Opini

Memilih Pemimpin dalam Perspektif Islam

PERLAHAN tapi pasti aura pesta demokrasi Indonesia mulai berdenyut. Spanduk para caleg satu per satu mulai  bermunculan. Media sosial pun tidak luput 

Editor: mufti
IST
Dr Abd Wahid MAg, Dosen Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Memilih pemimpin merupakan tindakan yang memiliki konsekuensi luas dan berdampak jauh melebihi diri kita sendiri. Hadis Nabi memberikan panduan yang berharga tentang bagaimana memilih pemimpin yang tepat dan bagaimana menghindari jatuh ke dalam dosa dan maksiat. Nabi Muhammad saw mengingatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya." Ini menunjukkan bahwa tindakan kita dalam memilih pemimpin bukanlah hal yang sepele, tetapi adalah tanggung jawab yang serius.

Sejalan dengan hal tersebut, kita harus berusaha untuk menghindari memilih pemimpin yang mungkin menuntun kita ke arah maksiat dan dosa. Seorang pemimpin yang buruk bisa mempengaruhi masyarakatnya dan membawa mereka ke jalan yang salah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak akan memandang hamba-Nya yang memilih pemimpin yang tidak adil dan dia tahu itu."

Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa pemimpin yang kita pilih adalah mereka yang adil dan tulus. Dengan kata lain, memilih pemimpin atau wakil rakyat, bukan karena orang terdekat, seperti saudara, teman, tetangga, satu kampung dan sebagainya.

Perlu diingat, pemilihan pemimpin bukanlah sekadar ajang pesta demokrasi. Ia adalah suatu amanah yang harus kita jalankan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Janganlah kita terburu-buru dan terpengaruh oleh euforia semata. Kita harus menghindari perbuatan dosa dalam memilih pemimpin, entah itu memilih berdasarkan uang, tekanan, atau hanya berdasarkan simpati belaka.

Mengapa begitu? Karena pemimpin adalah cerminan dari masyarakatnya. Jika kita salah memilih pemimpin, dampaknya akan kita rasakan sendiri. Kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, pembangunan yang tidak merata, dan bahkan bisa jadi kondisi ekonomi dan sosial kita akan terpuruk.  Efek salah pilih pemimpin akan kita rasakan bukan satu dua hari, tetapi satu periode kepemimpinan tentunya. Maka dari itu, kita harus objektif dalam memilih pemimpin.

Cobalah untuk melihat calon pemimpin dari berbagai sisi. Lihatlah track record mereka, utamanya apakah ia seorang yang taat beragama, apa yang telah mereka capai selama ini, bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat, apa visi dan misi mereka, dan apakah mereka memiliki integritas dan kejujuran dalam bertindak. Jangan hanya terpaku pada janji-janji manis yang mereka ucapkan semata. Tetapi lihatlah bukti nyata dari apa yang mereka lakukan.

Jadikanlah pemilihan pemimpin ini sebagai ajang pembelajaran bagi kita semua. Mari kita belajar untuk lebih objektif, untuk lebih kritis, dan untuk lebih bijaksana dalam membuat pilihan. Hal yang tidak kalah penting  adalah unsur kesabaran kita dalam memilih pemimpin.

Mari kita belajar untuk bersabar, dalam arti menahan diri untuk tidak terpengaruh dalam memilih pemimpin yang salah.  Karena sabar bukan hanya ketika datang musibah, tetapi juga kita praktikkan untuk menahan diri dari hal yang dilarang agama termasuk memilih  pemimpin yang salah.

Kita harus berpikir sekali lagi sebelum menentukan pilihan, termasuk pada detik-detik akhir dalam bilik suara. Sekali lagi janganlah kita terjebak dalam dosa karena salah memilih pemimpin. Jadikanlah pesta demokrasi sebagai titik awal kita berbuat untuk bangsa, meski awalnya terasa kecil dan sepele. Hendaknya kita bisa menjadikan pesta demokrasi ini sebagai langkah awal kita untuk menjadi masyarakat yang lebih baik, yang lebih bijaksana, dan yang lebih bertanggung jawab.

Dengan cara ini, insya Allah kita dapat memastikan bahwa pemimpin yang kita pilih adalah pemimpin yang terbaik untuk kita, untuk masyarakat, dan untuk generasi yang akan datang. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved