Selanjutnya dapat serta mampu memutuskan alternatif yang mana benar, dan juga mana yang salah. Sehingga dalam filsafat ekonomi dinyatakan bahwa, diperkenalkan bagaimana membuat keputusan-keputusan yang tepat serta cemerlang, baik dan strategis dalam kehidupan ekonomi.

Aminullah Usman Usul Pokir Fokus untuk Pengentasan Kemiskinan dan Rumah Duafa

Karena itu, memahami serta melihat kondisi makro ekonomi Aceh saat ini, tidak terlepas dari berbagai kebijakan serta kesalahan keputusan, yang memprihatinkan secara realitas empirik di tengah kehidupan riil perekonomian rakyat. Demikian juga, hal yang berhubungan dengan istilah sengkarut.

Merujuk kepada kamus Bahasa Indonesia, dan juga Kamus Dewan yaitu, berbelit-belit, tidak menentu, tidak karuan, karut-marut, juga bersangkut paut.

Sehingga secara kritis selaras dengan filsafat rasional dan nilai yang direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari di Aceh, memiliki keterkaitan dengan nilai, kesejahteraan dan kebebasan.

Ini sebaiknya sesuai dengan konsep dasar ilmu ekonomi, mengujinya, memeriksa, menganalisis sebagai pekerjaan intelektual yang rumit. Sehingga tidak seperti menyaksikan pertandingan sepak bola yang demikian seru, setelah pertandingan berakhir maka semuanya dilupakan.

Dalam khazanah keilmuan makroekonomi menurut Dornbusch dan Fisher (1987) adalah, memahami serta membahas perilaku secara agregat, berkenaan dengan kondisi kehidupan kemakmuran, output barang dan jasa secara total dalam aktivitas perekonomian, laju pertumbuhan output, laju inflasi dan pengangguran, neraca pembayaran dan nilai kurs.

Sehingga dalam makroekonomi secara keilmuan perhatiannya pada perilaku kebijakan makroekonomi pemerintah.

Ini juga mempengaruhi berbagai aktivitas ekonomi berhubungan dengan perilaku konsumsi, investasi, upah, harga, kebijakan fiskal dan moneter, stok uang yang beredar, anggaran belanja pemerintah, suku bunga uang, dan utang pemerintah.

Karena itu, memahami kondisi makroekonomi berhubungan dengan masalah utama perekonomian yang aktual serta faktual yang sangat menantang, rumit dan kompleks dalam kehidupan rakyat.

Secara tegas juga sederhana dinyatakan Dornbusch dan Fisher bahwa, hal-hal pokok tersebut terletak pada interaksi antara barang, tenaga kerja, dan pasar modal dari perekonomian.

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi nasional triwulan III sebesar 5,72 persen, triwulan IV yaitu 5,31 %  Year on Year (YoY), sementara itu konfigurasi aktual serta faktual makroekonomi Aceh, pertumbuhan ekonomi Aceh triwulan-III 2022 dengan minyak dan gas (migas) 2,13 % , tanpa migas 2,72 % (YoY), juga pertumbuhan ekonomi Aceh triwulan-III 2022 dengan migas 1,72 % , tanpa migas 1,78 %  Quartal to Quartal (QtoQ), triwulan-IV dengan migas 6,78 % , tanpa migas 7,66 % .

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved