Jurnalisme Warga
Hal yang Tak Tergantikan oleh Uang
Teungku Inong merupakan sebutan yang disematkan kepada para perempuan ulama di Provinsi Aceh. Umumnya mereka memimpin pesantren tradisional (dayah), m
Ia berkisah, saat berusia sepuluh tahun, dia masih menemukan banyak kehadiran burung ‘toktok beuragoe’ yang khas dengan bunyi pelatuknya. Menurut Ummi Zalikha, kini burung tersebut sudah semakin sulit ditemukan keberadaannya.
Terkait semakin tingginya rasio kepunahan burung khas daerah ini, Ummi Rahimun turut menjejali sesi diskusi seru tersebut dengan pengalamannya. “Burung enggang biasa saya sebut Ak-Ak. Jika dia berkicau di pagi hari, itu tandanya anak-anak sudah harus bersiap berangkat ke sekolah.”
Kenangan keakraban tersebut jelas mencerminkan betapa hubungan timbal balik antara satwa liar dan masyarakat Aceh pernah terjalin begitu intens.
Sejalan dengan cerita tersebut, Ummi Hanisah dalam sesi diskusi turut mempertegas bagaimana keterkaitan hubungan antara manusia dengan alam semesta benar adanya. Dia memaparkan, “Kalau kita tidak menggangu satwa maka mereka pun akan menjaga kita. Saat kita tidak bersahabat lagi dengan alam, maka bencana yang merugikan kita bisa terjadi. Sebab, kita memiliki keterikatan emosional terhadap satwa dan alam sekitar.”
Pernyataan terkait efek jera dari kepunahan satwa sekaligus kerusakan alam itu turut disetujui oleh peserta lainnya. “Kelak generasi kita tidak dapat lagi belajar langsung dari alam. Mereka hanya bisa belajar lewat internet atau buku bergambar,” papar Teungku Masyitah asal Aceh Timur, gundah.
Dia menjelaskan bahwa perilaku dan gaya hidup masyarakat yang tidak melestarikan lingkungan demi kepentingan pribadi mesti diganti. Sebab, penjagaan alam harus dilakukan bersama-sama.
Memugar rasa
“Kami memanggil gajah dengan sebutan ‘datok’. Dulu masyarakat tidak takut gajah karena tidak mengganggu gajah. Namun, sekarang banyak sekali masyarakat membuka lahan di habitat atau di koridor gajah. Hal tersebut merusak habitatnya.”
Jelas Ummi Lia membeberkan fenomena terkini yang terjadi di wilayah Tamiang.
Hilangnya kepekaan rasa akan hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta diduga para peserta menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kejahatan terhadap satwa.
Selain itu, faktor ekonomi, ketidaktahuan, dan keserakahan menjadi alasan tambahan terjadinya perburuan dan perdagangan satwa liar yang semestinya dilindungi.
“Saya punya hubungan emosional dengan harimau. Dulu, orang tua saya memiliki harimau penjaga, rimueng itam (harimau hitam). Waktu kecil, mereka sering memberi makanan harimau tersebut,” kisah Ummi Rahimum memaparkan keakraban yang terjalin antara masyarakat Aceh dahulu dengan satwa liar di sekitar mereka.
Selayaknya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41 yang berisikan larangan bagi manusia untuk merusak Bumi. Maka, sudah seharusnya masyarakat Aceh, Indonesia, bahkan dunia memahami pentingnya mempunyai keterhubungan rasa terhadap eksistensi alam semesta beserta isinya.
“Rasa sekarang ini sudah jarang di masyarakat, sebab kebanyakan orang hanya mengedepankan logika dan teknologi. Semoga kita kembali sadar untuk memiliki keterikatan rasa terhadap segala ciptaan Allah. Sebagai khalifah, mari kita junjung tinggi perintah Allah untuk menjaga alam dan seluruh isinya,” harap Ummi Rahimun mewakili MPU Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AYU-ULYA-Koordinator-Perempuan-Peduli-Leuser-dan-Anggota-AJI-Banda-Aceh.jpg)