Senin, 25 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Perlawanan terahadap Marsose Belanda di Gampong Bucue

TAHUN  1326 Hijriah selesailah disalin Hikayat Muda Belia oleh Teungku (Tgk) Ibrahim di tempat persembunyiannya di dalam rumpun bambu.  Lokasinya di L

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T A SAKTI, penerima Kehati Award 2001 dari Yayasan Keanekaragaman Kehidupan Hayati Indonesia (Kehati) Jakarta, melaporkan dari Dusun Lamnyong, Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh 

Tgk Di Tanjong turut bersama masyarakat mencari sumber suara tersebut. Beliau tampak tidak gusar sebagaimana warga lainnya. Sesampai di pinggir persawahan (Aceh: bineh blang), telunjuk tangannya diarahkan ke sumber suara gemuruh sambil berkata: Nyan su kapai teureubang (Itu suara pesawat terbang). Ternyata, tujuh buah kapal terbang melintas di angkasa Gampong Bucue, yang   yang belum pernah dilihat warga Bucue selama ini.

Sejak berada di Betawi,  Tgk Di Tanjong  telah berkali-kali mendengar suara serupa. Menyimak penjelasan Tgk Di Tanjong, barulah warga Bucue merasa aman dan tenang kembali. Sejak itu, beliau semakin dihormati masyarakat Bucue.

Pahlawan kedua yang menjadi warga Gampong Bucue adalah Pang Hab  Keumire (Panglima  Abdul Wahab). Beliau berasal dari Keumire, Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Ia kawin dengan Aisyah, warga kampung saya.  Putranya kelahiran Bucue bernama Hasballah (Tgk Aceh), yang masih hidup sampai sekarang. Baru-baru ini Tgk Aceh jatuh dari loteng  rumah orang yang sedang diperbaikinya. Ia terbaring sakit di rumah dan  belum dapat bertukang lagi.

Riwayat hidup Pang Hab puluhan tahun ‘misterius’ bagi saya, barulah terang benderang pada minggu pertama bulan Februari 1993, setelah membaca artikel yang ditulis Prof Ali Hasjmy di Harian Serambi  Indonesia  yang berjudul: Pang Hab, Panglima Perang Aceh di Tiga Zaman.

Pang Hab ialah salah seorang panglima dari para Uleebalang (komandan  batalion) dalam lingkungan Sagoe/Kawom (Divisi  XXII Mukim yang Panglima Sagoenya bergelar Panglima Polem Sri Muda Perkasa).
Beberapa komandan batalion  lain yang sezaman dengan Pang Hab dan juga anak buah Panglima Polem Sri Muda Perkasa  adalah Pang Raden (Pan Den), Pang Husin (Pang  Usen), dan Pang Abbas (Pang Abah, yakni kakek Prof Ali Hasjmy).

Dari ketiga panglima ini, hanya Pang Hab-lah yang masih hidup sampai zaman Indonesia merdeka dan mendapat Piagam Tanda Kehormatan dan Bintang Jasa dari Presiden Republik Indonesia, Soekarno.
Atas nama Presiden Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1961, Gubernur/Kepala Daerah Istimewa Aceh, Ali Hasjmy  menyerahkan Piagam Tanda Kehormatan dan Menyematkan Bintang Tanda Jasa pada dada Pahlawan Tiga Zaman, Pang Hab Keumire itu. Penjelasan  Prof A. Hasjmy  nyaris  lengkap. Termasuk keterangan bahwa  Pang Hab sempat berjuang lagi untuk mengusir Belanda menjelang kedatangan Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI (1945), Pang Hab menggabungkan diri dalam Barisan Mujahidin untuk bertempur melawan Belanda di Medan Area, Sumatera Utara. Ya, demikianlah kisahnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved