Jurnalisme Warga
Ketika Ibu Ribuan Anak Yatim Berpulang
Saya sebut saja nama ibu diamksud, yakni Ibu Ainul Mardhiah. Kami akrab memanggilnya dengan sebutan ‘Wak Non’
“Kaye-kaye taguen bu lon angkat keudroe laju, Tgk Aidil. Wate nyan lon mantong muda that [kayu-kayu bakar saya angkat sendiri saja, Tgk Aidil. Waktu itu saya masih muda [baca: masih kuat sekali],” ujarnya mengingat masa-masa lalunya.
Wajahnya riang. Seakan tak pernah merasakan beban menjalani hari-hari berat itu.
Saban hari, di luar bulan Ramadhan, Wak memasak untuk sekitar enam ratus orang santri dan juga dewan guru. Di hari-hari selama bulan Ramadan, Wak hanya memasak untuk 300 ratus santri dan dewan guru saja.
Memang, selama Ramadan, para santri dan dewan guru ada juga yang menetap di dayah dengan mengikuti program-program pengembangan diri yang telah diagendakan sebelumnya.
Meski lelah dengan aktivitas harian tersebut, namun Wak benar-benar menikmati profesinya itu. Profesi mulia yang terkadang luput dari perhatian mayoritas orang. Dengan sifat kasih sayang dan sabar yang Wak terapkan, Wak mampu mengendalikan emosi di saat ada santri-santri yang mendatanginya dan meminta nasi di luar jadwal pengambilan nasi.
Wajahnya yang selalu terlihat ceria menyambut ‘santri telat’ itu dengan penuh senyuman. Wak memaklumi segala tingkah laku santri yang tak disiplin itu dan menerimanya dengan penuh kasih sayang.
Tak jarang kata-kata ‘aneuk lon (anandaku)’ terdengar ketika memanggil santri seraya memperingatkan agar esoknya harus tepat waktu.
Wak adalah sesosok inspiratif bagi kehidupan kita. Jalan hidupnya yang telah digariskan Allah dalam pengabdian, ia jalani dengan penuh hati. Dalam beberapa kali mengobrol dengannya, Wak selalu mengulang-ulang kebahagiaannya mengabdi untuk Waled dan anak-anak yatim Dayah Ummul Ayman.
Saya pernah bertanya kepadanya terkait harapannya kepada para alumni dapur umum Ummul Ayman. Wak menjawab,“Harapannya sesekali berkunjunglah ke dayah. Silaturahmi ke Waled. Juga lihat-lihatlah dapur. Sekarang sudah banyak perubahannya. Hana sama lagee awai le [tidak sama lagi seperti dahulu],” ujarnya.
Harapan Wak ini saya artikan sebagai pengingat untuk kita semua agar tidak pernah melupakan jasa kedua orang tua, guru dan orang-orang yang pernah berkontribusi di dalam kehidupan kita.
Sejak tanggal 14 Maret lalu, Wak jatuh sakit. Beliau dilarikan ke salah satu rumah sakit di Bireuen. Di dayah, para santri selalu membaca Surah Yasin dan berdoa untuk kesembuhan pejuang anak yaim tersebut.
Namun, Jumat, 17 Maret, Allah lebih menyayangi Wak dengan memanggil almarhumah ke hadirat-Nya. Senja itu tak begitu cerah. Seantero Dayah Ummul Ayman menggema dengan pembacaan Surah Yasin. Syaikhuna Waled langsung memimpin pembacaan tersebut.
Setelah isya, jasad Wak terbaring di saf depan musala Arrahmah. Terbungkuskan kain kafan dan dimasukkan dalam keranda. Waled langsung mengimami dan berpidato setelahnya. Dalam pidato sedihnya, Waled menyaksikan Wak adalah termasuk orang baik.
Lalu mayat dibawa ke pemakaman, di Desa Mideun Jok, tepatnya di arah barat Dayah Mudi Mesra. Pukul 23.00 proses pemakaman selesai. Wak berbaring untuk selamanya.
“Minta doa kepada semuanya semoga saya mampu mengabdi (kepada anak yatim) untuk selamanya. Sampe akhe hayat teuh beu di sinoe sabe (sampai akhir hayat bisa selalu di sini).”
Harapan Wak itu selalu terngiang-ngiang di ingatan saya. Senja hari Jumat 17 Maret itu, Allah mengabulkan permintaannya. Wak pergi untuk selamanya, meninggalkan kenangan dan jejak-jejak baik untuk kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AIDIL-ADHAA-IIII.jpg)