Opini

Remaja Nakal Siapa yang Punya

Banyak pertanyaan hadir di benak saat melihat anak muda berusia belasan tahun bisa melakukan perbuatan keji, tega menyakiti, membuat orang lain mender

Editor: mufti
IST
Hayail Umroh 

Hayail Umroh SPsi MSi, Dosen Psikologi Keluarga Unmuha Aceh dan Duta Kesehatan Mental Dandiah Aceh

VIRAL sebuah video yang menunjukkan perbuatan tidak manusiawi yang dilakukan beberapa pelajar SMP terhadap satu orang siswa SMP yang diikat di pohon dengan kaki dan tangan juga terikat. Kemudian tubuhnya disiram air got oleh beberapa orang siswa SMP lainnya. Tidak terbayang perbuatan apa saja yang sudah dilakukan oleh beberapa pelajar tersebut selain yang terekam dalam video terhadapnya.

Banyak pertanyaan hadir di benak saat melihat anak muda berusia belasan tahun bisa melakukan perbuatan keji, tega menyakiti, membuat orang lain menderita, bahkan membunuh tanpa belas kasihan. Apa sebenarnya yang membentuk karakter mereka sedemikian rupa?

Perkembangan otak

Manusia Allah berikan akal untuk berpikir, menilai, mengevaluasi tindakan, apakah itu baik atau buruk, harus dilanjutkan atau ditunda atau bahkan memutuskan untuk tidak melakukannya, semua ini bekerja di otak. Pada remaja, otak masih terus berkembang menuju fungsi optimalnya. Perubahan dramatis pada struktur otak yang berkaitan dengan emosi, penilaian, organisasi perilaku dan kontrol diri akan berfungsi optimal menjelang usia dua puluh lima tahun.

Anak di bawah usia delapan belas tahun, menggunakan amigdala (pusat emosi/rasa) untuk mereaksi apa pun yang dialami dan dirasakannya. Sementara di usia yang lebih dewasa anak mulai belajar mereaksi dunianya menggunakan otak luhurnya yang disebut dengan prefrontal cortex, pusat bernalar, berpikir terkait dengan intuisi, emosi, penilaian, organisasi perilaku dan kontrol diri yang memungkinkan penilaiannya lebih akurat dan beralasan.

Oleh sebab itu pada remaja, perkembangan otak yang belum matang/optimal dapat membuat perasaan atau emosi mengalahkan akal sehat. Inilah alasan yang memungkinkan remaja untuk membuat pilihan yang tidak bijaksana seperti penyalahgunaan alkohol, atau narkoba, dan melakukan aktivitas merusak serta kekerasan. Ketidakmatangan otak remaja membuat beberapa remaja mengabaikan nasehat dari orang tua meski penuh dengan rayuan.

Keluarga dan lingkungan

Kematangan atau optimalnya fungsi otak remaja bernalar dan berpikir dapat distimulus, salah satunya dengan pendampingan dalam pengasuhan dari orang tua di rumah. Semisal dikenalkan dengan mana yang boleh dilakukan mana tidak, memberikan konsekuensi ketika anak melanggar kesepakatan atau berbuat buruk kepada sesama.

Keluarga adalah tempat pertama kali anak mengenal dan menerima rasa sakit dan bahagia. Dia mengenali dunia yang ditinggalinya itu indah atau tidak dari tatapan, sentuhan, nada bicara yang menentramkan atau justru menyakitkan batin dari orang tuanya. Rumah menjadi tempat pertama anak mengenal nilai dalam hidupnya.
Beranjak besar, anak mulai mengenali lingkungan baru selain rumah, yaitu sekolah. Dia mulai mempelajari, membandingkan dan mengevaluasi nilai yang didapatkan di kedua lingkungan ini, sehingga mereka sudah lebih mampu protes dan membela diri ketika mendapati nilai yang diberikan kepadanya tidak selaras dengan nilai yang dia temukan di luar rumah.

Di rumah dia dilarang untuk berkata kasar namun di sekolah dia mendapati beberapa temannya berkata kasar dan menurutnya sepertinya itu tidak buruk. Maka mulailah dia mencontoh, atau sebaliknya, di rumah dia diperlakukan kasar maka dia pun terbiasa memukul dan berkata kasar, namun ternyata hal itu dianggap buruk oleh guru juga teman-temannya. Dia mulai bingung, apa yang seharusnya dia lakukan. Anak-anak belum memahami bahwa sesuatu itu dikatakan buruk jika dia tidak mendapatkan penjelasan dan pemahaman dari orang tuanya bahwa itu buruk, begitu pun lainnya.

Di fase remaja, anak mulai menyenangi pertemanan. Ini adalah lingkungan terpenting kedua setelah rumah. Di fasenya, remaja berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya, ingin berada di kelompok yang popular, ingin diterima dan dicintai kelompoknya. Demi mendapatkan pengakuan di kelompok pertemanannya, terkadang remaja harus menjadi orang lain. Meski itu tidak nyaman baginya, terkadang dia juga harus berpura-pura menyukai temannya, menjadi patuh dan berusaha menjadi sama dengan nilai yang ada dalam kelompoknya.

Tidak heran jika ada anak remaja yang meminta dibelikan sesuatu yang juga dimiliki oleh teman sekelompoknya tanpa mengerti kondisi ekonomi orang tua hanya agar terlihat sama dengan kelompoknya. Ikut-ikutan dan tidak berani menjadi berbeda dengan kelompok adalah pilihan mutlak di usianya.

Ego kelompok

Di masa ini teman menjadi sosok yang sering kali lebih didengar daripada orang tua. Kuatnya pergolakan pemikiran dan batin pada remaja sering kali menciptakan kondisi logical fallacy atau kekeliruan dalam berpikir dan menyimpulkan, baik ucapan, peristiwa dan semacamnya. Sebab itu bisa jadi apa yang dimaksudkan baik oleh orang tua bisa dinilai buruk dan ditanggapi dengan perlakuan yang buruk pula oleh remaja.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved