Jurnalisme Warga
Pelatihan Inklusi Sosial DPKA Antar Guru Jadi Pengusaha Dimsum
Pembelajaran sepanjang hayat merupakan kata kunci dalam pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Zulfadli menambahkan, dengan adanya pelatihan ini para peserta ke depannya bisa menjadi pengusaha muda yang bisa sukses hanya dari bekal belajar, membaca, dan mengikuti pelatihan di perpustakaan.
Pemateri pertama, Siti Orbanisah atau biasa disapa Ibu Aan menjelaskan tentang pembutan ‘dessert box’. ‘Dessert box’ adalah pilihan pencuci mulut yang pas bagi penyuka makanan manis. Sebelum mempraktikkan membuat dessert box, Ibu Aan menjelaskan bahan yang digunakan juga sangat memengaruhi hasil ‘dessert’ karena untuk jualan walau tidak perlu menggunakan bahan premium, akan tetapi bahan yang dipilih haruslah sesuai.
‘Dessert box’ memiliki berbagai macam varian rasa dan ‘topping’ yang menggugah selera. Jajanan kekinian ini terdiri atas beberapa lapisan yang disajikan dalam sebuah kotak plastik atau kaca. Umumnya, ‘dessert box’ terdiri atas lapisan sponge cake, puding, whip cream, dan saus cokelat. juga bisa ditambahkan biskuit, cheesecake, buah-buahan, dan bahan tambahan lain sesuai selera.
Pada kesempatan ini, Aan mempraktikkan pembuatan dessert brownies fruit cake.
Pemateri kedua, Ratna Dwi menjelaskan tata cara pembuatan dimsum yang baik dan benar. Dimsum adalah makanan yang berasal dari Cina, camilan yang digemari semua kalangan karena rasanya gurih dan kenyal.
Dimsum memiliki berbagai macam isian, ada yang isi daging, ayam, udang, cumi, rumput laut, jamur, dan masih banyak variasi lainnya. Kemudian dibungkus pakai kulit pangsit dan dikukus 20 menit.
Dalam pelatihan ini, Bu Ratna mengajarkan bagaimana membuat dimsum dengan isinya ayam. Rasa gurih dari ayam membuat kudapan ini semakin nikmat dengan tambahan ‘topping’ sayuran seperti wortel agar lebih bergizi dan ‘topping’ lainnya agar lebih berwarna.
Syarifah dengan saksama mendengarkan paparan dari pemateri dan langsung mempraktikkannya. Dengan sangat antusias dia serap ilmu yang dibagikan oleh ibu-ibu narasumber dan mencatat semua yang dia praktikkan.
Berbekal ilmu yang didapat dari pelatihan inklusi sosial yang dilaksanakan DPKA tersebut, akhirnya Syarifah mempunyai ide,“Ah, kayaknya bisa dicoba nih untuk membuat dimsum dan dijual.”
Karena terbentur modal, niat Syarifah baru bisa terlaksana dua bulan setelahnya, tepatnya 18 Oktober 2023 dengan modal seadanya dari penghasilannya sebagai guru pengganti. Syarifah nekat memulai bisnis dimsum.
Dengan pembelanjaan pertama sekitar Rp300.000 untuk membeli bahan sesuai yang telah dipelajarinya saat pelatihan, ia langsung memproduksi 50 cup dimsum yang dijual Rp5.000 per cup-nya dengan isi dua pcs untuk dipasarkan di bazar di SMKN 1 Banda Aceh, tempat adiknya sekolah, selama dua hari.
Alhamdulillah, dimsum Syarifah laris manis dan hari-hari berikutnya dia titip di kantin beberapa sekolah dan tempat jualan kue pagi hingga 30 cup per hari.
Saat ini, Syarifah memperoleh omset 90.000-150.000 rupiah per hari dari hasil menjual dimsum. Ia sangat bersyukur telah berkesempatan ikut pelatihan di DPKA, karena Syarifah mengingat gurunya pernah berkata, “Usaha yang dimulai tanpa ilmu, pasti gagal total.”
Syarifah berharap ke depan akan dilaksanakan pelatihan lainnya oleh DPKA untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya dan bisa memasarkannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ulfa-fajrina-sip-pustakawan-ahli-muda-p.jpg)