Opini
Menyingkap Hakikat Kematian
"AYAH, kalau semua manusia mati, siapa lagi yang tinggal di bumi ini?" Tanya Zahid (6) dengan tatapan polosnya. "Tidak ada," Jawab saya singkat.
Syah Reza, Penggiat diskursus peradaban di Islamic Institute of Aceh
"AYAH, kalau semua manusia mati, siapa lagi yang tinggal di bumi ini?" Tanya Zahid (6) dengan tatapan polosnya. "Tidak ada," Jawab saya singkat. Hampir setiap hari mendapati pertanyaan filosofis serupa yang terkadang masuk wilayah cukup riskan untuk dijawab, "Dimana Tuhan," Bagaimana 'wajah' Tuhan," dan "Malaikat itu sebesar apa, kenapa tidak tampak? Lumayan menguras nalar untuk menjelaskan secara sederhana hal-hal ontologis demikian kepada anak pertamaku itu.
Saya sering menggiring logikanya dengan penjelasan sederhana, walaupun terkadang tampak tidak memuaskan pikirannya. Saya biarkan, akan ada masanya ia paham persoalan ketuhanan tersebut. Namun, dibandingkan semua itu, pertanyaan yang diawal itu cukup menyentak kesadaran, karena perkara itu yang sering terlupakan bagi diri saya sendiri, mungkin juga manusia umumnya yaitu tentang mati.
Persoalan mati telah dibahas oleh Alquran, hadist Nabi hingga kitab-kitab yang ditulis oleh ulama sejak periode awal Islam. Mati bukanlah tanda berakhirnya kehidupan, tetapi hanya berpindahnya ruh dari jasad menuju kehidupan selanjutnya yaitu alam kubur (barzakh).
Saat jasad terbujur kaku, terputuslah semua keinginan dan harapan manusia. Niat beribadah dan memperbaiki kondisi pupus sudah. Kematian itu sejatinya berada dalam ketetapan Tuhan yang tak bisa dihindari oleh manusia dan semua makhluk hidup. Perbedaan di antara makhluk hannyalah soal waktu dan sebab kematian. Kullu nafsin zaikatul maut (Semua yang bernyawa akan mati), demikian kata Alquran.
Esensi mati
Terkait persoalan mati, Syekh Abdurrauf Al-Fansuri (Syah Kuala) menjelaskan secara detail dalam karyanya Bayan Tajalli. Ia membagi mati pada dua hal, Mati ikhityari, yaitu matinya kesadaran seorang hamba saat larut dalam zikir kepada Allah. Sehingga ia mengalami fana.
Saat mengalami kondisi demikian, yang tampak hidup hanya Tuhan, sedang lainnya adalah mati alias fatamorgana. Sehingga kondisi fana telah menguasai akalnya. Mati ini hanya dialami oleh orang-orang yang mendapat tempat khusus di sisi Tuhan (muntahi). Sedangkan, mati idhtirari, adalah matinya jasad manusia yang telah sampai ajalnya.
Tidak ada kemampuan manusia untuk mengelak, menunda dan mengatur sebab. Sebab-sebab yang mampu dikondisikan oleh manusia adalah kebiasaannya dalam hidup, yang menentukan bagaimana ia mati.
Perkara kematian adalah rahasia Tuhan yang tidak diketahui oleh manusia. Rahasia tersebut sudah tertulis sejak awal penciptaan, saat ditiupkan ruh dalam jasad manusia. Sebelum dituliskan takdir hidup dan mati, kita dipersaksikan dengan sebuah janji transendental. Alastu birabbikum, Qalu bala syahidna, (Bukankah Aku Tuhanmu? Iya, kami Bersaksi). Sejak persaksian itu terucap oleh ruh manusia, janji itu menuju alam kenyataan (Alam Syahadah). Di sinilah Tuhan menuntut pembuktian atas janji manusia.
Hutang manusia
Berada pada alam ini, manusia menghadapi siklus kehidupan yang dihadapkan pada beragam kondisi dan rintangan. Tuhan membekali dua potensi besar manusia yaitu akal dan hati (bukan daging yang berada dekat jantung) untuk melewati dinamika tersebut. Di samping ada tugas utama yaitu menjaga konsistensi janjinya pada Tuhan sepanjang hidupnya.
Janji itu hutang, maka hutang harus ditunaikan. Bentuk Keberhutangan (dayn) manusia pada Tuhan yaitu eksistensi manusia itu sendiri yang telah diciptakan-Nya dari alam potensial (‘Ayan tsabitah) hingga nyata dalam bentuk sempurna saat ini (fi ahsani taqwim). Maka, Tuhan hanya menuntut satu hal kepada makhluk yaitu menyembah-Nya dalam bentuk ibadah yang disyariatkan. Wama Khalaqtul Jinna wal Insan illa Liya'budu.
Tujuan Tuhan menciptakan manusia dan semua alam ini, untuk beribadah kepada-Nya, tidak ada lain. Itulah hutang yang harus dilakukan oleh manusia hatta Jin hingga akhir perjalanan hidupnya di dunia. Lalu, bagaimana cara beribadah kepada-Nya?
Tuhan mengutus Nabi untuk mengajak manusia menyembah-Nya melalui Islam sebagai ad-Din, dengan Alquran sebagai pedoman hidup. Lalu cara menyembah-Nya mengikuti aturan-aturan berupa risalah yang dicontohkan Nabi. Risalah kenabian ini adalah pedoman yang menjadi landasan hukum (Tasyri') yang bersifat tetap dan wajib diikuti terutama yang terkait ibadah kepada Tuhan.
Sekalipun kita berjarak 15 Abad dengan periode Nabi, namun ajaran Islam masih terjaga secara orisinal melalui kontribusi ulama. Ulama mendapat legitimasi resmi dari Nabi sebagai pewaris ilmu darinya sepeninggal beliau (al-'ulama warasatul anbiya'). Wahyu, Nabi dan ulama, itulah adalah otoritas utama dalam Islam. Ketika otoritas tersebut dilanggar, maka di sinilah banyaknya manusia tergelincir dan melanggar janjinya pada Tuhan.
Ada dua tipologi pengingkaran manusia pada Tuhan. Kondisi umumnya terjadi, mengakui keberadaan Tuhan namun dunia dengan sifatnya yang melenakan ibarat perhiasan yang dicintai oleh perempuan, melalaikannya dari tugas beribadah (ta'abbudi).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syah-Reza.jpg)