Kupi Beungoh
Fitnah Buzzer dan Serangan Balik Mafia Tramadol
kasus pembunuhan yang diawali dengan penyiksaan oleh Praka Riswandi Manik terhadap seorang warga Bireun, almarhum Imam Masykur
Salah satu orang yang menyerang saya dengan fitnah dan sangat jahat adalah seorang yang bernama MI alias AL (Penulis menulis nama lengkap dan alias, atas pertimbangan tertentu diinisialkan oleh redaksi Serambinews.com).
AL adalah seorang selegram asal Sawang, Aceh Utara yang sekarang terdeteksi oleh kawan-kawan saya di kepolisian, berada di Denpasar Utara, Bali (penulis menulis alamat desa dan kecamatan-red).
Dia menjadi buzzer yang dibayar oleh pihak-pihak yang tidak menyukai upaya saya membongkar jaringan Tramadol ini.
Dari rekam jejaknya jelas saya tahu siapa yang sedang memperkerjakan dia.
Dua konten AL yang menyerang saya ini dengan cepat menyebar di media sosial.
Orang yang sudah kenal dengan saya pasti tidak percaya dengan fitnah AL ini, tapi orang-orang di desa yang tidak kenal saya?
Bisa jadi mereka percaya dan mengambil kesimpulan sendiri-sendiri sesuai kemampuan pikir masing-masing.
Itu jelas akan merugikan integritas dan moralitas yang sudah dengan susah payah saya bangun dari waktu yang sangat lama.
Awalnya, saya tidak peduli dengan kedua konten fitnah AL ini.
Baca juga: Sosok Letjen Nono Sampono, Eks Komandan Paspampres Sebut Kejanggalan Kasus 3 TNI Bunuh Imam Masykur
Bagi saya anak ini seperti orang 'mumang' yang sedang mengais rezeki, mencari eksistensi diri dengan sensasi murahan dengan cara menfitnah dan memaki-maki orang atau dalam istilah Aceh dikenal dengan istilah 'teumeunak".
Saya boleh menggagap ini sampah saja, tapi pihak keluarga dan sahabat-sahabat tidak terima saya dikatakan seperti itu.
Apalagi sebelumnya ada info dia juga sering berkata kasar kepada para ulama dan tokoh masyarakat lainnya dengan bahasa Aceh yang sangat jorok dan tidak pantas.
Saya sebagai orang yang dari kecil dididik agama secara ketat, budi pekerti, sopan santun dan pentingnya mengedepakan attitude dan akhlakul karimah mendengar ini bukan sekedar marah tapi saya juga sedih dan kecewa.
Kenapa generasi muda Aceh yang berada dalam suatu wilayah yang menjalankan syariat Islam bisa melahirkan generasi 'busuk' seperti ini?
Oleh karena itu agar tidak menjalar kepada yang lain serta untuk memberikan pelajaran agar hal ini tidak terulang lagi, saya telah menunjuk beberapa kawan pengacara untuk membawa kasus ini ke jalur hukum.
Baca juga: Efek Tramadol tak Main-main, Dokter Spesialis: Bisa Bikin Depresi Napas hingga Meninggal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sayed-Muhammad-Muliady-SH_Advokat_Anggota-Komisi-III-DPRRI-periode-2009-2014_.jpg)