Jurnalisme Warga
Sabang, Kota Wisata Sunah Penghasil Cengkih
Sejak tahun 1896 Sabang dibuka sebagai pelabuhan bebas (vrij haven) untuk perdagangan umum dan juga berfungsi sebagai pelabuhan transit barang-barang,
Seperti halnya saat liburan tiba, para wisatawan sangat sulit menemukan penginapan serta kuliner yang layak.
Seharusnya, Pemko Sabang melalui perusahaan daerah menyediakan ‘lunch’ dan ‘dinner’ di kapal sambil keliling Pulau Weh atau minimal keliling Teluk Sabang.
Wisata kapal kuliner yang ditawarkan jumlahnya dapat disesuaikan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung. Jadi, tidak akan ditemukan lagi para wisatawan yang kelaparan terutama saat liburan yang memang pengunjungnya begitu banyak. Jalan-jalan yang menuju objek wisata khususnya sudah saatnya diperlebar sehingga kemacetan dapat tertangulangi terutama saat ramainya wisatawan yang menyeberang dengan membawa kendaraan pribadi.
Hiburan yang ditampilkan berupa tayangan musik dalam kapal cepat untuk penyeberangan, hendaknya disesuaikan pula dengan muatan lokal, yaitu wisata syariah. Seharusnya, tayangan promosi budaya Aceh yang sangat tinggi nilai seninya digencarkan. Tentu tidak elok apabila yang diputar dalam kapal cepat berupa lagu yang bertemakan selingkuh serta berbagai musik bernada pelecehan terhadap kaum wanita.
Saatnya kita menjual kebajikan agar para wisatawan teredukasi serta memiliki kesan mendalam saat setiap jengkal negeri syariah ini dia lalui atau singgahi.
• Iis Dahlia Sebut Jadi Artis Itu Berat: Kalau Enggak Kuat Mentalnya Bisa Gila • Mau Cepat Hamil? 4 Tips Ini dari Seksolog dr Boyke Ini Bisa Dicoba, Manjur Banget! • Penyamaran Bos Narkoba Terungkap, Operasi Plastik Berkali-kali Jadi Oppa Korea tapi Tertangkap Juga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rita-Meutia-99878.jpg)