Citizen Reporter
Berlibur ke Salah Satu Wilayah Terdingin di Tiongkok
Saya berangkat dari Kota Chengdu dengan suhu 1℃. Selama di bandar udara (bandara) dan di pesawat saya membuka jaket tebal saya, karena rasanya dingin
Akan tetapi, ketika saya menaiki ‘ice sliding’, saya harus mengantre selama tiga jam di Tengah subu -24 ℃. Pada jam-jam pertama saya dan teman saya terus berbicara dan menggerak-gerakkan kaki agar tidak kedinginan. Kemudian, setelah 1,5 jam mengantre tiba-tiba teman saya berkata bahwa dia akan menyerah dan menunggu saya di salah satu tempat makan yang berada di sana. Karena saya sangat ingin sekali menaiki wahana itu dan sudah telanjur antre 1,5 jam yang artinya sudah setengah jalan, saya putuskan untuk tetap melanjutkan antre walaupun kaki sudah terasa sangat dingin.
Kemudian, ada seorang bapak yang mengajak saya ngobrol dan bertanya dari mana saya berasal. Setelah itu saya dan bapak itu mengantre sambil mengobrol, dengan pembahasan Indonesia dan budaya Tiongkok-Indonesia. Bahkan bapak tersebut tahu bahwa Indonesia akan mengadakan pemilihan umum presiden pada 14 Februari 2024.
Kemudian saya juga berbicara dengan orang yang mengantre di depan saya. Ia seorang mahasiswa lokal Cina yang berasal dari Kota Shanghai, juga sedang berlibur ke Harbin. Kami membahas bagaimana sistem perkuliahan di kampus masing-masing. Dan karena itu, setidaknya saya tidak mengantre di cuaca dingin dalam keadaan membosankan, karena saya punya teman untuk mengobrol.
Setelah genap tiga jam mengantre, giliran saya menaiki wahana ‘ice sliding’, wahana yang sangat ingin saya naiki dan membuat saya antre di tengah cuaca yang sedingin ini.
Ketika saya menaiki ‘ice sliding’ ini ternyata sangat licin sehigga membuat saya meluncur begitu cepat. Saya meluncur selama satu menit dan itu membuat saya sangat puas dan sangat menikmatinya. Pada saat saya menaiki wahana ini suhu setempat menunjukkan -25 ℃ dan sudah malam hari.
Pada malam hari, lampu-lampu menyala dari istana-istana es dan menampilkan banyak warna yang mengagumkan.
Hari-hari berikutnya, kami terus menikmati dinginnya kota ini dan salju yang turun di Kota Harbin dengan berjalan-jalan dan mengunjugi berbagai tempat. Misalnya, mengunjungi salah satu sungai yang sudah membeku karena musim dingin dan dijadikan warga lokal sebagai sarana bermain dan berfoto-foto. Sungai ini sudah dipenuhi es serta salju yang membuat orang dari berbagai lapis usia menikmatinya.
Saya juga mengunjungi wahana bermain salju lainnya serta berjalan-jalan menikmati kota yang sedang diselimuti salju. Saya sangat menikmati waktu yang saya habiskan di kota dingin ini, sebagai orang yang lumayan menikmati cuaca dingin. Cuaca dingin ekstrem di sini menambah pengalaman
baru bagi saya untuk merasakan dinginnya Kota Harbin.
Selama saya di sini, suhu yang paling dingin saya rasakan adalah -26 ℃. Saya juga bertanya pada sopir taksi yang merupakan warga lokal Kota Harbin bagaimana keadaan kota ini saat musim panas. Ia berkata, pada saat musim panas cuaca di Kota Harbin sekitar 22 sampai 28 ℃, sesekali mencapai 30 ℃, tapi itu sangat jarang terjadi.
Demikianlah, petualangan saya di Kota Harbin yang superdingin. < putrikeumalarizkirani@gmail.com>
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Berlibur ke Salah Satu Wilayah Terdingin di Tiongk
luar negeri
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI
Tiongkok
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/PUTRI-KEUMALA-RIZKI-RANI-OKE-LAGI.jpg)