Pengungsi Rohingya

Nasi Kebuli dan Tangan Kecil Dira untuk Rohingya

"Ayo tos, ayo tos," ucap Dira semangat, anak-anak pengungsi Rohingya seolah paham maksud bocah asal Jeulingke, Banda Aceh itu.

Penulis: Sara Masroni | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/SARA MASRONI
Tangan kecil Kinar Anindira Fitra (tengah) ikut menyiapkan makanan sedekah nasi kebuli dan membagikannya ke pengungsi Rohingya di Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Minggu (31/12/2023). 

Sementara sang bunda yang ikut mendampingi, memainkan beberapa games ke anak-anak pengungsi, semua turut bergembira.

Ketika nasi kebuli tiba, semuanya bergegas masuk ke basement gedung BMA, kemudian duduk rapi sambil salah seorang dari pengungsi ikut mengatur agar semuanya supaya tertib, satu per satu tangan bersiap menjulur ke atas.

Setelah semuanya duduk, Dira bersama donatur kemudian membagikan makanan sedekah hasil galang dana itu.

"Sini lagi, sini lagi belum," ucap bocah usia 7 tahun itu ke bundanya sambil tangan kecilnya yang begitu cekatan menyerahkan nasi kebuli dalam kemasan ke anak-anak dan pengungsi Rohingya.

Baca juga: Siap-siap, Massa Bakal Demo Lagi Selasa Ini di Meuseuraya Aceh Tolak Rohingya

Saat ditanya kenapa mau ikut memasak dan membantu memberikan ke mereka, “Kasihan, sayang,” ucap Dira malu sambil memeluk bundanya.

Masyarakat Bagikan Makanan

Diketahui masyarakat dari berbagai komunitas ikut membagikan makanan kepada pengungsi Rohingya di gedung BMA, Minggu sore.

Mulai dari nasi kebuli hingga puding coklat dibagikan atas kerja sama Partai Butamah, Nasi Kebuli Lasefa serta rumah singgah Rumah Kita.

Plt Ketua Umum Butamah, Fachrul Razi mengatakan, sebanyak 130 porsi nasi kebuli Lasefa merupakan sumbangan dari para anggota dan rekan-rekan sejawatnya.

Menurutnya, kepedulian orang Aceh terhadap Rohingya mulai berkurang akhir-akhirnya ini dibanding dulu, untuk itu pihaknya tergerak menggalang donasi.

Dikatakannya, sesama muslim sudah sepatutnya saling membantu dan tidak terpaku hanya melihat sisi negatifnya saja dari pihak yang ditolong.

“Jangan kesalahan satu dua orang Rohingya, digeneralisir menjadi seluruhnya jelek,” kata Fachrul Razi.

Hal yang sama diungkapkan oleh pendiri rumah singgah Rumah Kita, Nurjannah Husein. 

Wanita yang akrab disapa Nur Husien itu mengatakan, pihaknya sengaja membuat puding coklat karena disukai anak-anak.

Di rumah singgah Rumah Kita, kata Nur Husien, pihaknya sangat tahu bagaimana arti kehilangan, ketakutan seperti anak-anak kanker, thalasemia yang dirawat di sana selama ini.

“Jadi, kami hanya berbagi sedikit saja,” pungkasnya.

(Serambinews.com/Sara Masroni)

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved