Opini

Wajah Pilu Palestina

Namun, di balik agresi Israel tersebut, terasa cukup miris adalah kondisi pemimpin negara muslim seakan tidak mampu melakukan tindakan politik menghen

Editor: mufti
IST
Syah Reza, Penggiat diskursus Peradaban di Islamic Institute of Aceh 

Syah Reza, Penggiat diskursus filsafat dan peradaban di Islamic Institute of Aceh

SEORANG bocah Palestina menulis satu pesan di dinding bangunan yang telah roboh, "Al-'Alam lam Yuhibbuna ya Ummi.” Kalimat itu bermakna, “Sungguh dunia tidak mencintai kita, wahai ibuku.” Sepenggal kata yang cukup menyayat hati. Bagaimana tidak, sudah hampir dua bulan agresi militer Israel ke jalur Gaza telah menghilangkan nyawa lebih dari 14 ribu rakyat sipil, yang didominasi oleh anak-anak dan perempuan. Bayi-bayi di sana hanya melihat dunia sejenak saja, lalu kembali pada Tuhan-Nya. Dalam penderitaan itu, wajah mereka masih saja bisa tersenyum, walau hati diselimuti kepedihan.

Namun, di balik agresi Israel tersebut, terasa cukup miris adalah kondisi pemimpin negara muslim seakan tidak mampu melakukan tindakan politik menghentikan genosida atas warga Palestina. Mereka cenderung memilih posisi aman dengan hanya menyuarakan kecaman. Itu terbukti dari hasil konferensi tingkat tinggi OKI pada 11 November lalu, negara-negara Arab hanya sepakat untuk mendesak gencatan senjata, tetapi seperti enggan mengambil langkah strategis pada Israel.

Padahal Raisi, Presiden Iran menyarankan kepada negara Arab penghasil minyak dunia, seperti Arab Saudi, UEA, Libya, Kuwait, dan beberapa negara lain untuk mengembargo minyak pada Israel. Cara itu sebagai shock teraphy dan diyakini efektif untuk menghentikan agresi Israel atas Palestina. Kata Raisi, kutukan tidak akan mampu menghentikan serangan Israel atas Jalur Gaza. Tetapi, saran itu justru tidak disetujui.

Kenapa Arab seperti tidak bersatu atas kasus yang dialami Palestina? Faktor politik adalah salah satu alasan. Sebagian negara Arab, selain punya hubungan akrab dengan negara Barat, antar internal negara Arab punya masalah keretakan politik, efek dari Perang Teluk tahun 1970an. Imbasnya, kedaulatan Palestina sebagai negara saat ini tertunda.

Kini, bangsa Palestina justru melewati hari-hari mencekam dalam bayang-bayang kematian. Mereka seakan berjuang dan melewati hidup yang begitu tragis sendirian. Israel dengan wajahnya yang beringas setiap waktu menghujam rudal ke wilayah sipil. rumah-rumah, bangunan publik, sekolah, rumah sakit dan masjid banyaknya telah berubah menjadi puing-puing.

Api dan asap mengepul di langit Gaza bak kota neraka. Kerugian negara memang cukup besar, tetapi tak sebanding dengan kerugian hilangnya nyawa manusia. Maka ada yang mengatakan, kondisi tragis yang dialami Palestina adalah bukti lemahnya politik muslim di dunia saat ini.

Walaupun demikian, tragedi pembantaian yang dialami warga Gaza ternyata memantik kesadaran global. Rasa simpatik atas Palestina justru datang dari berbagai kalangan dan identitas. Bahkan kecaman atas Israel datang tidak hanya dari umat Islam, tetapi juga masyarakat Eropa.

Kesadaran kemanusiaan membuat pandangan dunia pada Palestina mulai berubah. Stereotip jelek sebagai bangsa pengungsi dan teroris pernah tersebar sejak 50 tahun terakhir melalui media media barat, mungkin juga sampai hari ini. Buktinya Hamas yang berada di barisan terdepan dalam perjuangan Palestina masih dituduh teroris, sedang Israel yang melalukan pembantaian ilegal justru disebut pahlawan.

Kata Edward Said, citra teroris pada rakyat Palestina sengaja dibentuk oleh Amerika dari hasil kebijakan Israel tahun 1970an untuk misi pengusiran bertahap bangsa Palestina dari tanahnya. (Said, Power and Culture, 2001).

Kilas sejarah

Bangsa Israel seperti mengalami gejala trauma historis yang akut. Ditambah lagi ajaran agama Yahudi yang tertuang dalam Talmud melegitimasi sikap agresif atas manusia di luar bangsa mereka. Bukti itu secara nyata dengan invasi militer atas warga Palestina membabi buta tanpa kenal bulu.

Pembantaian itu seperti pelampiasan amarah atas nasib yang pernah mereka dapatkan ketika pembantaian Yahudi di Eropa pada perang dunia kedua. Sumber menyebutkan bahwa ada 6 juta warga Yahudi Eropa dibantai oleh Nazi ketika itu, yang membuat sisa dari mereka melakukan eksodus ke Tanah Palestina.

Memori ini menjadi amukan emosi yang salah tempat ditujukan pada bangsa yang menyediakan rumah tinggal bagi mereka sejak terusir dari Eropa. Eksodus itu juga menjadi titik awal perjuangan Yahudi mencari tanah air yang layak untuk bangsanya.

Target perampasan tanah Palestina oleh bangsa Israel dimulai sejak 1896 melalui gagasan Theodore Hezrl ketika melihat nasib bangsa Yahudi yang terkatung-katung di Turki setelah diusir dari Jerman. Cita-cita Theodore Hezrl sebagai the Father of Zionism mewujudkan Negara Yahudi tercapai setelah proses politik dan diplomasi yang panjang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved