Opini
Karakter Caleg Jelang Pemilu
PEMILU semakin dekat. Indikasi ini tidak hanya merujuk pada jadwal yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), tapi juga pada perubahan sifat p
Khairil Miswar, Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan penulis buku “Demokrasi Kurang Ajar”
PEMILU semakin dekat. Indikasi ini tidak hanya merujuk pada jadwal yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), tapi juga pada perubahan sifat politisi dan perubahan wajah alam, baik di kota maupun desa. Perubahan sifat politisi misalnya, dapat kita lihat melalui gencarnya aksi kampanye yang mereka lakukan, di mana keramahan, kecerdasan dan perhatian pada kepentingan publik kian mengemuka dan diulang-ulang.
Sifat-sifat ini kerap muncul dan diperbarui lima tahun sekali, sekadar untuk mengingatkan publik bahwa keramahan, kecerdasan dan perhatian adalah bagian dari karakteristik mereka. Adapun perubahan wajah alam dapat dilihat dari menyemaknya alat peraga kampanye yang terpancang di mana-mana; di pinggir jalan nasional, tepian sawah, rumah ibadah, papan iklan kota, pepohonan dan bahkan di kebun-kebun kosong yang hanya dilewati hantu.
Berbagai kreativitas pun terlihat dalam alat-alat peraga itu. Ada yang mengaku dirinya cerdas, ada yang mengaku dermawan, ada yang mengklaim diri memiliki wawasan internasional, ada yang mengesankan diri sebagai orang alim dengan pakaian religius, ada yang mendapuk diri sebagai orang yang peduli pada anak yatim dan fakir miskin; dan bahkan ada pula yang menggunakan jargon-jargon unik misalnya: “Si uro gata sajan lon, limong thon lon sajan gata” atau “gaji lon ke rakyat” dan seterusnya.
Fenomena demikian adalah lumrah di musim-musim Pemilu. Dalam hal ini, para politisi mencurahkan segenap energi yang ia miliki guna menarik perhatian publik. Ada pun bagi publik, meskipun pemandangan tersebut bukan hal baru, akan tetapi bisa menjadi salah satu medium untuk mengenal, berpikir, menganalisis dan kemudian menentukan pilihan.
Uniknya pada momen kali ini perbincangan terhadap para calon legislatif (Caleg) sepertinya tidak terlalu menarik perhatian, di mana konsentrasi publik lebih terfokus pada calon presiden (Capres). Kondisi ini membuat para Caleg harus bekerja ekstra agar hajat mereka bisa tercapai. Segala upaya harus dilakukan supaya nama mereka tidak tenggelam dalam keriuhan Pilpres yang secara faktual lebih banyak menyita perhatian publik.
Menangkap peluang
Bicara soal peluang pastinya semua Caleg memiliki peluang untuk dipilih dan juga peluang untuk tidak dipilih, karena itu mereka harus menggunakan segenap potensinya untuk menangkap peluang tersebut. Seperti disinggung pakar psikologi sosial, Bert Klandermans (2005) bahwa peluang tidak akan memberi dampak apa pun bila tidak ditangkap. Karena itu para Caleg harus bersungguh-sungguh dan memastikan agar peluang itu bisa berpihak pada mereka.
Untuk mencapai hasil maksimal sebagaimana diharapkan, maka kampanye alias “bujuk rayu” harus dilakukan secara cermat dan terukur. Klandermans (2005) menulis dalam bukunya bahwa “Para juru kampanye harus benar-benar bersusah payah meyakinkan publik bahwa kontribusi mereka sangat penting artinya.” Ini adalah salah satu strategi untuk menarik perhatian dan kepercayaan publik.
Secara faktual, apa yang disampaikan Klandermans ini sudah dan sedang dilakukan oleh para Caleg kita. Kenyataan ini bisa kita temukan hampir di setiap kampanye, di mana para Caleg terlihat sangat tangkas dalam membentuk citra mereka di hadapan publik. Ada Caleg yang mencitrakan dirinya sebagai penyambung aspirasi rakyat, sebagai pejuang petani, sebagai pemberi rumah dhuafa, dan bahkan sebagai pejuang MoU Helsinki.
Dua yang disebut terakhir memang terbilang aneh karena tugas DPR bukanlah membagi-bagikan bantuan, bukan juga untuk memperjuangkan MoU karena MoU Helsinki sudah ditandatangani sejak 2005 sehingga tidak perlu lagi diperjuangkan. Namun demikian, dari jargon-jargon tersebut kita bisa membuat satu kesimpulan bahwa para Caleg kita sudah cukup cakap dalam mencitrakan diri guna meyakinkan publik bahwa kontribusi mereka sangat penting dan karenanya mereka harus dipilih, dan ini merupakan salah satu trik untuk bisa menangkap peluang.
Karakter (oknum) caleg
Hal lainnya yang lazim kita temui di musim Pemilu adalah keuletan para Caleg dalam “menjual” apa saja yang mereka miliki demi menarik perhatian publik. Menjual di sini bisa dipahami dalam dua pengertian; literal atau pun metaforis. Dalam pengertian pertama kita bisa menemukan para Caleg yang menjual asetnya untuk biaya kampanye, sementara dalam pengertian kedua, para Caleg bisa juga “menjual” ide, gagasan atau hal-hal abstrak lainnya demi memengaruhi publik.
Erich Fromm (2015) menyatakan bahwa orang yang memiliki karakter pemasaran dapat mengubah apapun menjadi dagangan, bukan saja benda, tapi juga pengetahuan, gagasan dan bahkan perasaannya. Orang demikian juga mampu memperdagangkan senyum manisnya. Hal ini tentunya sering kita jumpai dalam realitas, di mana para Caleg berlomba-lomba menjanjikan sesuatu yang dianggap bisa memikat hati publik.
Dalam hal ini mereka akan melihat kondisi pasar alias konstituen yang mereka sasar; kepada para petani mereka akan berjanji soal pupuk gratis, kepada nelayan mereka memastikan adanya bantuan perahu, kepada pegawai dan buruh dijanjikan kenaikan gaji dan upah, dan kepada tokoh agama mereka bersumpah menegakkan syariat, dan seterusnya. Apakah janji-janji tersebut akan terwujud adalah persoalan lain, yang penting mereka bisa “memasarkan” janji dan gagasan-gagasan itu dengan baik.
Di luar karakter pemasaran, kita juga kerap menemui para Caleg yang memiliki karakter narsistik dan megalomania. Seperti dikemukakan Fromm, orang narsistik hanya tertarik pada dirinya sendiri, hasratnya, pikirannya dan keinginannya. Orang tipe ini juga selalu membicarakan gagasannya, masa lalunya dan rencananya di masa depan.
Kita bisa bisa melihat pemandangan ini dalam banyak pengalaman Pileg di Aceh. Di awal-awal perdamaian misalnya, kita kerap menjumpai oknum Caleg dari partai lokal yang menuding Caleg partai nasional sebagai pengkhianat atau kaki tangan Jawa dan sebagainya. Di saat yang sama mereka mendaulat diri sebagai pejuang yang memiliki jasa besar.
Ada pula oknum Caleg yang mengampanyekan bahwa dirinya dan partainya akan mengembalikan kejayaan Iskandar Muda dan sebagainya. Dalam konteks kekinian, karakter dan strategi demikian sudah tidak mampu lagi memengaruhi publik, karena itu sudah sepatutnya ditinggalkan.
Kampanye edukatif
Mengharapkan Caleg yang benar-benar sempurna mungkin sedikit utopis. Namun begitu, para Caleg diharapkan bisa memberi pembelajaran kepada publik melalui kampanye yang edukatif, bukan justru kampanye provokatif, apalagi destruktif. Karena itu segala bentuk intimidasi, baik kepada sesama Caleg atau kepada pemilih sudah sepatutnya ditinggalkan.
Demikian juga money politic yang merusak peradaban juga mesti dihentikan, bukan justru disuburkan dengan jargon-jargon destruktif: Ambil uangnya jangan pilih orangnya; ini adalah jargon menyesatkan yang memosisikan Pemilu sebagai pasar tempat berlangsungnya politik transaksional yang bermuara pada menjamurnya Caleg kapitalistik dan masyarakat materialistik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Khairil-Miswar-OKE.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.