Opini

Waspada, Sinetron Politik 2024

ADA yang menarik dari sebuah sinetron, meskipun penonton sudah tahu kalau itu sandiwara, namun masih saja ada yang terbawa emosional bahkan menangis s

Editor: mufti
IST
M Anzaikhan S Fil I MAg, Dosen Fakultas Syariah IAIN Langsa dan Founder Pematik 

Sebaliknya, jika seorang pejabat ingin tahu mana temannya yang tulus, lihatlah dimana di antara mereka yang tidak ambisi untuk menjabat. Lebih tepat lagi, lihatlah mereka yang masih mau ‘ngopi’ saat seorang pejabat telah kehilangan posisinya.

Orang-orang ini adalah yang sangat mulia, mau mendengar keluh-kesah pejabat yang lengser, meskipun ia tau, tidak ada apa pun yang diharap selain membantu mengobati luka. Masalahnya, sering kali teman seperti ini, diketahui belakangan. Adapun yang lebih tampak, adalah mereka yang suka menjilat dan menempel ke pejabat.

Politik dalam Islam

Pada konsep Islam, politik tidak boleh lebih tinggi dari agamanya. Artinya, jika ingin berpolitik, maka berpolitiklah untuk agama, bukan beragama untuk politik. Kenyataannya, sering kali agama yang dijadikan alat politik. Buktinya, sangat banyak oknum politik yang menjual nilai-nilai agama seolah merekalah yang memiliki tiket surga dan neraka.

Dalam Islam, politik dijalankan demi kepentingan umat. Senada dengan sebuah slogan; “Kebaikan yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Kebaikan (jika sendiri) maka ia lemah, dengan berkelompok maka mereka dapat menebar kebaikan secara kaffah.

Sayangnya, sangat jarang yang mengimplementasikan politik secara islami. Justru nilai-nilai Islam disalahartikan belakangan ini dalam politik nasional. Politik, jika membawa embel-embel Islam, seolah dekat dengan radikalisme, dekat dengan pembangkangan. Padahal, hanya segelintir oknum yang salah, namun Islam secara general yang terkena imbasnya.

Menurut perspektif Islam, memilih calon pemimpin yang baik dapat dilihat dalam berbagai aspek. Pertama, pilihlah kandidat yang ditunjuk bukan menunjuk. Kandidat yang ditunjuk, membuktikan bahwa ia dipercayakan oleh umat. Adapun yang menunjukkan diri (mencalonkan diri) adalah mereka yang ambisi dengan jabatan.

Kedua, pilihlah kandidat yang realistis dalam berbuat janji. Orang jujur, tidak akan mudah menawarkan janji palsu. Berbeda dengan kandidat yang ambisi, mereka mampu menjanjikan apa saja meskipun mustahil diwujudkan.

Ketiga, pilihlah kandidat yang berada di Tengah-tengah umat. Artinya, kandidat tersebut adalah sosok yang memang sudah ada dan nyata kebaikannya bahkan sebelum menjadi calon pemimpin. Jangan terpengaruh dengan sosok yang ‘mendadak saleh’, karena sesuatu yang mendadak biasanya tidak tahan lama.

Keempat, pilihlah kandidat yang gemar melihat ke bawah bukan ke atas. Artinya, sosok ini suka membantu orang yang kesulitan, bukan mereka yang sibuk melihat pejabat yang lebih tinggi lagi.

Terakhir, lihatlah kandidat yang fokus dengan program sosial melalui jabatannya, bukan mereka yang memperbanyak aset (usaha) dengan jabatannya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved