Opini
Remaja Nakal Siapa yang Punya
Banyak pertanyaan hadir di benak saat melihat anak muda berusia belasan tahun bisa melakukan perbuatan keji, tega menyakiti, membuat orang lain mender
Jika di rumah dia tidak mendapatkan ruang untuk bicara, berpendapat dan kesempatan menyampaikan ketidaksukaan atau keberatannya terhadap perilaku orang tua, tidak diterima keberadaan serta masalah-masalahnya, selalu mendapatkan ucapan kasar dan merendahkan, dihancurkan harga dirinya, dilecehkan kemampuannya, komunikasi terjalin satu arah, penuh dengan suruhan, paksaan tanpa melihat anak sebagai sosok yang memiliki hak untuk berbeda pendapat.
Memilih apa yang dia suka semisal memilih warna dan model baju yang disukai, orang tua menutup telinga dari mendengarkan sisi anak, apa kesukaan dan apa maunya. Maka anak akan lebih condong kepada kelompoknya. Di sana mereka merasa senasib sepenanggungan, sehingga muncul ego bersama yang kemudian menjadi sebuah identitas, geng, dan sebagainya sehingga mudah menjadi ‘pemberontak’. Kemudian, lingkungan yang tidak kuat menjadi kontrol sosial juga dapat menambah liar perilaku negatif remaja.
Pengasuhan orang tua yang menyediakan ruang diskusi dan menjalin keakraban dengan anak dapat membantu remaja menyaring nilai mana yang harus diambil dan tidak sebagai nilai dirinya, sehingga hal itu dapat mencegah mereka untuk terpengaruh teman secara negatif dan membuat mereka terbuka terhadap berbagai pengaruh positif.
Orang tua yang sering mengajak anak bicara dari hati ke hati, mampu mengapresiasi dan menerima pendapatnya, adalah orang tua yang mau belajar untuk melihat anak-anaknya lebih jauh. Orang tua yang mau selalu “Look In”, melihat ke dalam dirinya, mengintrospeksi sebelum dikritisi oleh anak dan perilaku negatifnya.
Kehangatan keluarga perlu diciptakan, agar anak tahu ke mana mereka pergi saat masalah hidup menjajahnya. Rumah yang dipenuhi dengan hati dan jiwa-jiwa peduli, yang paham akan kebutuhan dan kesulitannya tidak akan membuat anak lari ke kelompoknya kemudian menganggap orang tua sebagai “mereka” dan mereka sebagai “kita”. Tidak ada anak-anak yang harus berkelompok, merasa senasib sepenanggungan menahan derita hati dan kebingungan yang sama sehingga sanggup dan mampu berlaku keji, curang, jahat dan tidak manusiawi kepada sesama.
Sungguh kasihan anak-anak yang telah kehilangan kendali ini. Ke mana mereka hendak pergi, sebab tak ada lagi rumah rasa rumah sebab keringnya hati dari orang yang seharusnya mencintai, ialah orang tua. Semoga kita termasuk orang tua yang mampu memberikan kehangatan dan cinta yang anak rasakan sebagai cinta, agar mereka tidak jatuh pada kelompok yang salah dan menjadi anak dengan segala kenakalan yang tidak kita harapkan. Aamiin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hayail-Umroh-PENULIS-OPINI.jpg)