Opini
Menyingkap Hakikat Kematian
"AYAH, kalau semua manusia mati, siapa lagi yang tinggal di bumi ini?" Tanya Zahid (6) dengan tatapan polosnya. "Tidak ada," Jawab saya singkat.
Maka, tak heran banyak manusia di penghujung zaman ini menyepelekan persoalan ibadah. Meninggalkan kewajiban utamanya sebagai hamba yaitu menyembah-Nya. Padahal, menyembah-Nya adalah hak Allah atas dirinya. Seperti kata Nabi dalam sebuah hadis, "Tahukah kamu, apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."
Beribadah dan tidak syirik pada-Nya, dua hal yang sangat esensial yang harus diemban oleh manusia. Kedua hal tersebut terkandung dalam pokok Islam, yaitu syahadat yang menjadi syarat seorang disebut Islam. Mengakui Keesaan Allah (Tauhid) dan mengakui Nabi Muhammad sebagai penyampai Risalah-Nya (Syariat). Pengakuan terakhir ini dibuktikan dengan menjalankan segala hal yang diperintahkan Nabi.
Tipologi kedua, pengingkaran adanya Tuhan (Dzat) yang dikenal dengan istilah atheisme. Seorang muslim yang mengingkari Tuhan pada level ini jelas statusnya menjadi kafir secara hakiki. Karena, ia telah mengkhianati saksinya pada awal penciptaan (Alastu birabbikum).
Bentuk pengingkaran pada aspek ini, ada beberapa model, pengingkaran pada Dzat-Nya, Sifat-Nya dan perbuatan-Nya (af'al). Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah telah menjelaskan secara detail ketiga hal itu masuk dalam kategori kufur, dengan kadarnya masing-masing.
Ingkarnya seorang muslim pada Tuhan umumnya disebabkan oleh faktor eksternal (lingkungan).
Faktor ekonomi, dan psikologis dominan mempengaruhi kontrol diri, sehingga sering melawan kehendak Tuhan. Rintangan demikian memang melekat pada dunia, dengan bentuknya yang beragam. Tujuan Tuhan menciptakan dunia sebagai ujian bagi manusia, apakah mampu menjaga konsistensinya menyembah-Nya atau menjadi makhluk ingkar? Agar mampu melewati rintangan dunia, Nabi menyuruh umatnya untuk mengingat mati, katanya, "cukuplah kematian itu sebagai pengingat (bagimu)".
Konsekuensi mengingat mati, jiwa manusia akan tunduk pada Tuhan. Memantik kesadaran dirinya sebagai hamba. Lalu, ia akan memperbaiki hubungan dengan Tuhan, menunaikan hak-hak-Nya, dan mempersiapkan bekal menuju alam kematian dengan amalan ibadah. Seorang guru sufi, Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Barang siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu; dibukakan jalan baginya bertaubat, hatinya merasa cukup (dengan dunia), dan ia akan semangat dalam beribadah. Andai saja kematian tidak ada, tentu manusia akan terus larut dalam kenikmatan dunia, hingga puncaknya ia lupa pada dirinya dan yang menciptakan-Nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syah-Reza.jpg)