Kupi Beungoh
Objektif Menilai Masalah Rohingya
Selain Bangladesh dan Malaysia. Indonesia termasuk negara paling banyak menampung sementara pengungsi Rohingya.
Oleh: Akhsanul Khalis*)
“Jak peusom ule seube lam jurong, peusiblah untong bek keunong bala, oh abeh buleun meu bileung ngon thon ingat u gampong pajan jeut tagisa, jeut sago tangieng itob lam jantong meukeupong keupong digulong le bala”.
Penggalan syair yang bernuansa ballad diatas mungkin tidak asing di telinga sebagian generasi Aceh yang hidup di masa konflik.
Ya itu lagu “Untong Kamoe Nyoe” yang begitu lirih dinyanyikan Mukhlis.
Syair itu kian melegenda karena penciptanya bukan sosok biasa, kedalaman syair itu lahir berkat sentuhan pena penyair Aceh yaitu Hasbi Burman.
Syair itu menggambarkan kepedihan hidup rakyat Aceh di masa konflik. Pengalaman pilu sebagian rakyat Aceh yang terpaksa mengungsi mencari tempat aman, menghindari kekerasan dari pihak yang bertikai.
Kini, Aceh sudah meneguk air perdamaian. Namun syair “Untong Kamoe Nyoe” yang bernilai universal itu, terus relate dengan dua peristiwa krisis kemanusian yang terjadi Gaza, Palestina dan etnis Rohingya di Myanmar.
Serangan genosida Israel di Gaza, mengakibatkan ribuan warga Arab Palestina terbunuh, ratusan bangunan hancur lebur, ratusan ribu menjadi mengungsi dan tinggal pada kamp pengungsian di perbatasan Mesir.
Nasib yang kurang beruntung juga dirasakan etnis Rohingya.
Dengan rasa putus asa, etnis yang dijuluki ‘Manusia Perahu’ itu berduyun-duyun mengungsi ke sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara dan Selatan.
Baca juga: Rohingya di Aceh Timur Ternyata Korban Perdagangan Manusia, Libatkan Keuchik dan PNS
Baca juga: Penolakan Rohingya ke Aceh, Prof Humam Hamid: Masalah Kemanusiaan, Usulkan Tempat di Sebuah Pulau
Awalnya diterima
Selain Bangladesh dan Malaysia. Indonesia termasuk negara paling banyak menampung sementara pengungsi Rohingya.
Aceh yang berada di teritori paling ujung Barat Indonesia dan berbatas langsung dengan teluk Benggala, seringkali didapati perahu pengungsi Rohingya terdampar dan masuk secara ilegal ke pesisir Aceh.
Kendati demikian, dulu masyarakat Aceh tetap bersikeras ingin menerima dan menolong pengungsi etnis Rohingya atas dasar sesama Islam.
Lagi pula pengungsi itu terdiri dari kaum lemah: anak-anak, perempuan, orang tua. Karena merasa iba, mereka semua diterima dan diperlakukan dengan layak.
Dianggap terlalu toxic
Hanya saja masalah pengungsi Rohingya kini menuai komentar sinis. Berbagai informasi negatif terhadap pengungsi Rohingya tersiar lewat media sosial.
Tersiar kabar, sikap etnis Rohingya lambat laun mulai memperlihatkan sifat culas ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Kita tidak memungkiri, diantara semua pengungsi etnis Rohingya yang notabene orang asing tentu ada sebagian yang berkarakter menjengkelkan.
Akibat ulah beberapa oknum pengungsi yang seringkali menunjukkan tabiat yang tidak baik, berperilaku buruk, terlibat kriminal, kerap terjadi gesekan dengan warga lokal, akhirnya dianggap tidak pandai berterima kasih, ibarat kata, “dikasih hati, minta jantung”.
Kian kusut lah masalah etnis Rohingya: dipersekusi di negeri sendiri, dianggap toxic di negeri orang.
Dinilai mempunyai karakter toxic, lama kelamaan bertambahlah kemarahan masyarakat Aceh kepada etnis Rohingya.
Puncaknya ketika pengungsi Rohingya yang masuk ke Aceh mendapatkan penolakan dari masyarakat lokal seperti di pesisir Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Aceh Timur.
Masyarakat setempat dengan terpaksa menolak pengungsi Rohingya agar tidak dievakuasi ke darat. Justru ini pemandangan sangat memilukan dilihat dari segi kemanusian.
Terutama mengingat kondisi pengungsi yang terdiri dari kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia.
Nasib baik belum memihak kepada pengungsi Rohingya.
Kita tidak bisa menyalahkan sebagian masyarakat Aceh yang mengambil sikap menolak pengungsi Rohingya.
Mesti paham dengan watak orang Aceh, kalau sudah dilanggar norma, adat istiadat dan melukai perasaannya akan sulit menerima maaf, mendapatkan kepercayaan dan merajut kembali rasa persahabatan itu.
“Ketelanjangan Hidup” Etnis Rohingya
Menjadi pengungsi seperti etnis Rohingya tidaklah mudah. Kondisinya serba salah.
Menjadi orang asing di negara lain berpotensi akan mengalami penolakan. Dicurigai terus menerus dan mendapatkan stigma buruk.
Garis batas: sikap eksklusif, perbedaan keyakinan, bahasa, budaya dan adat istiadat serta karakter manusianya seringkali menjadi pemicu ketidakharmonisan itu.
Kita perlu objektif menilai, penyebab watak pengungsi etnis Rohingya sulit diterima oleh masyarakat lokal, seperti di Aceh ataupun Malaysia. Bahkan, ironisnya dilabeli manusia terkutuk.
Agar objektif, kita perlu melihat ke isu mengenai kondisi etnis Rohingya di negara asalnya.
Dalam beberapa literatur secara umum disebutkan bahwa Rohingya sebagai etnis minoritas yang sudah ratusan tahun tinggal di Arakan -sekarang ini menjadi bagian negara Myanmar.
Dan semua orang tahu, Myanmar dari dulu sampai saat ini diperintah oleh Junta Militer yang berasal dari etnis mayoritas yaitu Bamar.
Pemerintahan junta militer yang tidak demokratis. Praktik politik burmanisasi melahirkan diskriminasi kepada etnis-etnis minoritas.
Burmanisasi secara massif, membuat politik dan keamanan di Myanmar tidak pernah stabil. Hampir semua suku minoritas di wilayah Myanmar melakukan pemberontakan.
Dari sekian banyak etnis minoritas di Myanmar, etnis Rohingya paling lemah dan merasakan dampak paling suram: hidup termarjinalkan bertahun-tahun, dipersekusi dan mendapatkan perlakuan diskriminatif yang sistematis.
Etnis Rohingya tidak pernah diakui sebagai warga negara sah Myanmar. Mereka dianggap pendatang ilegal dari Bengali.
Tidak diakui sebagai warga negara, otomatis status etnis Rohingya menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan), konsekuensi tanpa status kewarganegaraan: tidak ada hak apapun yang mereka dapat, seperti hak politik, akses ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan kesejahteraan sosial dan sebagainya.
Perlakuan junta militer kepada etnis Rohingya disebut juga dengan Vita Nuda (kehidupan telanjang) sebuah teori kritis dari Giorgio Agamben.
Menurut Agamben: negara bertindak melucuti warga negara, baik itu hak politik ataupun perlindungan hukum.
Manusia diakui secara politik artinya diakui statusnya sebagai manusia yang derajatnya yang lebih baik. Dengan kehidupan telanjang berarti manusia berjalan tanpa ada jaminan atas kehidupannya.
“Kehidupan telanjang” akan sangat rentan dari ancaman jenis apapun itu.
Bersikap adil
Diskriminasi yang sistemik yang dirasakan etnis Rohingya membentuk alienasi (keterasingan) dalam hal kehidupan sosial, politik dan ekonomi.
Etnis Rohingya terpaksa hidup dengan hukum tribal (kesukuan) yang terbatas dalam komunitas kecil, justru nantinya akan berhadapan dan bertentangan dengan masyarakat asing yang sudah lebih mapan, berperadaban dan modern.
Sebenarnya yang dicari pengungsi etnis Rohingya adalah melanjutkan hidup dengan rasa aman dan dijamin hak-hak asasi mereka (peusiblah untong), seperti tergambarkan dalam lagu “Untong Kamoe Nyoe”.
Seandainya mereka tidak teraniaya oleh pemerintah Myanmar, mendapatkan kehidupan yang layak sebagai manusia, tidak perlu nekat mengambil risiko berlayar ke negara asing dengan membawa anak kecil, perempuan, orang tua dengan mengarungi Samudera Hindia yang ganas.
Selain risiko mati di tengah laut, bertaruh hidup di negara asing juga lebih sulit.
Kondisi putus asa yang dirasakan pengungsi Rohingya semoga menjadi penilaian yang adil dan objektif.
Dan di atas segalanya ada nilai moral dan rasa kemanusiaan. Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, membuat kita tidak bisa berlaku adil.
Tugas masyarakat sebatas memberikan pertolongan darurat dan bersifat sementara sesuai mekanisme yang ada, selebihnya serahkan kepada pihak berwenang terkait pengungsi seperti Kementerian Luar Negeri dan UNHCR.
*)Penulis adalah Akhsanul Khalis Penulis opini dan dosen swasta, Alumni Magister Administrasi Publik UGM, Alumni Magister Administrasi Publik UGM.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Akhsanul-Khalis.jpg)