Kupi Beungoh
BSI Bermasalah, Haruskah Membanggakan Bank Konvensional?
Kehadiran Qanun Lembaga Keuangan Syariah ini tidak terlepas dari kultur masyarakat Aceh yang masih kental dengan nilai-nilai islami.
Dibeberapa hari akhir ini masyarakat Aceh merasa tidak nyaman dengan kendala yang terjadi pada BSI yang mengakibatkan terhambatnya ekonomi masyarakat untuk kebutuhan uang cashnya yang tidak bisa diambil di ATM terdekat maupun sekitarnya,
hal ini juga merambat ke lini kehidupan mahasiswa/i yang bergantungan dengan transaksi jarak jauh dari orang tua yang mengirimkan belanja untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Ini merupakan polemik yang terjadi karna ada kecolongan dari sistem BSI yang disebut dengan serangan CYBER.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ini menimbulkan kekecewaan yang dialami oleh berbagai elemen nasabah dan berharap kendala ini tidak berjalan lebih lama dan cepat diselesaikan.
Disisi yang lain patut dicurigai, bisa jadi ini merupakan langkah-langkah yang disusun secara sengaja untuk melemahkan perbankan yang berkonsep nilai-nilai Islam.
Karna dalam dunia rivalitas setiap pihak memiliki cara dan langkah tertentu untuk mengungguli dirinya daripada lawannya.
Disini kita berbicara antara dua konsep perbankan yang berbeda, tidak lepas dari kesengitan yang akan terjadi diantara kedua pihak, satu sama lain akan mengklaim dirinya yang terbaik dengan nuansa berbeda yang akan ditawarkan kepada para nasabah dan bagi siapapun yang unggul akan mendapatkan keuntungan yang begitu banyak dari dunia perbankan.
Namun tidak eteis ketika sistem BSI yang kebobolan tetapi konsep Islam didalamnya yang disalahkan, padahal ini merupakan hal yang diluar prediksi bahkan bisa jadi dimotori oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu.
Konsep Islam dalam dunia perbankan menjadi rival bagi konsep konvensional yang sudah lama berkiprah dalam dunia perbankan.
Ditambah dengan adanya stigma masyarakat yang belum terlalu yakin terhadap totalitas konsep Islam dalam BSI, menganggap seolah-olah hanya nama saja yang menggunakan syari’ah, sehingga secara tidak langsung menjadi celah kelemahan untuk menyerang dan mengalahkan BSI itu sendiri.
Pemahaman seperti inilah yang membuat posisi BSI menjadi rentan untuk dipatahkan dalam dunia perbankan, disaat BSI sudah dipatahkan maka nilai-nilai Islam pun sudah memudar dalam kehidupan sehari-hari.
Kita sebagai muslim yang baik, harusnya kendala ini tidak perbesar-besarkan dan dijadikan alasan supaya BSI hengkang dari tanah Rencong Serambi Mekah.
Masyarakat serta pejabat pemerintahan harus bisa mengambil langkah yang bijak dalam menyikapi hal ini, dengan mempertimbangkan agama dan budaya kultural Aceh yang amat begitu penting bagi regenerasi selanjutnya,
menimbang BSI merupakan perwujudan yang sudah lama kita harap terealisasikan, sebagaimana agama Islam yang mengajarkan kita untuk bertotalitas dalam menjunjung dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Kebiasaan dalam menilai dan menentukan sikap ekstrim untuk menanggapi sebuah masalah harus diminimalisir agar tidak berujung kepada penyesalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhammad-Azizan-pEMUDA-PAS-Aceh-Timur.jpg)