Opini
Menguji Semerdeka Apa Kurikulum Merdeka
TIDAK semua guru menerima dengan baik perubahan kurikulum. Bahkan belum semua sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka pada tahun 2023. Menurut data pada
Sehingga gagasan pembelajaran seperti pendekatan pembelajaran Differentiated Learning atau Teaching at the Right Level diharapkan dapat dikembangkan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Kemerdekaan juga diberikan oleh pemerintah dalam mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan karakteristik siswa di suatu satuan pendidikan.
Maka jika kita menilai lebih dalam, capaian pembelajaran untuk menggantikan kompetensi inti dan kompetensi dasar pada kurikulum lalu, disusun berdasarkan teori taksonomi Wiggins and Tighe. Perbedaannya cukup signifikan. Jika pada kurikulum K13 menggunakan taksonomi Blooms, maka langkah pelaksanaan pembelajaran sangat terikat oleh poin kompetensi dasar, begitu pula dengan tahapan kognitif siswa.
Sangat berurutan atau scaffolding. Sementara pada Kurikulum Merdeka yang menggunakan taksonomi Wiggins, justru guru dapat leluasa menganalisis capaian pembelajaran sehingga menghasilkan tujuan pembelajaran dan menyusun secara kolaboratif di satuan pendidikan sendiri dengan leluasa jadwal pelaksanaan pembelajaran. Tanpa harus terikat, guru dapat menyusun alur tujuan pembelajaran dengan mengacu kebutuhan siswa di sekolahnya.
Pembaharuan
Secara spirit, Kurikulum Merdeka juga masih mengusung pendidikan karakter berakhlak mulia yang diharapkan pada generasi milenial. Rumusan pendidikan karakter tersebut tergambar jelas dalam profil pelajar Pancasila yang terdiri atas enam dimensi, yaitu (1) Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan YME serta Berakhlak Mulia, (2) Berkebhinekaan Global, (3) Bergotong-royong, (4) Bernalar Kritis, (5) Kreatif, dan (6) Mandiri.
Perbedaannya di Kurikulum K13, pendidikan karakter merupakan bagian pembiasaan yang dilaksanakan melalui intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Sementara di Kurikulum Merdeka, pendidikan karakter pada profil pelajar Pancasila tidak hanya cukup sebagai pembiasaan melalui kegiatan pembelajaran tatap muka, harus ada alokasi waktu tersendiri.
Karena itu, pendidikan karakter dikemas dalam kegiatan tersendiri di luar jam tatap muka klasikal namun wajib dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran. Kegiatan tersebut dijalankan sebagai kokurikuler yang diberi nama Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5. Kokurikuler P5 merupakan suatu pembaharuan dalam kurikulum, meski memiliki spirit yang sama untuk menguatkan karakter siswa.
Alokasi waktu P5 sekitar 20 sampai 30 persen dari kegiatan pembelajaran secara keseluruhan. Waktu tersebut merupakan modifikasi waktu pembelajaran dari Kurikulum K13 dengan memberi 1 jam masing-masing pelajaran untuk P5. Dalam pelaksanaan kegiatannya, P5 dilaksanakan secara kolaboratif oleh guru bersama siswa. Seluruh “sumbangan” jam tersebut dikelola secara bersama tanpa memiliki capaian pembelajaran yang ditetapkan oleh pemerintah, namun tujuan projek yang disusun bersama oleh guru dan siswa termasuk alur waktu pelaksanaan.
Tantangan kemerdekaan di sini belum dipahami sepenuhnya oleh guru. Sangat banyak bahkan guru yang melaksanakan kegiatan P5 dengan mengarahkan siswa untuk merancang produk terlebih dahulu.Sehingga yang terjadi selama ini kegiatan P5 seperti pameran produk kuliner atau pameran karya kerajinan.
Ternyata guru belum merdeka memahami bahwa orientasi dari kegiatan P5 adalah proses menguatkan karakter bukan keberhasilan mengeluarkan produk. Keberadaan produk dapat dipahami sebagai konsekuensi proses dari kegiatan P5.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/khairuddin-9493.jpg)