Selasa, 21 April 2026

Berita Aceh Tamiang

Merasa Diperalat, Petani Protes Sistem Perhutanan Sosial yang Dibangun di Tenggulun

Petani di Tenggulun, Aceh Taming melakukan protes terhadap program perhutanan sosial yang sudah berjalan sepuluh tahun.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Muhammad Hadi
Tangkapan layar
FOTO Ilustrasi - Petugas KPH III menertibkan tanaman sawit di Tenggulun, Aceh Tamiang, Rabu (12/4/2023). 

Laporan Rahmad Wiguna

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Petani di Tenggulun, Aceh Taming melakukan protes terhadap program perhutanan sosial yang sudah berjalan sepuluh tahun.

Puncak protes ini dilakukan petani dengan mengusir kunjungan sebuah organisasi besama KPH III Wilayah Langsa ke Tenggulun, Jumat (19/1/2024) kemarin.

“Kami merasa diperalat, mereka mengambil untung dengan menjual program kami kepada pihak asing,” kata Joni, salah satu petani yang ikut program perhutanan sosial, Sabtu (20/1/2024).

Joni mengatakan, sepuluh tahun lalu petani di Tenggulun difasilitasi Forum Konvervasi Leuser (FKL) untuk merintis program perhutanan sosial.

Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG: Sebagian Wilayah Aceh Berpotensi Terjadi Hujan, Warga Diminta Tetap Waspada

Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari yang dibangun di kawasan hutan oleh masyarakat sekitar.

“Katanya kami akan dibimbing, nyatanya mereka hanya menjual program kami kepada piak asing, mereka terus mendapat untung dari asing,” kata Joni.

Joni mengatakan kemarahan ini akhirnya memuncak ketika rombongan FKL didampingi KPH III Wilayah Langsa melakiukan kunjungamn ke Tenggulun, Jumat (19/1/2024) siang.

Baca juga: Sebanyak 1.361 Pengawas Tempat Pemungutan Suara Lulus Seleksi Wawancara, Disarankan Tes Urine

Petani awalnya ingin memanfaatkan kunjungan itu untuk menanyakan kelanjutan perhutanan sosial, namun tidak mendapat jawaban.

Terpisah, Kepala KPH III Wilayah Langsa, Fajri ketika dikonfirmasi membenarkan tentang reaksi protes warga terhadap FKL. “Kebetulan saat kejadian itu, saya di lokasi, di depan mata saya,” kata Fajri.

Fajri menilai kemarahan petani ini akibat salah paham dan adanya provokasi dari pihak lain.

Dia pun menilai terlalu berlebihan bila disampaikan pihak yang marah merupakan kelompok petani.

“Cuma satu orang, bukan massa,” kata dia. (mad)

Baca juga: RSUDYA Tapaktuan Siap Beri Layanan Konsultasi Jiwa Untuk Caleg Gagal

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved