Serambi Demokrasi Awards 2023
Cinta Bardan Sahidi dalam Denyut Nadi Rakyat Gayo
Bardan Sahidi yang juga Anggota DPRA dari Fraksi Partai PKS Aceh meraih penghargaan untuk kategori "Politisi Peduli Pemuda dan Olahraga".
Jadwal ini rutin ia kerjakan setiap waktu. Bardan merupakan utusan dari Dapil IV meliputi Aceh Tengah dan Bener Meriah ke Gedung DPR Aceh. Semua aktivitas tersebut dikerjakan sebagai bagian dari tugasnya sebagai wakil rakyat.
Medan perjuangan Bardan tidak bisa dianggap remeh. Sebaran permukiman penduduk berada di 14 kecamatan dengan 295 kampung. Sebagian besar berada di pelosok.
Kecuali empat kecamatan, Lut Tawar, Bebesen, Bies, Kebayakan, relatif mudah dijangkau, sebab berada di wilayah perkotaan. Di luar itu, berada di “pinggiran” kalau tidak ingin disebut pelosok.
Suatu ketika, cerita Bardan, ia sedang melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Ia mengunjungi
puskesmas, meninjau jalan, jembatan, dan bertemu masyarakat. Kebetulan hari itu Jumat.
Ia pun menuju masjid di salah satu kampung kecamatan itu. Saat waktu Jumat tiba, belum ada tanda-tanda shalat akan dimulai. Jamaah yang sudah hadir ke masjid mulai gelisah atau “macik” dalam bahasa Gayo. Rupanya, Pak Imam yang bertugas sebagai khatib dan imam Jumat, belum juga datang ke masjid.
Jamaah tentu makin “macik”. Mengetahui hal itu, Bardan Sahidi yang sedang mengenakan pakaian lapangan, diminta jamaah naik mimbar menyampaikan khutbah Jumat. Bardan juga diminta jadi imam.
Permintaan itu dijalankannya dengan baik Pak Imam yang ditunggu, belakangan diketahui sedang pergi ke Timang Gajah, membayar tagihan listrik.
Dalam perjalanan pulang, ban sepeda motornya bocor. Inilah alasan Pak Imam tidak bisa tiba tepat waktu di masjid tadi. Saat sudah kembali dan bertemu Bardan Sahidi, Pak Imam menyampaikan bahwa Jumat sebelumnya juga tidak ada shalat Jumat di masjid tersebut. Alasannya, tidak ada khatib.
“Sungguh sangat miris kita mendapati kenyataan ini. Bahwa masih banyak masjid di pelosok kampung yang tidak bisa
menjalankan Jumatan karena tidak ada khatib,” kata Bardan.
Kenyatan seperti ini yang membuat Bardan makin bertekad harus terus keluar masuk kampung, sekalipun terpencil di tengah lembah.
Ia pun lalu menyusun program “Safari Jumat”. Hasilnya mulai kelihatan. Paling tidak, lanjut Bardan, di setiap masjid terdapat buku panduan sebagai khatib dan buku kumpulan khutbah Jumat. Sehingga, kalau khatib yang diundang berhalangan, ada pengganti.
Seperti diutarakan Bardan di awal, kalau masjid berada di kecamatan wilayah perkotaan, tidak sulit. Tapi, ini berada di kecamatan perbatasan dengan kampung yang terpencil, seperti Kecamatan Linge, Bintang, Rusip Antara, Kecamatan Ketol.
Ia juga menyebut nama kampung yang masih sulit dijangkau seperti Bergang, Kekuyang, Karang Ampar, dan sebagainya.
“Ini menjadi daerah yang harus saya kelilingi, melihat bagaimana tata laksana peribadatan, tata laksana ibadah Jumat, dan sebagainya,” kata Bardan.
Ia juga menemukan tradisi masyarakat di kampung. Setelah shalat Jumat ada “kenduri rohol” di rumah imam dan masjid. Tradisi ini baik. Makannya ada “bertih, awal pisang nur, telur kampung” dan itu menjadi makanan yang ditunggu oleh anakanak ketika pulang Jumat. “Ini tradisi baik, bagaimana menggairahkan warga untuk datang ke majelis-majelis Jumat,” lanjut Bardan.
Ia sendiri kalau “Safari Jumat” menyampaikan materi yang umum, tapi karena yang menyampaikan pejabat publik, masyarakat mendengarkannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Bardan-Sahidi-Serambi-Awards.jpg)