Opini
Krisis Literasi Lintas Generasi
Maka wajar saja pejabat Gubernur Aceh pada saat membuka kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Penobatan Duta Arsip tahun 2023 (November 2023), mengaj
Feri Irawan SSi MPd, Kepala SMKN 1 Jeunieb dan Ketua IGI Daerah Bireuen
HASIL survei Tingkat Gemar Membaca (TGM) masyarakat Indonesia 2023 telah dirilis. TGM adalah tingkat perilaku atau kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi dari berbagai bentuk media yang dilakukan secara mandiri dalam jangka waktu tertentu.
Dalam survei ini melibatkan 11.683 responden (masyarakat) terpilih yang diambil dari 104 kabupaten/kota di 35 provinsi di Indonesia, diuji dengan sejumlah pertanyaan yang dirancang untuk mengukur tingkat kegemaran membacanya.
Menurut Perpustakaan Nasional (Perpusnas), melalui Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca, perhitungan tingkat kegemaran membaca ini memiliki lima dasar aspek, yaitu jumlah bacaan per triwulan, frekuensi membaca per minggu, durasi membaca per jam/hari, frekuensi mengakses internet per minggu, dan durasi akses internet per jam/hari.
Survei TGM dilaksanakan secara berkala setiap tahun. Tujuan kajian TGM yaitu mengidentifikasi dan mengkaji kondisi perpustakaan umum dan mengkaji tingkat kegemaran membaca masyarakat.
Mengacu hasil kajian kegemaran membaca masyarakat Indonesia 2023 yang dikeluarkan Perpusnas, pada bulan Oktober 2023, menempatkan Aceh berada di peringkat ke 17 (sebelumnya peringkat 9) dengan nilai 66,64 setelah Riau (66,71). Nilai TGM masyarakat Aceh memang mengalami sedikit kenaikan.
Tahun 2022, TGM masyarakat Aceh berada di angka 65,85 dan naik 0,79 persen pada tahun 2023 menjadi 66,64. Nilai TGM nasional tahun 2023 sebesar 66,77 lebih tinggi sebesar 2,87 poin dari tahun 2022 sebesar 63,90 (skala 0-100) termasuk dalam kategori "sedang". Ini berarti nilai TGM Aceh masih dibawah nilai TGM Nasional.
Sementara Sepuluh besar TGM tertinggi 2023, adalah Yogyakarta dengan nilai 73.27, Jawa Tengah (71.31), Jawa Barat (70,47), DKI Jakarta (69,94), Jawa Timur (69,78), Kalimantan Utara (69,31), Kalimantan Timur (68,46), Sumatera Barat (68,46), Sulawesi Selatan (68,20), dan Jambi (68,10).
Hasil survei ini memberikan gambaran mendalam tentang kualitas masyarakat Aceh dalam membaca. Tanpa bermaksud menguburkan situasi iklim literasi keluarga dan literasi masyarakat Aceh saat ini. Sekadar sebagai otokritik dan rekonstruksi tradisi literasi, bahwa praktik literasi masyarakat Aceh mengalami tren menurun walaupun hasil survei TGM mengalami kenaikan.
Fakta kasat mata, hampir setiap hari, warung kopi, dan tempat-tempat umum lainnya, kaum intelektual generasi Z Aceh ternyata lebih nyaman belajar mengandalkan mesin pencari daripada membaca media cetak dan belajar dari buku yang lengkap. Hasil ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Aceh dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan global.
Maka wajar saja pejabat Gubernur Aceh pada saat membuka kegiatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Penobatan Duta Arsip tahun 2023 (November 2023), mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk gemar membaca.
Tentunya ajakan Pak Pj ini sudah tepat sasaran sebagai jawaban atas fenomena masih minimnya minat baca di kalangan masyarakat di Aceh. Padahal saat ini akses baca sangat mudah dicapai, baik melalui teknologi digital hingga keberadaan gedung perpustakaan dengan berbagai fasilitasnya.
Guna merangsang minat baca warga, Pemerintah Aceh juga telah melakukan berbagai upaya, mulai dari memfasilitasi pembangunan perpustakaan, kampanye membaca, kerja sama dengan para pegiat literasi, hingga menghadirkan pojok-pojok baca.
Sementara untuk pemerataan akses layanan perpustakaan bagi masyarakat, Pemerintah Aceh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh juga telah menyediakan koleksi perpustakaan dalam bentuk digital yaitu iPustaka Aceh.
Kurang literasi
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/opini-89j.jpg)