Selasa, 28 April 2026

Opini

Peta Sejarah Pembaruan Islam Indonesia

Tokoh pelakunya disebut mujaddid. Artinya memperbaharui, atau mengembalikan Islam pada ajaran yang murni.

Editor: mufti
IST
Nab Bahany Ahmad, Budayawan, tinggal di Banda Aceh 

Saluran kedua, yang mempercepat masuknya gagasan gerakan pembaruan pemikiran Islam dari Timur Tengah ke Indonesia, adalah melalui media massa. Baik surat kabar, majalah atau lewat buku-buku dan brosur-brosur lainnya. Salah satu majalah yang paling berperan dalam mentransfer pemikiran-pemikiran pembaruan Islam ke seluruh dunia termasuk Indonesia adalah majalah “Al-‘Urwatul Wutsqa”. Majalah ini diterbitkan Jamaluddin Al-Afgani dan Muhammad Abduh saat keduanya berada dalam pengasingan di Paris.

Meski majalah itu berumur pendek, hanya sempat terbit 18 nomor, namun pengaruhnya  mendapat perhatian luas di berbagai Benua, tak hanya di negeri-negeri Islam. Dunia Barat dan tokoh-tokoh orientalis menaruh perhatian khusus terhadap isi majalah “Al-‘Urwatul Wutsqa”  ini. Sebab, isi majalah tersebut selain menyerukan bersatunya kembali umat Islam untuk berjihad melawan penjajahan Barat, juga membedah berbagai doktrin kolonialisme atas jajahannya terhadap dunia Islam.

Di Indonesia, majalah “Al-‘Urwatul Wutsqa” ini dilarang beredar oleh pemerintah Hindia Belanda. Mereka mengawal ketat agar majalah ini tidak masuk ke Indonesia. Karena isinya sangat membahayakan kedudukan Belanda di Indonesia. Namun yang namanya arus gerakan sulit dibendung, majalah “Al-‘Urwatul Wutsqa” tetap mencari salurannya masuk ke Indonesia.

KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah di Indonesia, salah seorang pelanggan tetap “Al-‘Urwatul Wutsqa” yang banyak mendapat dorongan dan inspirasi dari majalah ini yang diseludupkan masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Bahkan boleh dibilang yang mendorong Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (1912) setelah membaca tulisan-tulisan dari majalah itu.

Selain majalah “Al-‘Urwatul Wutsqa”, yang menopang arus percepatan gerakan pembaruan pemikiran Islam masuk ke Indonesia, adalah majalah Al-Jawaib dan Al-Ihsan yang diterbitkan di Istanbul. Kemudian Al-Janna, Lisanul Hal dan Samaratul Funun dari Bairut, serta Al-Wathan yang terbit Kairo. Semua majalah ini memuat gagasan Pan Islamisme dan memiliki pelanggan banyak di Indonesia ketika itu.

Menjelang abad ke-20, seseorang murid kesayangan Muhammad Abduh yaitu Muhammad Rasyid Ridha kembali mengobarkan semangat pembaruan pemikiran umat Islam di dunia, dengan menerbitkan majalah Al-Mannar di Mesir. Majalah ini dengan cepat berpengaruh besar ke seluruh dunia Islam, dari Maroko hingga Indonesia. Peredaran Al-Mannar di Indonesia harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena isi majalah ini dianggap sangat berbahaya bagi Belanda di Indonesia. Sayangnya majalah Al-Mannar ini seperti Al-‘Urwatul Wutsqa juga berumur pendek.

Organisasi Islam Arab

Tak berlebihan, kalau dikatakan yang mendorong munculnya gerakan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia saat itu hampir sepenuhnya dimotori oleh ulama-ulama keturunan Arab, terutama bagi mereka yang bermukim di Jawa dan Sumatera. Jaringan mereka dengan daerah asal lebih akrab dibandingkan hubungan pribumi. Sehingga banyak organisasi Islam yang berdiri di Indonesia digerakan oleh ulama-ulama keturunan Arab.

Seperti berdirinya organisasi Islam Al-Jam’iyatul Kahairyah (1901) di Jakarta, ini boleh dikatakan sebagai cabang dari Al-Jam’iyyatul Kahairyah yang didirikan Muhammad Abduh di Mesir 1882. Begitu pula Al-Irsyad yang didirikan Ahmad Sorkati (1915) juga merupakan pertalian dari organisasi Islam Al-Irsyad yang dipimpin oleh Muhamamad Rasyid Ridha di Mesir. Dua organisasi ini memberikan pengaruh besar bagi percepatan gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Dari organisasi Islam ini tak sedikit melahirkan kader modernis terdidik berhaluan pada gerakan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.

Sejarah mencatat, bahwa hampir setiap organisasi Islam yang berdiri di Indonesia sebelum kemerdekaan tak lepas hubungannya dengan ulama-ulama keturunan Arab Indonesia, yang memiliki jaringan langsung dengan pusat gerakan pembaruan Islam Timur Tengah. Malah di ambang kemerdekaan, peranan organisasi Islam keturunan Arab dapat dikatakan paling menentukan dalam mengatur strategi mengalahkan politik pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia.

Berdirinya organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI) tahun 1934, adalah kekuatan politik baru umat Islam Indonesia yang harus dihadapi oleh penguasa Belanda. PAI yang didirikan Abdurrahman Baswedan (Kakek Anies Baswedan) sepenuhnya dipengaruhi pemikiran Jamaluddin Al-Afgani dan Muhammad Abduh yang ingin menata kembali negara-negara Islam untuk bebas dari jajahan dan penindasan kolonial.

Karena itu, dua saham besar ulama keturunan Arab Indonesia yang tak dapat dinafikan dalam sejarah bangsa ini, adalah saham pembaruan pemikiran Islam Indonesia, dan saham perjuangan mereka bersama pribumi dalam merebut Indonesia merdeka.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved