Opini

Islam dan Problem Agama Masyarakat Kota

Saat duduk bersama seorang teman di salah satu warung kopi, ia menceritakan perasaan kagetnya ketika mendengar statemen seorang muslimah

Editor: mufti
IST
Syah Reza, Penggiat diskursus Peradaban di Islamic Institute of Aceh 

Syah Reza, Penggiat diskursus Peradaban di Islamic Institute of Aceh

BEBERAPA waktu lalu, saat duduk bersama seorang teman di salah satu warung kopi, ia menceritakan perasaan kagetnya ketika mendengar statemen seorang muslimah saat menceritakan tentang kehidupan berkeluarganya. Wanita itu mengatakan, "agama tidak bisa menghidupkan saya, toh ujung-ujungnya saya harus kerja. Kalau memang Tuhan itu ada, kenapa kita harus bekerja?". Sederhana dapat dipahami bahwa keluhannya pada ekonomi, dan baginya agama tak bisa menjawab problem materi.

Saya tak heran dengan kasus identitas demikian. Seorang muslim di satu sisi percaya dan melakukan ibadah pada Tuhan, tetapi di sisi lain alam pikirannya meragukan eksistensi Tuhan terutama ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan. Bertuhan pada satu aspek, tidak bertuhan pada aspek yang lain.

Dua identitas paradoks kerap ditemukan pada masyarakat milenium ketiga. Biasanya yang paling sering terjadi ketika agama berhadapan dengan problem ekonomi. Nyaris sedikit yang mampu menemukan solusi integral. Umumnya mengalami dilema, dan mendua. Sekalipun benihnya dari ideologi Karl Marx yang membuat diferensiasi radikal antara ekonomi dan agama, namun, tipologi demikian masuk dalam paham dualisme. Sebuah ideologi turunan dari sekularisme yang mewarnai kehidupan masyarakat Barat modern lalu menjelma menjadi ideologi global.

Pengaruh Barat

Dualisme menjadi ciri khas dari gaya hidup masyarakat industri dan metropolis. Aktivitas kerja dalam siklus dan orientasi kebutuhan ekonomi, baik di pabrik, perusahaan maupun kantor pemerintahan, membentuk habitus dalam lingkaran materialistik. Sebaliknya, kebutuhan spritualitas (sangat personal) yang alpa di ruang pekerjaan, maka masyarakat kota (yang butuh agama) mencari rumah ibadah, atau majelis pengajian. Dua kutub secara dikotomis demikian, sengaja atau tidak, ia terbentuk dalam kultur kehidupan kota. Lalu, apa dampaknya?

Kebiasaan rutinitas dalam pola hidup yang terfragmentasi tersebut, berdampak pada perubahan cara pandang (baca: mindset) yang cenderung dikotomis dalam menyikapi persoalan hidup. Bahkan, masalah yang datang dalam hidupnya, baik masalah ekonomi, sosial, moral dan psikologis tidak mampu dihubungkan dengan agama sebagai pedoman hidup. Akhirnya, terjadi kebingungan identitas (confused identity).

Kota memang dikenal dengan sifatnya yang bebas, memungkinkan berbagai ideologi berinteraksi. Setelah kemenangan atas Soviet pada perang dunia kedua, Barat merasa sebagai bangsa superior atas bangsa lain di dunia. Maka, agenda-agenda ideologis peradaban setelah itu begitu mudah tersebar, terutama pada masyarakat urban hingga dunia Timur.

Barat memulai penyebaran ideologi (baca: Sekularisme) dari proses kolonialisasi atas wilayah Islam, lalu infiltrasi berlanjut melalui kendaraan media hingga saat ini. Media membuat citra Barat sebagai bangsa kelas satu, dan merendahkan negara-negara yang berada di kawasan Timur. Itu tampak dari caranya menampilkan imej Islam dengan wajah eksklusif, reaksionis dan konservatif. Bahkan, keberhasilan label itu tercapai dari agenda konspirasi politik atas keruntuhan gedung WTC pada 11 September 2001.

Imej pelaku teroris dibentuk dengan wajah gamis, sorban di kepala yang merefleksikan simbol Islam. Seketika itu memuluskan narasi "teroris" diidentikkan dengan konsep jihad. Wajar saja, imej jihad yang bermakna positif bagian dari ajaran Islam, direduksi dengan wajah fanatisme Muslim, radikal dan menakutkan.

Kata Akbar S Ahmed, padahal makna Jihad adalah perjuangan dalam bentuk yang beragam. Perlawanan fisik hannyalah salah satu aspek kecil dari makna jihad. Nabi Muhammad saw, mengidentifikasikan jihad terbesar adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan insting kita. Maka, maknanya luas, kompleks dan mendalam dari apa yang dicitrakan oleh media (Barat).

Barat dengan kerjanya sistematis pada satu tahap (identitas) berhasil mewarnai masyarakat muslim yang dimulai dengan perubahan mindset, gaya hidup hingga terbentuk Budaya. Lalu, apa motif Barat melakukan agenda demikian? Sejak periode Pencerahan, Barat menginginkan agar dunia menjadikan Barat sebagai rule model dalam identitas. Artinya, mengikuti mereka dalam segala aspek. Keinginan agar Timur terbaratkan. Tujuan akhir yaitu hegemoni atas wilayah-wilayah Islam, untuk memperkuat dominasi politik dunia.

Reaksi muslim

Karena dampak negatif bahkan destruktif mengenai identitas muslim, banyak tokoh intelektual muslim menolak westernisasi. Selain Syed M Naquib Al-Attas yang secara tegas mengkritik Barat dengan konsepnya 'Dewesternisation' dalam karyanya Islam and Secularism, Ali Syariati mewanti umat Islam untuk tidak mengekor peradaban barat. Katanya, "Saya tidak bermaksud menolak mentah-mentah gagasan untuk meniru Barat, tetapi saya tidak dapat menyetujui gagasan ‘membebek' Barat secara membabi buta. Setiap peniruan yang tidak kita pilih sendiri, yang tidak berdasarkan keperluan-keperluan dan tuntutan kita sendiri, adalah peniruan yang palsu atau imitasi. Kita harus menahan diri untuk tidak ‘membebek' pada Barat seperti diinginkan Barat atas kita." (Ali Syariati, 1982).

Sekalipun banyak intelektual muslim yang menolak, namun tidak sedikit juga yang permisif pada sesuatu yang datang Barat, seperti Nurkhalis Madjid dan kalangan post-modernisme Islam. Umumnya menyangkal bahwa westernisasi membawa dampak buruk bagi masyarakat Islam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved