Jurnalisme Warga
Merajut Nusantara Melalui Seni Budaya PMM di UBBG
Acara pentas budaya tersebut juga memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar satu sama lain, saling bertukar cerita, dan memperluas jaringan pert
Acara juga dimeriahkan oleh lenong Betawi dan tarian lenggang nyai dari Jakarta. Tari lenggang nyai merupakan tarian kreasi baru yang diambil dari cerita rakyat Betawi. Nama “Lenggang Nyai”
berasal dari kata ‘lenggang’ yang mempunyai arti “melenggak-lenggok” dan kata “Nyai” yang diambil dari kisah hidup Nyai Dasima, muslimah pribumi yang menjadi pasangan hidup pria Belanda yang beda agama dengannya. Pertunjukan ini dibawakan oleh dua perempuan asli dari Jakarta.
Berikutnya, tari te`o renda dari NTB. Tarian ini berasal dari Kabupaten Rote, biasanya dimainkan oleh lima penari perempuan dan enam penari laki-laki atau bisa dilakukan secara kelompok. Tarian ini merupakan tari hiburan bagi para petani saat melepas lelah di senja hari setelah bekerja di sawah dan ladang.
Tarian ini juga bisa ditampilkan untuk menyambut tamu atau pejabat-pejabat dan kegiatan suka cita di kalangan masyarakat Rote. Namun, pada acara Pentas Budaya di UBBG ini ditampilkan langsung hanya oleh dua penari asli dari NTT.
Kemudian, ditampilkan pula tari peresean dari NTB, merupakan seni bela diri tradisional yang berasal dari Lombok, NTB. Seni bela diri ini adalah bagian penting dari budaya Sasak di pulau tersebut,
Pertunjukan peresean umumnya melibatkan dua petarung yang menggunakan senjata tradisional, yaitu kujang (sejenis pedang pendek) dan perisai. Para petarung juga menari sambil memukul-mukul perisai dan kujang dengan irama musik yang dimainkan oleh para pemusik. Selain sebagai pertunjukan seni bela diri, peresean juga memiliki nilai-nilai spiritual dan keagamaan bagi masyarakat Sasak. Seni bela diri ini terus dilestarikan dan dikembangkan untuk memperkaya warisan budaya Indonesia. Pertunjukan ini dibawakan oleh mahasiswa asli Lombok.
Berikutnya, pidato empat bahasa: Bahasa Indonesia, Sunda (Jawa Barat), Tolaki (Sulawesi Tenggara), dan Sasak (NTB).
Terakhir, fashion show. Di pengujung acara kami semua memperagakan baju adat dari masing-masing daerah, dengan menggunaan sapaan khas dari provinsi masing-masing.
Acara pentas budaya tersebut juga memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar satu sama lain, saling bertukar cerita, dan memperluas jaringan pertemanan lintas budaya. Ini membantu dalam membangun toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, dan rasa persaudaraan di antara peserta.
Dengan demikian, Pentas Budaya Pertukaran Mahasiswa di UBBG bukan hanya acara hiburan semata, melainkan juga merupakan sebuah wadah yang memperkuat nilai-nilai persaudaraan dan saling pengertian di antara mahasiswa yang lain.
Dengan menyelenggarakan acara semacam itu, UBBG memberikan kontribusi penting dalam membangun jembatan antarbangsa dan memperluas pemahaman global tentang nilai-nilai budaya. Terima kasih banyak Aceh dan UBBG, keduanya sangat layak dikenang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hasbi-JW-OKE.jpg)