Opini

Nezar Patria dan Fragmen Sejarah Damai Aceh

Nezar adalah orang pertama yang menjabat wakil menteri sejak kementerian itu berdiri setelah reformasi. Kedua, bagi Aceh, hal itu seperti menuntaskan

|
Editor: mufti
IST
Yuswardi Ali Suud, Wartawan asal Aceh, kini tinggal di Jakarta 

Usulan itu kemudian digodok lagi dan dibawa Irwandi ke Malaysia, lalu berlanjut ke markas besar pimpinan GAM di Swedia untuk dimatangkan lagi.  Proses itulah yang kemudian menjadi embrio lahirnya perdamaian Aceh. Selanjutnya, sejarah baru Aceh tercipta. MoU Helsinki 2005 membawa Aceh mengakhiri konflik bersenjata, mengubur luka  yang telah berlangsung hampir 30 tahun. Salah satu poin dari MoU Helsinki adalah Pusat setuju GAM menjadi partai lokal, sebuah keistimewaan yang tak dimiliki provinsi lain di Indonesia.

Penulis bertanya kepada Kautsar, kenapa peran Nezar dalam perundingan damai tak pernah muncul dalam berita-berita yang dikonsumsi publik, bahkan tak pula di buku yang ditulisnya sendiri. Kautsar menjawab, “Bang Nezar orang yang low profile, dia tak ingin terlihat menonjol.” Selain itu, penulis menduga, itu karena Nezar terbiasa bergerak di bawah tanah, bekerja dalam senyap sejak memimpin pergerakan mahasiswa di Yogyakarta dan Jakarta. Dia tak ingin menonjolkan diri. Seperti kata sahabat karibnya, Andi Arief di Twitter, ”Nezar selalu ikhlas bekerja.”

Tanpa banyak diketahui orang, Nezar bekerja untuk mendinginkan suasana ketika suhu politik di Aceh memanas. Masih ingat pertemuan Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf (Mualem) usai Pilkada 2017? Saat itu, pendukung keduanya yang sama-sama berasal dari GAM bersitegang. Pendukung Mualem tak terima mantan Panglima GAM itu kalah dalam perhitungan suara sementara. Penembakan dan kekerasan terhadap pendukung Irwandi terjadi di Aceh Timur dan Aceh Utara.

Dalam kondisi kritis itu, Kautsar menghubungi Nezar untuk berkonsultasi mencari jalan agar bentrokan pendukung kedua pihak tidak meluas. Jalan satu-satunya adalah mempertemukan Irwandi dan Mualem, membuat pernyataan bersama bahwa kedua pihak menerima siapa pun yang menang, lalu bahu-membahu membangun Aceh. Keduanya berbagi tugas. Kautsar melobi Mualem. Nezar melobi Irwandi.

Usai pertemuan itu, keesokan harinya koran Serambi Indonesia muncul dengan headline “Mualem-Irwandi Kini Bersatu.” Seperti sudah dirancang, keduanya membuat pernyataan siap saling mendukung siapa pun yang menang. Hasilnya, ketika Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh mengumumkan Irwandi pemenangnya, tak ada gejolak berarti di lapangan. Aceh kembali terselamatkan dari pertumpahan darah.

Begitulah Nezar Patria, memilih bekerja dalam senyap untuk Aceh, jauh dari sorot kamera. Tak juga butuh pengakuan. Ia bak pejuang yang berjalan tanpa pedang, seperti dikutip dari puisinya berjudul ‘Krueng Aceh’. Momentum demi momentum di atas menegaskan bahwa Nezar tak hanya mencatat sejarah (sebagai wartawan), tetapi juga pembuat dan pelaku sejarah bagi Aceh, juga untuk Republik.

Mencintai Aceh

Kini, Nezar membuat sejarah baru setelah dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika. Bagi Pemerintah Aceh, sudah sepatutnya melibatkan Nezar sebagai “jembatan” dalam berhubungan dengan Pemerintah Pusat, terutama terkait hal-hal yang belum selesai dalam  implementasi MoU Helsinki di samping, tentu saja, hal-hal terkait telekomunikasi yang kini menjadi tugas utamanya.

Nezar juga dikenal sebagai sosok yang berintegritas dan punya kapasitas. Sejak mengenalnya sekitar 20 tahun lalu, penulis tak pernah mendengar cerita negatif tentangnya dari orang lain. Pakar komunikasi asal Aceh almarhum Tuwanku Mirza Keumala pernah menulis tentang Nezar di laman Facebook.  Ketika Nezar dipercaya memimpin koran berbahasa Inggris The Jakarta Post, Mirza menyebutnya sebagai “penjaga suluh nalar.”

Meskipun bertugas di Jakarta, Nezar terbukti tak pernah benar-benar menjauh dari Aceh. Ini ditegaskan saat menjawab pertanyaan peserta bedah bukunya di Jakarta beberapa hari lalu yang tampaknya kecewa dengan kondisi Aceh hari ini. "Aceh harus terus kita cintai. Bahwa ada hal-hal yang tidak sesuai harapan, itu harus dimaknai sebagai dinamika perjalanan Aceh. Meskipun sekarang tidak menetap di Aceh, tapi Aceh tetap hidup dalam ingatan dan tindakan saya," kata Nezar.

Dalam puisinya berjudul ‘Krueng Aceh’ Nezar menggambarkan harapannya tentang Aceh yang damai:
 
Di Krueng Aceh, matahari mengambang
Masa lalu mengalir, kita larung dendam
Berjalan tanpa pedang
Mendaki barisan bukit
Mengapung di atas rakit
Kita terkepung di muara
Matahari dan mata air mengerjap
Ada suara rapai
meloncat dari tingkap.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved