Rabu, 15 April 2026

Serambi Demokrasi Awards 2023

Cinta Bardan Sahidi dalam Denyut Nadi Rakyat Gayo

Bardan Sahidi yang juga Anggota DPRA dari Fraksi Partai PKS Aceh meraih penghargaan untuk kategori "Politisi Peduli Pemuda dan Olahraga".

|
Editor: IKL
SERAMBI INDONESIA
Bardan Sahidi, Politisi Peduli Pemuda dan Olahraga 

Sementara di beberapa tempat, majelis pengajian kaum ibu cukup aktif. “Yang dikaji sederhana, perukunen dan lain-lain. Mereka hafal Asmaul Husna. Ini rata -rata kampung. Hafal sifat wajib, sifat
mustahil.

Ini adalah penanaman tauhid yang mereka lakukan sendiri di kampung itu,” ujarnya. “Adapun kehadiran kita adalah untuk menangkap persoalan di kampung dan kemudian mengomunikasikannya dengan dinas terkait, seperti Dinas Syariat Islam, Pendidikan Dayah, dan sebagainya, agar hadir sebagai ‘suluh terang’ bagi masyarakat,” tambahnya.

Bardan Sahidi dalam setiap kunjungan ke kampung, selalu melihat empat bidang. Pertama, bidang pendidikan, memastikan anak-anak bersekolah.

Kedua, layanan kesehatan. Ketiga, ekonomi masyarakat, sumber mata pencaharian. Keempat, bidang rohaniah, bertemu masyarakat di masjid dan melihat apa yang dibutuhkan masyarakat dalam mendukung kegiatan peribadatan.

Terkait fasilitas dan infrastruktur peribadatan seperti masjid, mersah, dan joyah, menurut Bardan dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Mersah adalah tempat pendidikan atau pengajian kaum laki-laki, sedangkan joyah untuk perempuan.

Pemerintah memang punya program pembangunan masjid. Di tingkat provinsi namanya masjid raya, di kabupaten ada masjid agung, di tingkat kecamatan masjid besar, dan masjid jamik dibangun untuk menampung jamaah antarkampung. Namun, di luar itu, masyarakat masih harus bergerak membangun sarana peribadatan yang dibutuhkan kampung. Sebab, fasilitas yang dibangun pemerintah sangat terbatas.

Masyarakat juga memberi nama sendiri masjid atau mersah yang mereka bangun sendiri. Ada yang disebut Masjid Sjech Sirajuddin, Masjid Asaliah, Mersah Kala, Masjid Bah, dan sebagainya. “Ini menarik, masyarakat memberi nama untuk mengenang ulama-ulama atau pensyiar tertentu yang ada di kampung itu,” cerita Bardan.

Lalu bagaimana dengan insfrastruktur jalan yang menghubungkan antarkampung atau antarkecamatan? Soal ini Bardan mengatakan, masyarakat tahunya itu jalan pemerintah. Mereka tidak tahu ada istilah jalan kabupaten, jalan provinsi, atau jalan nasional. “Kalau jalan rusak, mereka tahunya itu jalan pemerintah, dan pemerintah harus segera lakukan perbaikan,” kata Bardan.

Dalam rangka fungsi pengawasan, Bardan tentu hafal seluruh kategori jalan sehingga memudahkan dirinya rapat dengan pihak terkait.

“Soal insfrastruktur jalan ini memang masih terkendala. Seringkali, kami harus terbenam dalam lumpur saat musim hujan, dan tidak jarang juga longsor.

Karena saya sering keluar masuk kampung, jadi tahu betul ruas-ruas jalan yang rawan,” ungkap Bardan. Bardan membaca denyut nadi masyarakatnya. Karena itu, ia tahu betul kebutuhan masyarakat yang kemudian ia komunikasikan di Gedung DPR Aceh atau dalam rapat-rapat dengan pemerintah.

Biodata Bardan Sahidi:

• Lahir di Takengon, 28 Desember 1979.
• Alamat Jalan Syiah Utama Nomor 159 Takengon Timur, Aceh Tengah

Pendidikan
• Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 2013;
• Program Doktoral Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, (disertasi 2022);

Kursus
• Lemhannas RI Pendidikan Reguler Angkatan PRA XIII Tahun 2007;
• Penguatan Konsepsi Ketahanan dan Kepemimpinan Nasional.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved