Kupi Beungoh
Bangga Pada Songket Aceh dan Kekuatan Identitas Etnis
Songket Aceh pernah mencapai masa keemasannya, ketika itu kerajaan Islam Aceh Darussalam dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda
*) Dr. Malahayati, S.E.,M.M.
BERBICARA tentang songket Aceh bukan hanya selembar kain yang dipakai dara baroe dan linto baroe, mengapa demikian? karena saat ini songket Aceh hanya sering terlihat pada acara perkawinan.
Sedangkan pada masa yang akan datang, kemungkinan songket tidak terlihat lagi pada acara perkawinan.
Kalau hal ini sampai terjadi dimana lagi kita akan melihat songket Aceh, hasil mahakarya leluhur pada masa lalu. Apakah sejarah kemegahan songket Aceh cukup hanya dengan mengenang saja?
Songket Aceh pernah mencapai masa keemasannya, ketika itu kerajaan Islam Aceh Darussalam dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda, bahkan pada abad ke 16-17 songket Aceh sudah diekspor ke manca negara.
Adapun benang sutra sebagai bahan baku utama merupakan hasil dari perkebunan rakyat, benang sutra dengan kualitas terbaik didunia menjadi komoditi ekspor karena melebihi kebutuhan produksi di Aceh.
Pada masa itu di sentra industri songket hampir setiap rumah terdapat alat pemintal benang sutra dan peralatan menenun yang diletakkan dibawah rumah.
Rumah tradisional Aceh terdiri dari dua bahagian yaitu bahagian atas yang didiami dan bahagian bawah di biarkan kosong.
Pilar yang tinggi sebagai penyangga terlihat kokoh karena tidak di buat dinding, disinilah aktivitas banyak dilakukan termasuk menenun songket.
Sebagai fashion etnis yang mewah, selembar songket Aceh bila diulas maka akan membutuhkan beberapa bab, hal ini tidak terlepas dari pengaruh multi dimensional dan multidisipliner yang dimilikinya.
Multi dimensional yaitu multi atribut yang terdapat pada bidang kain.
Sedangkan multidisipliner yaitu beberapa disiplin ilmu yang merupakan satu kesatuan yang holistik dan terkait erat, sehinggga tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Dengan kata lain kedua aspek tersebut merupakan kunci keistimewaan songket Aceh dibanding fashion mewah yang lain.
Namun saat ini songket Aceh tidak lagi bersinar, masa kejayaan sudah berganti dengan keterpurukan, perajin berkurang tahun demi tahun.
Berbagai permasalahan serius yang dialami industri kerajinan tradisional ini belum ada solusinya.
Songket Aceh tengah berada dalam kondisi emergensi apabila tidak segera diselamatkan, maka tak dapat dipungkiri hanya tinggal menunggu waktu hilangnya salah satu budaya leluhur yang tak ternilai harganya.
Sejauh ini penelitian tentang songket Aceh masih langka, demikian juga faktor yang menyebabkan terpuruknya juga masih langka.
Tulisan ini penting untuk mencari akar permasalahan guna memperoleh solusi agar kerajinan tenun tradisional ini tidak punah.
Secara teori berkurangnya perajin disebabkan berkurangnya penjualan, penyebabnya adalah berkurangnya pembelian.
Permasalahan adalah menurunnya penjualan songket sedangkan akar permasalahan adalah niat beli konsumen yang berkurang.
Adapun tujuan tulisan ini untuk mengkaji mengapa niat membeli songket Aceh menurun?
Berlandaskan referensi dari jurnal internasional bereputasi para peneliti menegaskan bahwa niat membeli fashion etnis menjadi kuat karena faktor kebanggaan pada budaya.
Selain itu niat membeli fashion etnis juga dikaitkan dengan kekuatan identitas etnis.
Adapun orang yang bangga pada budaya akan memakai fashion yang ada unsur budaya.
Demikian juga halnya dengan orang memiliki kekuatan identitas etnis akan memakai fashion yang ada unsur etnisnya.
Selanjutnya fashion tersebut sering dipakai pada acara-acara resmi, acara adat, hari-hari besar agama, festival bahkan sampai keluar negeri.
Apakah orang Aceh bangga pada songket sebagai fashion etnis?, apakah orang Aceh memiliki identitas etnis yang kuat?
Pertanyaan – pertanyaan ini adalah indikator untuk niat membeli songket Aceh.
Dalam konteks untuk memajukan songket Aceh sudah dilakukan oleh banyak pihak contohnya Pemerintah Aceh yang banyak berkontribusi dalam memberdayakan industri tenun tradisional ini sejak bertahun-tahun yang lalu.
Saya melakukan interview dengan stake holder terkait dan perajin songket, berbagai usaha telah diupayakan demi keberlanjutan industri kerajinan ini.
Selain itu beberapa desainer kenamaan pernah memodifikasi serta mempromosikan songket Aceh bahkan sampai ke luar negeri.
Namun demikian sampai saat ini songket Aceh belum berkembang secara signifikan.
Oleh sebab itu diperlukan lagi upaya yang maksimal dari dunia akademisi.
Sebagai akademisi saya meneliti songket Aceh, untuk mengetahui persepsi pelanggan terhadap songket Aceh.
Alhasil terungkap bahwa nilai kemewahan yang menjadi faktor utama pelanggan memakai songket.
Dengan kata lain nilai kemewahan yang berperan penting yang menyebabkan seseorang membeli songket.
Oleh sebab itu saran kepada perajin untuk meningkatkan nilai kemewahan, agar songket tampil gemerlap.
Adapun corak ragam hias yang bermakna filosofi didisain kekinian sehingga selembar songket menjadi lebih modern.
Dampaknya orang yang memakai songket mewah ini akan mencerminkan status sosial yang tinggi dan memberi kesan pada orang lain (to impress others).
Saran kepada pemerintah untuk berperan aktif dalam memajukan fashion etnik mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas (jati diri).
Memberi motivasi kepada rakyat agar bangga pada pusaka budaya leluhur dan mendorong desainer lokal agar mendesain fashion etnik tradisional menjadi lebih modis dan glamor untuk mengisi pasar domestik. (*)
*) PENULIS adalah pemerhati songket dan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekkah.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
| Menjaga Api yang Terus Menyala: Kiat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh |
|
|---|
| Syeh Syoh: Behavioral Noise di Forum Publik Aceh |
|
|---|
| Sekolah di Persimpangan Jalan: Antara Akses, Pilihan, dan Ketimpangan |
|
|---|
| PERTI Aceh: Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, dan Menata Arah Keberagamaan |
|
|---|
| Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pemerhati-songket-dan-dosen-Dr-Malahayati-SEMM.jpg)