Jurnalisme Warga
Perempuan Aceh dalam Pusaran Tiga Fase Kritis
PEREMPUAN Aceh selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Terutama yang berkaitan dengan peran-peran mereka di ruang publik. Peranan dan ket
Apa yang disampaikan Nurjannah selaras dengan yang sebelumnya disampaikan Illiza, yakni ketika perempuan berdiri sebagai pemimpin, mereka tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Entah itu di lingkup keluarga maupun masyarakat. Pengalaman Illiza di pemerintahan misalnya, pelibatan perempuan dalam pembangunan telah memunculkan kembali semangat gotong royong di masyarakat yang sempat redup akibat adanya cash for work setelah tsunami.
“Perempuan itu ketika diberi kesempatan, seperti pelatihan tentang siaga bencana, mereka akan bercerita kepada yang lain sehingga pengetahuan ini menyebar, dan itu diimplementasikan,” cerita Illiza.
Melengkapi semua cerita itu, Khairani Arifin menjelaskan bahwa di masa-masa kritis itu, perempuan Aceh, khususnya aktivis perempuan, hadir untuk melakukan kerja-kerja pendampingan maupun pengorganisasian. Hasilnya, fasilitas atau bantuan yang disalurkan untuk korban konflik atau tsunami diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu berdasarkan jenis kelamin. Misalnya, letak dan bentuk toilet yang lebih ramah pada perempuan.
Di masa konflik, ketika laki-laki kian terjepit oleh situasi keamanan, perempuan Aceh hadir sebagai tameng pelindung. “Misalnya, di masjid-masjid yang dijadikan sebagai lokasi pengungsian, laki-lakinya tidur di dalam masjid, tetapi yang perempuan tidur di luar. Inilah bentuk perlindungan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Aceh kepada laki-laki.”
Siasat-siasat kecil dilakukan perempuan agar bisa menjalankan misi-misi kemanusiaan di lapangan. Khairani sendiri punya dua KTP pada saat itu. Satu dengan identitas pegawai negeri sipil, satunya lagi sebagai ibu rumah tangga. Namun, itu juga tak menjamin keselamatannya sehingga ia pernah merasakan ditangkap oleh kedua pihak yang berkonflik.
Di kampung-kampung, siasa-siasat ini juga kerap dilakukan oleh perempuan untuk melindungi ayah, suami, anak, atau kerabat lelaki mereka dari tuduhan-tuduhan tak berdasar. Yang punya kerabat dari kalangan TNI/Polri maka foto mereka akan dicetak besar-besar dan dibingkai serta dipajang di ruang tamu. Di lain waktu, jika para lelaki itu sudah berpapasan dengan aparat dan tak bisa menghindar lagi, perempuan-perempuan Aceh akan mengatakan mereka “hana paih” alias terganggu mentalnya. Orang yang “hana paih” tentu tidak bisa diinterogasi, kira-kira seperti itulah harapannya.
Perempuan Aceh akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan keluarga dan masyarakatnya. Persis seperti apa yang dilakukan Wina melalui aktivitasnya sebagai penyair dan budayawan. Baik di masa konflik maupun ketika tsunami, puisi-puisi Wina telah menembusi banyak relung jiwa manusia. Begitulah ketahanan komunal terbentuk, adakalanya lewat syair-syair puisi yang menggugah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/IHAN-NURDIN.jpg)