Momen Haru Tempuh Jarak 1.000 Km Demi Hadiri Pernikahan Teman Online, saat Tiba Dipeluk Menangis
Momen haru tempuh jarak 1.000 Km demi hadiri pernikahan teman online, saat tiba dipeluk menangis.
Penulis: Sara Masroni | Editor: Amirullah
Membakar uang adalah kebiasaan tradisional yang sudah berlangsung secara turun temurun saat Festival Qingming.
Hal itu bermakna, orang-orang di 'dunia bawah' akan punya uang untuk dibelanjakan, memiliki kehidupan yang berkelimpahan dan nyaman.
Baca juga: VIRAL Pemuda 28 Tahun Nikahi Nenek 62 Tahun, Anak Sulung Lebih Tua dari Ayah Tiri, Kenal di TikTok
Hal Lucu pun Terjadi
Usai dari makam, sesampainya di rumah Nyonya Ton tiba-tiba menyadari bahwa saku celana putranya membengkak, seolah-olah ia sedang menyembunyikan sesuatu di dalamnya.
Nyonya Ton bertanya kepada putranya apa yang ada dalam sakunya, seketika bocah itu mengeluarkan setumpuk uang kertas.
Sang ibu sangat terkejut, bertanya kepada putranya mengapa dia membawa pulang uang kertas ini yang harusnya dibakar di makam neneknya tadi.
Anak laki-laki berusia lima tahun itu pun dengan polosnya menjawab pertanyaan ibunya.
"Kami telah memberikan begitu banyak uang kertas kepada nenek," ucap polos bocah tersebut.
"Nenek tidak dapat menghabiskan semuanya, jadi aku bawa pulang sejumlah uang untuk dibagikan kepada ibu dan teman-teman dekatku," tambahnya.
Baca juga: Terungkap! Inilah 5 Tips agar Doa Cepat Dikabulkan Allah, Buya Yahya : Perhatikan Waktu Mustajab Doa
Sang ibu mengakui tak memperhatikan apa yang dilakukan bocah tersebut saat di pemakaman neneknya.
"Hari itu, saya membawa putra saya untuk mengunjungi makam neneknya. Ketika saya membakar uang kertas, bocah itu diam-diam mengambil setumpuk uang dan memasukkannya ke dalam sakunya sementara saya tidak memperhatikan," ucap Nyonya Ton.
"Saya tanya, mengapa melakukan ini nak, ia menjawab bahwa uang kertas itu terlalu banyak, neneknya tidak dapat membelanjakan semuanya, jadi dia membawa kembali sebagian untuk dibagikan kepada ibu dan teman-temannya," tambah sang ibu haru.
Setelah mendengarkan penjelasan putranya, Nyonya Ton marah sekaligus tertawa atas kepolosannya putranya yang sangat menggemaskan.
Setelah itu, Nyonya Ton dengan antusias menjelaskan kepada sang anak bahwa uang kertas tersebut hanyalah uang palsu.
Uang tersebut sekadar simbolis untuk menyembah leluhur menurut adat istiadat di sana, tetapi tidak dapat dibelanjakan seperti uang pada umumnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.