Opini

Membangun Aceh Antara Dua Stigma

Menariknya dalam satu bulan terakhir  isu sentral yang dibicarakan oleh berbagai kalangan di Aceh baik di warung kopi maupun di tempat  non formal lai

Editor: mufti
ist
Dr H Munawar A Djalil MA 

Menyikapi hal ini, sebagai muslim kita akan sangat bijak dalam berkawan atau berlawan dengan mengikut Hadits Nabi: “cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi  suatu hari dia menjadi orang yang kau benci, dan bencilah kepada seseorang sewajarnya saja, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta, (H.R.  Tirmizi).

Interes politik Aceh

Adagium “hanya ada kepentingan yang abadi dalam politik” mesti diketahui oleh masyarakat, karena hal ini akan sangat membantu publik untuk memahami fenomena kondisi politik terutama di Aceh saat ini. Masyarakat tentu banyak yang bertanya-tanya terkait perubahan yang signifikan pada peta politik Aceh (kawan telah menjadi lawan).

Jika dilihat dari paradigma realisme politik, maka sikap yang diambil oleh para elite politik Aceh tersebut dapat dimaknai sebagai jalan untuk mencapai kepentingan masing-masing pihak dengan cara-cara yang menurut mereka rasional. Sekali lagi hal ini telah membuktikan kebenaran dari adagium “Tidak ada kawan atau lawan abadi di dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi”. Tidak heran prinsip abadi di dunia politik ini dari kawan berubah jadi lawan. Dulu seiring sejalan menjadi berseberangan, dulu bersatu sekarang berseteru, dulu berkoalisi kini beroposisi. Itu sudah biasa.

Fenomena perubahan sikap para elite politik tersebut, harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembelajaran dalam memahami politik praktis. Hal ini sangat penting, mengingat dinamika perpolitikan Aceh pasca perpanjangan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki, dipastikan akan terus terjadi. Perjalanannya pun masih teramat panjang, sehingga kerasnya pertarungan-pertarungan politik masih akan banyak terjadi di masa yang akan datang.

Karenanya, penulis berharap ketika masa-masa itu tiba, masyarakat secara umum sudah bisa memahami situasi politik yang terjadi agar tidak mudah terjebak pada pembentukan wacana yang sifatnya menimbulkan peluang konflik di tengah masyarakat, serta dapat menggunakan penilaian-penilaian yang objektif dan bertumpu pada kebenaran untuk dijadikan landasan dalam bersikap.

The last but not least, membangun Aceh antara dua stigma politik “kawan” maupun “lawan” agaknya akan masih terus berlaku di Aceh. Hal itu bagi penulis lazim dan tidak akan pernah jadi persoalan. Nah, ketika nanti “lawan” kembali menjadi “kawan” maka yang abadi itu adalah kepentingan yaitu kepentingan untuk bersama-sama membangun, memberikan kesejahteraan kepada rakyat dan membawa kemajuan untuk Aceh, Nanggroe jang hana phang phoe jang hana ruyang rayoe, jang hana duek troe dan jang hana saket asoe.  Nah. Allahu ‘alam.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved