Opini

Memilih Pemimpin dalam Perspektif Islam

PERLAHAN tapi pasti aura pesta demokrasi Indonesia mulai berdenyut. Spanduk para caleg satu per satu mulai  bermunculan. Media sosial pun tidak luput 

Editor: mufti
IST
Dr Abd Wahid MAg, Dosen Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Dr Abd Wahid MAg, Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

PERLAHAN tapi pasti aura pesta demokrasi Indonesia mulai berdenyut. Spanduk para caleg satu per satu mulai  bermunculan. Media sosial pun tidak luput dari  ajakan dan seruan memilih para Caleg. Di berbagai persimpangan pun mulai terpasang baliho dalam berbagai ukuran, dengan berbagai gaya bahasa penyampaian. Masyarakat dituntut untuk lebih dewasa, cerdas dalam menentukan pilihan.

Di samping itu, juga setiap Muslim dituntut untuk selalu mengukur kebenaran dalam memilih dengan petunjuk agama, baik perintah Allah dalam kitab suci-Nya, titah Rasul melalui sunnahnya serta  petunjuk para ulama, agar terhindar dari kriteria yang mendekati kepada dosa atau tidak sempurna mengamalkan agama (syariat) secara kaffah (totalitas).

Dalam situasi politik yang kian dinamis, pemilihan pemimpin menjadi momen yang krusial bagi perkembangan suatu bangsa, termasuk Indonesia. Belakangan ini, fenomena politik uang semakin merajalela dan mempengaruhi keputusan banyak orang dalam memilih pemimpinnya. Menyadari hal ini, kita perlu kembali merujuk pada petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw dalam memilih pemimpin, yang relevan untuk membentuk tatanan sosial yang adil dan bermartabat.

Menurut hadis, pemimpin yang ideal adalah mereka yang memiliki akhlak mulia, integritas, dan kebijaksanaan. Mereka bukanlah orang yang mengejar kekuasaan semata, melainkan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Politik uang sejatinya bertentangan dengan prinsip ini, karena cenderung memprioritaskan kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Hadis Nabi juga menyebutkan bahwa seseorang yang dipilih menjadi pemimpin adalah mereka yang mampu mengemban amanah dengan baik. Dalam konteks ini, amanah berarti tanggung jawab besar untuk melayani masyarakat dan melindungi hak-hak mereka. Politik uang merusak konsep amanah ini, karena memaksa pemimpin untuk memprioritaskan kepentingan pemberi suap dibandingkan dengan kepentingan masyarakat.

Lebih lanjut, politik uang bisa merusak keadilan sosial, sesuatu yang sangat ditekankan dalam Hadis Nabi. Pemimpin yang dipilih berdasarkan politik uang, bukan atas dasar kemampuan dan integritas, akan cenderung membuat keputusan yang tidak adil dan tidak berpihak pada rakyat kecil. Ini adalah situasi yang harus kita hindari.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merenung dan memahami petunjuk yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw dalam memilih pemimpin. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita dapat membantu mencegah praktik politik uang dan memastikan bahwa pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang mampu memimpin dengan adil dan bijaksana, demi kebaikan bersama.

Pelayan rakyat

Dalam Islam, pemilihan pemimpin atau orang yang akan mengatur urusan umum dan individu adalah masalah penting dan serius. Menurut hadis Nabi Muhammad saw, "Seorang pemimpin adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas pengurusannya." (HR. Bukhari). Ini menunjukkan betapa pentingnya peran pemimpin dalam Islam dan bahwa mereka harus bertanggung jawab atas tindakan mereka dan keputusan mereka.

Hadis lainnya menunjukkan kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam Hadis riwayat Abu Dawud, Nabi SAW bersabda: "Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian untuk keluargaku."Dalam konteks ini, kata 'keluarga' bisa ditafsirkan sebagai 'rakyat' atau 'orang yang dipimpin', menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang bertindak untuk kepentingan terbaik orang-orang yang mereka pimpin.

Selain itu, Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim mengingatkan tentang pemilihan pemimpin yang tidak adil atau korup. "Seorang pemimpin yang memimpin umat Islam, tetapi tidak berusaha (ikhlas) dan memberikan nasihat, maka dia tidak akan memasuki surga bersama mereka." Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin harus adil, jujur, dan tulus dalam tindakan dan keputusan mereka, dan mereka harus selalu bekerja untuk kepentingan rakyat.

Pada hadis lainnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda, "Seorang pemimpin adalah pelayan rakyatnya". Hadis ini memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin tidak boleh sombong atau memandang dirinya lebih baik dari orang lain, tetapi sebaliknya mereka harus merendahkan diri dan melayani rakyatnya.

Dari hadis-hadis Nabi tersebut menunjukkan bahwa pemilihan pemimpin dalam Islam adalah masalah serius dan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas moral dan etika. Seorang pemimpin harus bertanggung jawab, adil, tulus, dan harus berusaha untuk kepentingan terbaik rakyatnya. Seorang pemimpin juga harus merendahkan diri dan melayani rakyatnya, bukan mendominasi atau memperkaya diri sendiri. Kualitas-kualitas ini adalah esensi kepemimpinan dalam Islam dan harus dipertimbangkan saat memilih pemimpin.

Akibat salah pilih

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved