Jurnalisme Warga

Aksi Begal Junior, Salah Siapa?

Akibat aksi itu, sejumlah warga saat ini mengaku resah dan nyaris takut. Para pengguna jalan kini tidak hanya berdoa agar dijauhkan dari kecelakaan sa

Editor: mufti
IST
M. RAZIE EFFENDI, Ketua Gerakan Pemuda Subuh Lhokseumawe dan Guru SMKN 1 Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

M. RAZIE EFFENDI, Ketua Gerakan Pemuda Subuh Lhokseumawe dan Guru SMKN 1 Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

Akhir-akhir ini marak aksi pembegalan plus mengarah kepada pembunuhan terjadi di salah satu kota di Bumi Aceh tercinta kita ini. Yang herannya lagi, aksi ini dilakukan oleh sejumlah remaja alias anak baru gede (ABG) yang tergolong sebagai anak usia di bawah umur. Dahulu, kita hanya dengar aksi itu terjadi di luar Aceh, tetapi hari ini tindak kejahatan tersebut dilakukan oleh anak-anak kita yang masih punya orang tua dan statusnya masih siswa.

Berbagai nama geng mulai muncul dan merekrut anggotanya yang kegiatan utamanya adalah berwara-wiri di malam hari, konvoi, dan nongkrong sambil membawa senjata tajam (sajam). Sehingga, mencuat keinginan untuk melakukan tindak pidana pemerasan dengan ancaman menggunakan sajam tersebut. Ini sejalan dengan serentetan kejadian atau peristiwa yang terus menjadi catatan hitam bagi ketertiban dan keamanan di daerah kita.

Akibat aksi itu, sejumlah warga saat ini mengaku resah dan nyaris takut. Para pengguna jalan kini tidak hanya berdoa agar dijauhkan dari kecelakaan saja, tetapi juga perlu menambahkan doanya agar dijauhkan dari aksi para begal.

Hal ini bisa terjadi disebabkan tekanan teman. Remaja cenderung sangat dipengaruhi oleh teman-teman mereka. Jika teman-teman mereka terlibat dalam perilaku yang salah, remaja mungkin akan ikut serta agar lebih diterima atau popular di kalangan kaumnya. Juga tidak terlepas dari kurangnya pengetahuan terkait konsekuensi hukum yang timbul akibat ulah mereka. Beberapa remaja mungkin tidak sepenuhnya memahami konsekuensi jangka panjang akibat tindakan mereka, sehingga lebih cenderung untuk melakukan kenakalan dan aksi kejahatan.

Selain itu, juga kurangnya keterlibatan dalam berbagai aktivitas positif. Ketika remaja tidak terlibat dalam aktivitas positif atau hobi yang konstruktif, mereka mungkin lebih mencari sensasi dalam perilaku berisiko.

Pengaruh media sosial saat ini juga dapat memiliki dampak negatif pada perilaku remaja. Dorongan untuk terlibat dalam tindakan yang kontroversial atau berisiko tinggi bisa datang dari media sosial.

Tatanan kehidupan remaja kita juga bergeser. Mereka yang masih duduk di bangku SMP dan SMA dan tergolong usia muda sudah melakukan aksi  yang melawan hukum dan harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Siapakah yang pantas disalahkan, salahkah orang tuanya?

Orang tua kita dahulu, di saat anak-anaknya berada di luar dan belum pulang ke rumah, akan mencari anak-anaknya dan sibuk menanyakan kepada orang sekitar. Orang tua saat ini, apabila anaknya belum pulang ke rumah, apakah ia akan mencari anaknya sambil menanyakan, “Sedang apa, lagi di mana, dan dengan siapa?” Apakah anak sekarang, ketika meninggal orang tuanya berani dan mampu menjadi imam shalat untuk pembuktian terakhir kalinya dalam hal berbakti kepada orang tuanya?

Tugas orang tua yang paling mendasar adalah membantu tumbuh kembang anak baik secara fisik, mental, dan emosional. Orang tua juga mempunyai kapasitas dan prioritas dalam mengatur pola asuh anak. Orang tua harus menjadi teladan bagi anaknya. Jika orang tua hari ini tidak bisa menjadi teladan bagi anaknya maka si anak akan mencari sosok lainnya di luar sana. Jika orang tua saat ini tidak bisa memberikan perhatian kepada anaknya, maka ia akan mencari perhatian di luar sana. Jadilah kawan atau sahabat untuk anak-anak kita. Pastikan orang tua menjadi suri teladan dan uswatun hasanah bagi putra-putrinya, sehingga akan membentuk keluarga yang saling peduli dan mejadikan keluarga yang bebas dari berbagai permasalahan.

Apakah salah gurunya?

Sederetan kasus yang mencuat di publik terkait aksi pembegalan, yakni dilakukan oleh peserta didik yang masih menempuh pembelajaran di bangku SMP dan SMA. Ketika hal itu terjadi pasti masyarakat menanyakan, “Di manakah sekolahnya?” Justru sebaliknya, jika anak tersebut meraih prestasi, pasti orang menanyakan, “Siapakah orang tuanya?” Dalam artian guru yang notabene disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini tidak mau peserta didiknya ikut terlibat dalam hal negatif dan menimbulkan keresahan masyarakat.

Tugas guru adalah membimbing, mendukung, dan mengembangkan peserta didik baik potensi maupun etikanya. Itu yang selalu dituntut negara untuk membentuk generasi mendatang. Terlebih saat ini proses belajar-mengajar telah memakai sistem Merdeka Belajar, artinya pendidikan saat ini harus berpihak pada siswa dan menggali potensinya. Guru di sekolah dari pagi sampai siang menjadi orang tua sekunder bagi siswa. Kenakalan remaja yang terjadi di malam hari bukanlah sepenuhnya salah gurunya dan di luar kontrol guru di sekolah karena seyogianya bahwa pendidikan memang tidak pernah salah.

Apakah salah kepolisian?

Aksi kejahatan yang selama ini dipertontonkan tentu tidak terlepas dari pantauan pihak kepolisan dan sudah tercatat ke dalam catatan hitam mereka serta dalam agenda prioritas pembasmian kenakalan remaja, mulai dari sosiasliasi ke sekolah sampai melakukan patroli bergerak cepat di malam hari.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved