Opini
Nama-nama Bulan Rajab
Bulan Rajab dinamakan juga Al-‘Asham. Dalam kitabnya Ash-Shihhah, Al-Jauhari berkata, “Orang-orang Jahiliyyah menamakan Rajab dengan Syahrullah Al-Ash
Kedua belas: Munziul Asinnah (mencabut mata tombak).
Ketiga belas: Syahrul ‘athirah (bulan penyembelihan), karena mereka dulunya menyembelih.
Keempat belas: Al-Mubri (yang meruncungi)
Kelima belas: Al-Mu’asy-asy (yang bersarang)
Keenam belas: Syahrullah (bulan Allah)
Ketujuh belas: Dinamakan Rajab, karena meninggalkan peperangan. Dikatakan: Aku memutuskan ar-rawaajib (meninggalkan peperangan) karena Allah.
Kedelapan belas: Dinamakan Rajab, karena ia musytaq (berasal) dari kata rawaajib.”
Kedua nama terakhir bukan nama tambahan, melainkan karenaperbedaan asal kata nama Rajab. (Tabyiinul ‘Ajab Bimaa Warada Fii Syahri Rajab: 21-23).
Menurut Ibnu Al-Atsir, “Pada masa Jahiliyyah, mereka menamai bulan Rajab dengan Munshilul Asinnah, artinya mencabut mata tombak dan panah untuk membatalkan peperangan dan memutus sebab-sebab huru-hara.
Karena bulan Rajab menjadi penyebab berhentinya peperangan, maka sebutan itu disandarkan kepada bulan Rajab.
Imam Qurthubi (wafat 671 H) rahimahullah berkata, “Orang-orang Arab juga menamakan bulan Rajab dengan nama munshilul asinnah. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abi Raja’ Al-‘Utharidi – namanya ‘Imran bin Milhan. Ada juga yang mengatakan ‘Imran bin Taim – ia berkata:
”Kami dulu menyembah batu. Apabila kami menemukan batu yang lebih baik darinya, maka kami membuangnya dan kami mengambil yang lain.
Apabila kami tidak menemukan batu, maka kami kumpulkan jatswah dari tanah, lalu kami datangkan kambing, maka kami sembelih di atasnya, lalu kamu berthawaf dengannya.
Maka apabila telah datang bulan Rajab kami katakan munshilul asinnah. Maka kami tidak menanggalkan tombak yang ada besi di ujung dan panah yang ada besi di ujungnya melainkan kami mencabutnya dan membuangnya.” (Tafsir Al-Qurthubi: 8/123).
Bulan Rajab dinamakan juga Al-‘Asham. Dalam kitabnya Ash-Shihhah, Al-Jauhari berkata, “Orang-orang Jahiliyyah menamakan Rajab dengan Syahrullah Al-Asham. Berkata Khalil: Sesungguhnya dinamakan dengan itu karena tidak didengar suara histeris, gerakan perang, dan suara gemerincing senjata, karena ia termasuk bulan-bulan haram.”
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ustaz-Dr-Tgk-Muhammad-Yusran-Hadi-Lc-MA.jpg)