Jurnalisme Warga
Pelatihan Inklusi Sosial DPKA Antar Guru Jadi Pengusaha Dimsum
Pembelajaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
ULFA FAJRINA, S.IP., Pustakawan Ahli Muda Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA), melaporkan dari Banda Aceh
Pasal 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menyatakan perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.
Hal ini menunjukkan perpustakaan mengemban amanah sebagai tempat pembelajaran dan kemitraan yang dikelola secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan dapat diukur capaian kinerjanya bagi kesejahteraan masyarakat.
Pembelajaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Perpustakaan dapat mengambil peran bukan hanya sebagai pusat informasi. Lebih dari itu, perpustakaan dapat bertransformasi menjadi tempat dalam pengembangan diri masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, literasi mempunyai peranan penting dalam mendorong kesejahteraan masyarakat dan perpustakaan menjadi sarana dalam meningkatkanya.
Terkait dengan hal-hal di atas, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh ( DPKA) kini menggalakkan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Salah satunya mengadakan pelatihan-pelatihan. Kegiatan inklusi sosial ini merupakan program perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi, dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia (HAM).
Tahun ini merupakan tahun pertama Bidang Layanan Perpustakaan DPKA melaksanakan kegiatan inklusi sosial melalui pelatihan. Salah satunya adalah pelatihan Pengolahan Makanan Kekinian.
Dalam pelatihan ini diajarkan cara mengolah dimsum dan ‘dessert box’ pada 31 Agustus 2023.
DPKA mengusul tema pembuatan dimsum ini karena melihat perkembangan kuliner masa kini yang sangat populer di kalangan anak muda.
Saat itu, Lisa Siska Dewi selaku Subkoordinator Layanan, Cut Ruhama selaku Subkoordinator Minat dan Budaya Baca, beserta panitia lainnya, termasuk penulis yang notabennya memang alumnus Tata Boga mengunjungi SMKN 3 Banda Aceh. Tujuannya, membicarakan rencana proses pelatihan tersebut sekaligus mengundang guru tata boga untuk menjadi narasumber. Pada kesempatan ini juga akan diadakan praktik cara membuat dimsum dan ‘dessert box’.
Tanpa mengulur waktu lama, Kamis, 31 Agustus 2023 kegiatan Inklusi Sosial Pelatihan Pengolahan Makanan Kekinian itu terealisasi. Diikuti 22 peserta, terdiri atas siswa, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.
Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Bisnis Inklusi Sosial lantai 3 Gedung Layanan DPKA. Pelatihan ini dipandu Dra Siti Orbanisah, Kepala Prodi Keahlian Tata Boga dan Ratna Dwi selaku Kepala Bengkel Tata Boga pada SMKN 3 Banda Aceh. Acara ini dimoderatori Zulfadli SE MM, Kabid Layanan Perpustakaan pada DPKA.
Syarifah Nurmasyitah Alatas, salah seorang peserta, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. Syarifah adalah lulusan Ilmu Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiah UIN Ar- Raniry yang tamat tiga bulan lalu. Saat ini kesehariannya adalah sebagai guru pengganti di SD dan Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pendapatan bulanannya tidak tetap, bisa jadi per hari Rp20.000-Rp35.000, bahkan ada sekolah yang hanya bisa menggajinya dengan hitungan jam, per jam Rp 12.000. Itu pun tidak setiap hari Syarifah mengajar, hanya pada saat dibutuhkan saja. Tentu penghasilannya sangat jauh dari UMR saat ini dan jelas tidak mencukupi kebutuhannya.
Syarifah pertama kali mengetahui akan dilaksanakan pelatihan ini dari seorang teman dan langsung mendaftar pada link pendaftaran yang telah tersedia di flayer yang disebarkan DPKA. Dia berharap bisa membuka usaha sendiri sembari tetap menerima tawaran menjadi guru pengganti dan sambil mencari info tentang penerimaan guru ASN atau P3K.
Pada saat pelatihan, moderator menjelaskan kegiatan inklusi sosial di perpustakaan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi informasi bagi masyarakat yang berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi. Mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, juga mendorong kreativitas serta memangkas berbagai kesenjangan akses informasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ulfa-fajrina-sip-pustakawan-ahli-muda-p.jpg)