Opini
Islam dan Problem Agama Masyarakat Kota
Saat duduk bersama seorang teman di salah satu warung kopi, ia menceritakan perasaan kagetnya ketika mendengar statemen seorang muslimah
Padahal, realitas terjadi di depan mata kita sendiri. Seperti kasus di atas, terperangkap dalam sistem berpikir Marxis. Tak sedikit orang Islam mengalami pergeseran identitas secara serius setelah berinteraksi secara intim dengan ideologi modern, seperti, Materialisme, Atheisme dan Liberalisme.
Kita tidak menyalahkan Barat dalam agenda ideologis tersebut. Dalam kerja peradaban, ideologi menjadi barang dagangan. Tinggal respons pembelinya. Apalagi gratis, langsung ambil, tanpa melihat ada racun apa tidak. Sekalipun dalam jejak sejarah, konfrontasi keduanya tak bisa dielak, namun terlalu naif ketika seorang muslim menganggap barat sebagai teman apalagi TTM (teman tapi mesra).
Zaman ini, pertarungan bukan lagi dalam bentuk perang senjata, tetapi perang identitas dan wacana. Siapa mempengaruhi siapa melalui narasi media, baik audio, visual, maupun media sosial. Modelnya sudah berada pada periode demikian. Kekalahan Islam dalam perang identitas memang disadari oleh banyak sarjana muslim, karena lemahnya penguasaan media.
Media bukan hanya informasi, tetapi tempat produksi wacana, narasi pengetahuan, visual seperti film, konten kreatif, dokumenter, aplikasi lunak dan sebagainya. Sekalipun media bukan satu satunya senjata perang terkini, tetapi untuk penyebaran ideologi, identitas politik dan citra peradaban, media sebagai senjata paling strategis melemahkan dan menghancurkan identitas sebuah masyarakat, lalu digantikan dengan identitas lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syah-Reza.jpg)