Senin, 25 Mei 2026

Opini

Penderita Kanker, Bolehkah Berobat Kampung?

Kemajuan dibidang kesehatan suatu negeri akan meningkatkan harapan hidup penduduknya, sayangnya bertambahnya usia menyebabkan insiden kanker ikut meni

Tayang:
Editor: mufti
IST
dr Munizar SpOG-KOnk, Konsultan Onkologi Ginekologi RSUDZA 

Khusus untuk sirsak lebih dari 150 jurnal telah membahas khasiat pohon tersebut, diketahui mengandung lebih dari 200 senyawa kimia, antara lain alkaloid, phenol dan acetogenin dengan khasiat teurapeutik di atas. Namun efek merusak terhadap saraf juga ditemukan, oleh karena itu tentu dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui dosis optimal, efek samping dan keamanannya. Obat-obatan herbal tetap disebut obat herbal dan bukan obat anti kanker.

Beberapa waktu lalu jagat maya juga dihebohkan dengan khasiat anti kanker pohon bajakah dari Kalimantan, dan sekarang sudah diperjual belikan meskipun belum melewati uji klinis yang disyaratkan. Obat anti kanker bersumber tumbuh-tumbuhan yang sudah dipakai lama adalah etoposide (tumbuhan podophyllum) dan vincristin (tumbuhan vinca rossea) membuktikan bahwa anti kanker bisa saja berasal dari tumbuhan bahkan ada yang berasal dari jamur.

Perbedaan obat

Meskipun mirip, keduanya memiliki perbedaan. Obat herbal mengandung sejumlah kandungan berbeda yang belum dimurnikan. Kandungan kombinasi ini dianggap meningkatkan daya kerja dan mengurangi efek samping. Hal ini bertolak belakang dengan obat konvensional yang menghindari pemberian kandungan obat dalam jumlah banyak (polifarmasi). Hal yang sangat penting terkait obat adalah uji toksisitas. Obat-obatan herbal semestinya juga melewati uji toksisitas sehingga pengaruh buruknya dapat dihindari.

Pembuatan jamu dan suplemen dapat bervariasi dari satu pabrik dengan pabrik yang lain bahkan dalam satu pabrik yang sama. Karena komponen aktif suatu produk sering kali tidak jelas, standardisasi tidak mungkin dilakukan, dan efek klinis dari merek berbeda tidak dapat dibandingkan. Pernah ada formula herbal untuk kanker prostat (PC-SPES) ditarik dari peredaran karena mengandung kontaminan berbahaya.

Mengonsumsi herbal

Sel tubuh dapat mengalami kerusakan bila timbul Ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan. Kerusakan ini meningkatkan risiko kanker. Makanan berlemak, berkurangnya aktivitas fisik dan paparan matahari meningkatkan radikal bebas, sehingga ada saran untuk mengonsumsi antioksidan, vitamin dan herbal.
Efek obat kemoterapi dan radiasi pada kanker sangat tergantung pada kerusakan oksidatif yang ada pada sel kanker itu sendiri, sehingga makin tinggi stres oksidatif pada sel kanker makin mudah kemoterapi/radiasi mematikan sel kanker. Mengonsumsi antioksidan/herbal pada saat sedang menerima pengobatan kemoterapi dan radiasi justru menurunkan keampuhan kemoterapi dan radiasi. Di sini muncul kekhawatiran bahwa antioksidan/herbal dapat mengganggu hasil terapi radiasi dan beberapa obat kemoterapi.

Efek produk

Produk herbal sebaiknya digunakan secara hati-hati. Beberapa penelitian melaporkan kandungan herbal dapat meningkatkan risiko perdarahan seperti gingko biloba, sejenis jahe, alpukat, asam jawa, sejumlah vitamin, minyak ikan, bawang putih dan lain-lain. Kandungan herbal yang dapat meningkatkan risiko pembekuan darah antara lain ganggang hijau chlorella, ginseng dan lain-lain.

Kandungan herbal yang dapat meracuni hati, antara lain echinacea, lidah buaya, rumput laut, jahe, sejenis teh, bawang putih, ginseng dan lain-lain. Bahkan ada produk herbal dengan kandungan hormon alih-alih menyembuhkan justru memperberat kanker . Konsumsi suplemen asam folat oleh penderita kanker trofoblas akan mendorong perkembangan penyakit. Dengan demikian, kehati-hatian akan selalu dianggap sebagai pendekatan yang bijaksana.

Penelitian tentang efek herbal/antioksidan pada terapi kanker memberikan hasil beragam, beberapa melaporkan efek merugikan, yang lain mencatat ada manfaat, dan sebagian besar menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti. Apakah antioksidan bermanfaat atau berbahaya merupakan pertanyaan kritis yang belum memiliki jawaban ilmiah yang jelas saat ini; sebaliknya, hal ini tetap menjadi ranah penelitian dan kontroversi yang terus berlanjut.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved