Mihrab

Tgk Akmal Abzal: Kurban Sebagai Instrumen Mendapatkan Ketaqwaan Allah

kurban bukan hanya ritual belaka sebagai tindak lanjut dari sejarah masa silam, namun kurban harus dimaknai sebagai instrumen mendapatkan taqwa Allah

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
Pimpinan LPI Al Anshar Lambaro, Tgk Akmal Abzal 

Tgk Akmal Abzal: Kurban Sebagai Instrumen Mendapatkan Ketaqwaan Allah

SERAMBINEWS.COM - Surah Al-Kautsar merupakan surah utama yang dijadikan landasan bagi umat Islam dalam menyambut 10 Dzulhijjah disetiap tahun Hijriah.

Umat Islam menyambut kedatangan 10 Dzulhijjah sebagai hari Idhul Adha atau Hari Raya Kurban.

Menurut pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD), Tgk Akmal Abzal, Idul Adha sekaligus momentum bersejarah sebagai upaya mengenang kepribadian Nabi Ibrahim sebagai orang yang tangguh, taat, ikhlas, tulus dan pemurah.

Dalam banyak referensi yang ditemui menunjukan, kemulian terhebat pernah diberikan khusus oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim dengan panggilan Khalilullah yang bermakna kekasih atau kesayangan Allah.

Hal ini sebagaimana termuat dalam surat An Nisa ayat 125.

“Bukankah kata kekasih itu identik diberikan kepada individu tertentu karena kesayangan, pengorbanan, pengabdian dan kelulusan dari tantangan dan ujian?,  Adakah Nabi Ibrahim AS memiliki dan melewati hal tersebut?,” tanya Tgk Akmal.

Baca juga: Hukum Menjual Daging Kurban, Halal atau Haram? Begini Penjelasan Buya Yahya : Hak Kita

Hanya karena Allah SWT memberi gelar Khalilullah, lanjutnya, membuat para malaikat ‘protes’ atas gelar tersebut.

“Ya Allah, mengapa Engkau memberi gelar Khalilullah kepada Ibrahim, padahal ia sibuk dengan harta dan keluarganya? Dengan demikian, bagaimana mungkin ia pantas menjadi Khalilullah?,” demikian protes malaikat.

Lalu Allah SWT menjawab, "Jangan kalian menilai secara amal lahiriahnya tapi lihatlah hati dan amal baktinya. Karena tiada di hatinya rasa cinta selain suutuhnyq kepada-Ku. Bila kalian ingin menguji, ujilah dia,” demikian tanggapan Allah kepada Malaikat.

Kemudian Malaikat berparas manusia mendatangi Nabi Ibrahim AS dan mendapatinya sedang beribadah ditengah kerumunan ternaknya di Mina.

Sesaat setelah memberikan salam, Malaikat bertanya, “Wahai Ibrahim, milik siapa domba-domba itu?"

Nabi Ibrahim kemudian menjawab, "domba-domba itu milik Allah. Aku hanya ditugaskan oleh Allah untuk menjaga dan memelihara mereka semua."

Malaikat mengujinya dengan meminta beberapa ekor domba milik Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim kemudian berkata, "jika engkau bisa menyebutkan nama Allah, ambillah sepertiga domba milikku."

Nabi Ibrahim meminta tamunya untuk mengucapkan “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (Surah Al-Hadid ayat 2).

Dan malaikat pun mengucapkan kalimat yang sama.

Nabi Ibrahim langsung berucap “sepertiga dari dombaku menjadi milikmu”.

Baca juga: 3 Golongan Orang yang Berhak Menerima Daging Kurban Saat Hari Raya Idul Adha, Siapa Saja?

Malaikat mengulang lagi narasi yang sama dan Nabi Ibrahim kembali berucap “ sepertiga kedua dombaku telah menjadi milikmu” hingga malaikat mengulang yang ketiga kalinya dan Nabi Ibrahim berkata “semua dombaku telah beralih sepenuhnya menjadi milikmu wahai tuan”.

Sesaat setelah proses pengujian itu berlangsung, akhirnya ia mengaku bahwa dirinya adalah malaikat.

Dan saat itu pula malaikat memberi kembali domba-domba tersebut kepada Nabi Ibrahim.

Namun menolak pengembalian tersebut.

Malaikat kemudian menyakinkan Nabi Ibrahim dengan sungguh-sungguh dan akhirnya menerima kembali domba-domba tersebut dengan komitmen bahwa hewan itu bukan lagi menjadi miliknya namun bersepakat menjadi hibah bagi umat dan para cucu-cucunya.

“Maka tak lama setelah itu lahirlah Nabi Ismail As dari istri tercinta Siti Hajar, dan proses penyembelihan Nabi Ismail akhirnya di tukar fisiknya oleh Allah dengan domba, dan inilah ritual kurban yang di syar’iat kepada kita sebagai anak cucunya,” jelas Tgk Akmal.

Ia mengatakan, kurban bukan hanya ritual belaka sebagai tindak lanjut dari sejarah masa silam, namun kurban harus benar-benar dimaknai sebagai instrumen mendapatkan ketaqwaan di sisi Allah sebagai pemberi rahmat dan karunia kepada kita semua. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved