Jurnalisme Warga

Cinta Terbagi di Balkoff Coffee

Untuk sarana ibadah sudah ada sejak awal pembangunan tempat ini. Selain itu, Nanda juga terus berupaya memberikan pelayanan prima kepada setiap pelang

Editor: mufti
facebook.com/cbariah
Wakil Rektor II  Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Dosen Fakutas Ekonomi Universitas Almuslim, dan Anggota FAMe Chapter Bireuen 

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Pertumbuhan penduduk  di suatu daerah sangat menentukan perkembangan perekonomian. Hal ini dapat diketahui melalui jumlah penduduk dengan kebutuhan yang diperlukan sehari-hari. Jika jumlah penduduk banyak maka kebutuhan yang beragam juga harus dapat terpenuhi.

Salah satu daerah di Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar adalah di Aceh Tengah dengan sebutan kopi gayo. Kopi dengan aneka ragam merek dapat kita temui di berbagai wilayah di Aceh,
tetapi kopi gayo dengan sensasi rasa dapat kita nikmati di tengah kebun kopi di Dataran Tinggi Gayo atau Aceh Tengah tepatnya di Seuladang Kopi.

Untuk pencinta kopi yang berada di luar Tanah Gayo tidak perlu khawatir karena hampir di setiap kabupaten di Aceh memiliki sajian kopi gayo yang  khas, nikmat, dan aromanya sungguh menggoda selera, seakan memancing siapa pun di sekitarnya untuk segera mencicipinya.

Salah satu tempat nongkrong dari berbagai usia di Kota Bireuen sambil menikmati  secangkir kopi dengan aneka rasa berbahan dasar kopi gayo adalah di Balkoff  Coffee. Kafe ini berada di sisi jalan elak masu Kota Bireuen  baik dari arah barat maupun timur. Di sisi  kanan dan kiri  jalan menuju lokasi Balkoff Coffee adalah hamparan sawah warga yang masih dikelola secara tradisional. Hal ini yang membuat Balkoff  Coffee tampil berbeda dari yang lain.

Dalam diskusi ringan bersama Nanda, ownernya, penamaan Balkoff Coffee sebenarnya adalah Balai Kopi, sehingga bentuknya juga hampir mirip balai. Suasana perkampungan begitu terasa jika kita berkunjung pada siang hari karena dapat menyaksikan orang-orang memotong padi, menyemai, dan menanamnya.

Tampilan tradisional dengan menu modern membuat siapa pun yang melintas ingin singgah dan mencicipi berbagai kuliner yang disajikan. Jejeran kursi dan meja yang senada dengan warna kayu membuat tatanan interior kafe ini seakan kita berada di kampung halaman. Apalagi dapurnya tidak jauh dari meja tamu yang berlokasi di bagian belakang kafe ini.

Saya dan keluarga juga memanfaatkan momen kebersamaan di hari libur  untuk merasakan sensasi aneka kuliner yang ada pada tabel menu yang disodorkan oleh pelayan. Kami mendapatkan tempat duduk  yang istimewa, yaitu di dekat dapur tempat pengolahan aneka makanan. Aroma masakan membuat perut terasa lapar.

Kami berkesempatan berkeliling di seputaran kafe  untuk menyaksikan secara langsung keunikan yang dimiliki oleh Balkoff Coffee. Setiap sudut ada ciri khas  tersendiri.  Di sini tersedia juga  tempat meeting berupa aula pertemuan dengan kapasitas ± 50 orang berada di lantai 2.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, sang owner, Nanda Firmanda terus berupaya membangun berbagai fasilitas pendukung,  terutama wahana permainan untuk anak-anak  sehingga ayah dan ibunya nyaman menikmati aneka sajian yang disuguhkan.

Untuk sarana ibadah sudah ada sejak awal pembangunan tempat ini. Selain itu, Nanda juga terus berupaya memberikan pelayanan prima kepada setiap pelanggannya.

Sementara itu, di bawah gedung utama tempat kami duduk, ada meja yang tak kalah istimewanya untuk para pengunjung. Ada lampu hias dengan tatanan rapi dan  indah terpasang di beberapa  meja yang berbatasan langsung dengan sawah warga.  Terbayang masa kecil dulu pada saat menangkap belalang bersama  teman-teman di tengah sawah, tanpa sadar kaki telanjang  berlari-lari di atas padi yang  baru saja dipotong secara gotong royong keluarga dibantu oleh para tetangga.

Zaman dulu tidak ada yang diupahkan, tetapi semua saling membantu dengan gotong royong bergantian giliran, keadaan ini sangat berbeda dengan sekarang.  Kemajuan bidang teknologi pertanian  mampu membantu masyarakat dengan hadirnya mesin pemotong padi, sebagaimana yang terlihat di lokasi ada sisa-sisa jerami yang terjatuh dan bekas roda mesin pemotong padi.

Kafe ini dibuka mulai pukul 09.00-22.00 WIB. Untuk kelancaran usahanya pemilik kafe dibantu oleh delapan orang karyawan dengan dua shif, yaitu  pagi dan sore. Pembagian tugas yang jelas membuat kafe ini berjalan lancar.

Aneka menu yang ditawarkan dapat kita pilih sesuai dengan  selera, tetapi tidak salah juga sesekali menikmati menu yang baru. Ada dua kelompok menu yang tersedia. Pertama, Food Menu terdiri atas dua, yaitu  rice, di antaranya nasi soto ayam, sop daging, dan nasi goreng aneka rasa. Kedua, snack  terdiri atas kentang goreng. Sedangkan di kelompok yang kedua tergabung tempe krispy dan dimsum aneka rasa. Harganya berkisar antara Rp15.000-Rp 25.000/porsi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved