Senin, 27 April 2026

Kupi Beungoh

Fitnah Buzzer dan Serangan Balik Mafia Tramadol

kasus pembunuhan yang diawali dengan penyiksaan oleh Praka Riswandi Manik terhadap seorang warga Bireun, almarhum Imam Masykur

|
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Sayed Muhammad Muliady, S.H adalah Advokat dan Anggota Komisi III DPRRI periode 2009-2014 

Oleh: H. Sayed Muhammad Muliady, S.H*)

Tidak lebih dari tiga jam setelah tulisan saya soal mafia Tramadol rilis di rubrik 'Kupi Beungoh' di Serambinews.com pada hari Senin 28 Agustus 2023.

Pihak Puspom Jaya juga sudah mulai memberikan penjelasan awal soal latar belakang kasus pembunuhan yang diawali dengan penyiksaan oleh Praka Riswandi Manik terhadap seorang warga Bireun, almarhum Imam Masykur adalah bermotif dan berlatar belakang penjualan obat-obatan illegal.

Penjelasan Pomdam Jaya tersebut sejalan dengan tulisan saya di rubrik Kupi Beungoh Serambinews.com sebelumnya.

Tidak perlu waktu lama tulisan saya ini menyebar hampir ke seantreo tanah air, televisi dan koran nasional dan lokal serta media sosial ramai mengutip dan membicarakan soal #Tramadol.

Di warung-warung kopi hampir di senatreo Aceh kata #Tramadol ini menjadi pembicaraan dan Trending Topic.

Baca juga: Mafia Tramadol dan Nama Baik Aceh

Bahkan link tulisan saya yang diolah kembali dalam bentuk narasi berita oleh Serambinews.com yang tergabung dalam Tribun Network sampai hari ini sudah ditonton hampir 300.000 orang.

Tulisan itu bahkan menjadi referensi dimana-mana.

Orang yang selama ini 'tidur' atau tidak perduli terhadap masalah dan bahaya #Tramadol ini tiba-tiba tersadar kalau ada masalah besar di depan mata.

Tulisan saya tersebut menimbulkan banyak dukungan terutama dari tokoh dan orang-orang Aceh yang selama ini bermukim di Jakarta dan sekitarnya yang sudah sangat malu dan muak dengan masalah ini.

Tapi ada juga yang kontra terutama kepada pihak-pihak yang selama ini diduga mengambil keuntungan dan manfaat dari penjualan gelap #Tramadol ini.

Akun akun facebook dan TikTok yang dikendalikan oleh para buzzer mulai menyerang saya.

Awalnya mereka hanya menuduh kalau saya hanya kurang empati kepada keluarga korban.

Kenapa cepat sekali mengungkap motif di saat masih masa duka?

Bahasa ini seragam di kalangan mereka, bahkan ada salah satu 'tokoh' yang saya duga dekat dengan para 'mafia' Tramadol ini mencoba terus menerus menghubungi saya via telepon dan WhatsApp untuk tidak bicara lagi soal Tramadol.

Baca juga: Kisah Wartawan Kompas Pernah Ditawari Tramadol di Tanah Abang: Mereka Sebut Dodol, Harganya Segini

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved