Opini

Hamas, Nightmare untuk Israel

PADA tanggal 7 Oktober 2023, Kelompok Pejuang Hamas melancarkan serangan besar-besaran terhadap Israel melalui Jalur Gaza. Hamas menyebut operasi ini

Editor: mufti
IST
Rizqan Kamil, Analis politik di Saman Strategic Indonesia 

Rizqan Kamil, Analis politik di Saman Strategic Indonesia

PADA tanggal 7 Oktober 2023, Kelompok Pejuang Hamas melancarkan serangan besar-besaran terhadap Israel melalui Jalur Gaza. Hamas menyebut operasi ini sebagai Operation Al-Aqsa Flood. Sedangkan Serangan balasan Israel dinamakan Operation Iron Swords. Perang terbaru ini merupakan titik kritis dalam konflik Israel-Palestina dan konflik Gaza-Israel, yang terjadi setelah tahun-tahun kekerasan yang ditandai dengan meningkatnya perluasan permukiman dan kekerasan Israel terhadap warga sipil Palestina.

Serangan dimulai pada pagi hari sekitar pukul 6.30 waktu setempat. Menurut Israel, diperkirakan 2.200 roket ditembakkan ke arah Israel selatan dan tengah, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem. Sementara Hamas mengklaim setidaknya 5.000 roket ditembakkan, semuanya mendarat di Israel selatan dan tengah. Hamas juga berhasil menerobos penghalang Gaza-Israel dan menerobos penyeberangan perbatasan Gaza, masuk hingga jarak terjauh mencapai 25 km ke kota Ofakim.

Pukul 10.30 jet tempur Israel melancarkan serangan balasan di Gaza. Target serangan pertama Israel adalah bangunan bertingkat tinggi dan Masjid Al-Sousi di Kota Gaza. Tepat pukul 11.00, Gedung Putih mengumumkan bahwa Joe Biden selaku Presiden Amerika Serikat telah berbicara dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel— “mengutuk” serangan Hamas terhadap Israel. Berlanjut sekitar pukul 11:30, Netanyahu membuat pernyataan resmi pertamanya ke publik, “Ini bukan apa yang disebut operasi militer, bukan pertempuran lagi, tapi perang”.

Pada malam harinya Hamas melancarkan serangan lain sekitar 150 roket ke arah Israel, dengan ledakan dilaporkan terjadi di Yavne, Givatayim, Bat Yam, Beit Dagan, Tel Aviv, dan Rishon Lezion. Serangan ini diikuti oleh serangan roket lainnya pada pagi hari tanggal 8 Oktober di Ashkelon. Hamas juga menembakkan 100 roket ke Sderot. Pada tanggal 9 Oktober, Hamas kembali melancarkan serangan ke arah Tel Aviv dan Yerusalem, dengan satu roket mendarat di dekat terminal Bandara Ben-Gurion.

Momentum dan target

Serangan besar-besaran yang dilakukan Hamas menunjukkan bahwa kelompok tersebut mengetahui bahwa perang yang akan datang mungkin bersifat eksistensial. Hamas diperkirakan berusaha memulai perang habis-habisan dengan Israel, dengan estimasi dukungan teritori, negara kawasan, beserta sekutunya. Dari estimasi teritori, Hamas melihat Gaza, Yerusalem, Tepi Barat, warga Arab Israel, serta Lebanon selatan berpotensi mendukung eksistensi penyerangan. Ditambah senior Hamas, Saleh al-Arouri, mengatakan bahwa Hamas siap menghadapi “skenario terburuk, termasuk invasi darat.”

Momentum lainnya adalah melihat negara Barat yang menyatakan fokus invasi ke Ukraina, namun eskalasi serangan yang stagnan dan kewalahan menghadapi Rusia. Baik AS dan Uni-Eropa telah menguras biaya hingga €200 miliar untuk membantu Ukraina. Dampak invasi Ukraina ini juga berimbas pada ekonomi negara-negara Barat, misalnya terjadinya inflasi tinggi di AS dan Eropa. Hamas menelaah momen-momen seperti ini tidak akan terulang dua kali.

Sampai batas tertentu, Hamas dianggap berhasil mencapai tujuannya untuk mengembalikan perhatian pada perjuangan Palestina. Hamas juga mencoba untuk menghancurkan persepsi apa pun tentang kemampuan militernya. Taktik kejutan yang dilakukan, menawan lebih dari 100 orang warga Israel, terbaru 10 warga Italia sebagai upaya pertukaran tahanan. Dalam situasi tawanan sebelumnya, Israel menukar lebih dari 1.000 tahanan dengan satu sandera Israel. Persiapan pertukaran sandera memastikan bahwa “ini bukanlah aksi militer jangka pendek."

Sebagai bagian dari taktik melawan Israel, Hamas juga memproduksi video propaganda yang mendokumentasikan serangannya terhadap Israel step by step. Dalam beberapa video, para militansi Hamas mengenakan kamera aksi untuk merekam operasi tersebut saat mereka menerobos pos-pos Israel dengan aksi komando yang sangat rapi. Kunci dari taktik ini adalah untuk “menanamkan rasa takut” terhadap kalangan masyarakat Israel serta menyiratkan bahwa kemampuan militer dan intelijen mereka lemah secara aksi.

Dinamika kelemahan IDF

Setidaknya terdapat beberapa dinamika yang terjadi ketika Hamas menyerang Israel.  Pertama, Israel tidak mengetahui persiapan serangan tersebut. Menempati 20 besar militer terkuat di dunia, militer Israel harusnya lebih mudah menyadap maupun mengawasi Gaza secara teritorial. Namun selama proses serangan, Hamas sepertinya tidak memiliki kendala berarti. Hamas diperkirakan mengembangkan sistem koordinasi yang mengecualikan koneksi internet. Terlihat dari video publikasi peluncuran rudal ke arah Israel yang hanya memakai kabel telepon untuk koordinasi serangan.

Kedua, Israel tidak mampu mencegah serangan fatal. Hamas secara terorganisir mengerahkan roket MLRS, pasukan darat, serta paralayang ke berbagai posisi. Persiapan dan langkah pertama Israel luput, ditambah ketidaksiapan peralatan tempur Israel. Rekaman penghancuran tank Merkava Mk.4 dan penangkapan awaknya dengan jelas menunjukkan pasukan Israel tidak siap tempur.

Contoh lainnya, pukul 14.00-15.00 waktu setempat, pasukan Israel mengumpulkan pasukan cadangan serta mengorganisir serangan balasan. Kematian komandan brigade infanteri Nahal, Jonathan Steinberg, menunjukkan reaksi tergesa-gesa dalam pengumpulan pasukan. Tampaknya intervensi Nahal dalam pertempuran melawan Hamas diprakarsai oleh komandan brigade, bukan perintah langsung dari Staf Umum.

Ketiga, berbicara sistem alarm di perbatasan yang tidak berfungsi maksimal. Banyak kamera dan sensor tidak mampu mendeteksi serangan Palestina, terutama patroli tempur yang tidak berada di pos-pos utama. Berbicara taktik, Hamas mencoba mengaplikasikan taktik anti-mainstream. Hamas tidak melewati benteng dan pangkalan IDF. Hamas secara agresif menyerbu pos pemeriksaan dan pangkalan tempat kendaraan lapis baja berada.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved