Opini

Selamat Jalan Tamu Allah

Harapan kita semua saat kepulangan jamaah kelak ke Tanah Air lebih peduli, lebih terbentang rasa empati bagi yang kurang beruntung,

Editor: mufti
ist
H Akhyar Mohd Ali, Kasi Bimas Islam Kemenag Aceh Besar, Sektaris Umum PW Al Washliyah Aceh dan Ketua MPW BKPRMI Aceh 

H Akhyar Mohd Ali, Kasi Bimas Islam Kemenag Aceh Besar, Sektaris Umum PW Al Washliyah Aceh dan Ketua MPW BKPRMI Aceh

CALON Jamaah Haji (JCH) kelompok terbang (Kloter) pertama yang menuju Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz International Airport Madinah al Munawwarah pada 24 Mei 2023 pukul 07.45 WIB adalah jamaah berasal dari Kabupaten Pidie Jaya, Banda Aceh dan Aceh Besar. Mereka semuanya berjumlah 393 orang dari seluruh calon jamaah haji Aceh sebanyak 4.378 orang tergabung dalam 12 kelompok terbang (Kloter).

Segala sesuatu yang berkaitan dengan pemberangkatan JCH telah dipersiapkan oleh panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) embarkasi Aceh dengan maksimal terutama yang menyangkut dokumen jamaah haji.

Secara nasional PPIH Arab telah memberangkatkan tim Advance (tim pendahulu) yang akan memastikan kesiapan hotel, dapur catering dan bus yang akan digunakan jamaah haji bahkan beberapa hari yang lalu menteri Agama RI berangkat ke Saudi untuk mengecek langsung kesiapan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi baik di Madinah, Makkah dan tempat lainnya.

Tantangan JCH

Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umrah mengusung tema penyelenggaraan Haji tahun ini “Haji Ramah lanjut Usia (Lansia)” tidak seperti tahun sebelum minus tema mengingat banyak calon jamaah Haji (CJH) tahun ini yang lansia mencapai 65.000 atau 30 persen dari kuota haji Indonesia, sementara di Aceh hampir 300 CJH yang masuk kategori lanjut usia. Dari 221.000 kuota jamaah haji Indonesia 65.000 merupakan kategori Lansia, dengan rincian 51.778 orang berusia 65-75 tahun, 8.760 orang berumur 76-85 tahun,2074 berumur 86-95 tahun dan di atas 95 tahun ada sebanyak 269 calon jamaah.

Pada musim haji tahun 2023 ini pemerintah mengambil kebijakan tidak adanya penggabungan mahram dan pendamping bagi jamaah lansia yang lazim ada pada tahun sebelumnya tentu ini sangat riskan bagi jamaah lansia mengingat faktor umur, kesehatan dan status melekat lainnya apa lagi dengan kondisi geografis yang sangat beda dengan daerah asal serta tempat tinggal yang berbeda dengan Indonesia menjadi perhatian tersendiri bagi keluarga dan sebagainya terakhir muncul sikap pesimistis agar mendapat haji yang mabrur/ar.

Di samping itu juga faktor alam juga sangat mempengaruhi keberadaan JCH sebagaimana kita ketahui bahwa suhu udara baik di Makkah maupun Madinah pada musim haji kali ini diperkirakan panas hingga 50 derajat. Sekadar perbandingan Aceh beberapa minggu terakhir ini mengalami musim panas dan kalau kita melihat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih sekitar 38 derajat suhu yang ada dan tentu kita sangat berkesusahan merasakan betapa panas yang kita hadapi, bayangkan ketika 50 derajat tentu lebih sebagaimana yang kita rasakan. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh JCH yang merupakan tamu Allah SWT, di antaranya;

Pertama, meluruskan niat berangkat ke tanah suci hanya karena Allah swt bukan karena yang lain, bukan karena mau pamer, bukan ingin riya, bukan karena mau di panggil ”pak haji “ dan “bu hajjah” dan sebagainya tentu niat yang ikhlas landasan diterimanya ibadah kepada Allah swt. Dalam surah Albaiyinah ayat 5 Allah berfirman yang artinya, ”Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan penuh Ikhlas”.

Anas bin Malik Radhiyallahu a’anhu menyebutkan, “Sewaktu nabi saw berangkat haji beliau memakai kendaraan yang sudah tua dan baju yang dinilainya tidak sampai empat dirham, beliau berkata, “Ya Allah, semoga ini haji yang tidak ada riya dan sum’ah di dalamnya (HR Ibnu Majjah).

Kata Ikhlas berasal dari kata Khalasa yang dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris diartikan dengan mengosongkan dan membersihkan, kata ikhlas merupakan masdar dari kata akhlasa yang berarti murni, bersih, jernih, selamat, memisahkan diri. Menurut Hamka, Ikhlas adalah membersihkan dan tidak adanya campur tangan suatu apa pun selain Allah swt Maha Khaliq. Insya Allah bila sikap ikhlas ini dapat kita tanamkan tentu akan menjadi kemudahan bagi JCH.

Kedua, mengusai manasik haji secara mandir. UU Nomor 8 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah pasal 3 ayat 1 menyatakan bahwa penyelenggaraan ibadah haji bertujuan memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan bagi jamaah haji sehingga dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan syarat dan mewujudkan kemandirian dan ketahanan dalam penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Manasik haji merupakan salah satu bentuk pembinaan dari pemerintah dalam bentuk penyuluhan dan bimbingan sebagaimana dalam PMA No 13 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan haji reguler bab IV pembinaan jamaah haji. Ada banyak metodologi dalam bimbingan manasik haji di antaranya di KUA, di Kelompok Bimbingan Haji (KBIH)  saat di Asrama Haji menjelang keberangkatan dan ada juga dengan mengadakan program manasik sepanjang tahun di waktu berada di Tanah Suci JCH terus dijejali dengan ilmu manasik dengan harapan agar mendapat haji yang mabrur/ah.

Ketiga, kesehatan maksimal. Ibadah haji adalah ibadah fisik oleh sebab itu seluruh JCH harus sehat bahkan kesehatan itu merupakan salah satu indikator Istitha’ah (mampu), tidak seperti pemahaman di waktu dulu Istitha’ah itu hanya pada biaya (ekonomi) dan keamanan di perjalanan, namun kesehatan tentunya sangat utama agar mewujudkan pelaksanaan ibadah haji yang paripurna. Ada jamaah yang sewaktu berangkat sehat wal afiat namun sampai di Tanah Suci sudah sakit ada juga sebaliknya dari tanah air kurang sehat namun sampai di Tanah Haram JCH ini bisa maksimal dalam ibadahnya bahkan dapat menolong rekan sesama JCH.

Untuk mengantisipasi suhu panas disarankan jamaah membawa masker yang gunanya untuk menahan panas dan menahan debu bahkan masker dibasahi untuk menyaring atau menahan agar debu dan kotoran tidak terhirup masuk hidung dan jamaah harus sering-sering minum tidak menunggu haus agar tak cepat dehidrasi. Namun perlu diperhatikan minum jangan sekali dengan kapasitas yang banyak akan sering buang air kecil yang tentu menyulitkan jamaah itu sendiri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved