Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Tetap Sehat Mental di Tahun Politik

Kesehatan jiwa disingkat keswa adalah kondisi ketika seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu t

Tayang:
Editor: mufti
IST
SRI MALEM KERINA, Siswi Kelas XI Madrasah Aliyah Baitul Arqam melaporkan dari Banda Aceh 

SRI MALEM KERINA, Siswi Kelas XI Madrasah Aliyah Baitul Arqam melaporkan dari Banda Aceh

Sabtu, akhir Januari lalu, saya menghadiri seminar dengan tema ‘Sehat Mental Menghadapi Isu-Isu di Tahun Politik’ yang diadakan oleh Himpsi Aceh di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh.

Seminar ini salah satu rangkaian acara Musyawarah Wilayah Ke-6 Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) yang diadakan di tempat yang sama.

Saya dan dua teman lainnya hadir sebagai peserta, mewakili Madrasah Aliyah Baitul Arqam, Sibreh. Sebelumnya kami juga mendengarkan sosialisasi mengenai politik untuk pemilih pemula yang diadakan di madrasah. Bersama dua teman sekelas saya, Raya dan Bunga, kami bersiap berangkat sejak pukul 06.30 WIB karena di hari Sabtu biasanya di pesantren kami tidak ada kelas belajar seperti biasanya. Hanya ada kelas pengayaan hingga pukul 12.00 WIB.

Kami diantar oleh Abi Yudhi, salah seorang staf dan pengasuh di pesantren, langsung menuju lokasi acara. Kurang dari setengah jam perjalanan yang kami tempuh dari Sibreh, akhirnya sampai juga sebelum acara dimulai. Peserta sudah terlihat ramai, salah seorang panitia yang kami panggil Kak Irma, menyambut kami di bawah dan  kami diantar ke aula tempat seminar berlangsung. Tampak wajah-wajah yang tak asing di dunia psikologi, seperti Dr Andik Matulessy MSi, psikolog yang merupakan Ketua Umum Himpsi sekaligus narasumber untuk seminar kali ini. Tampak juga Pak Barmawi MSi, yang pernah beberapa kali mengisi kelas motivasi dan ‘outbond’ di Pesantren Baitul Arqam. Pada Muswil Ke-6 Himpsi ini, Pak Barmawi kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Himpsi Aceh.

Dari penuturan Dr Andik, kami mendapatkan banyak ilmu dan pencerahan. Seperti yang kita ketahui saat ini, media banyak menayangkan berita-berita politik, masa-masa kampanye, dan tidak ketinggalan hoaks juga bertebaran di media, baik media arus utama maupun media sosial. Tsunami informasi ini bisa berdampak besar bagi sebagian orang, terutama yang mentalnya tidak siap atau tidak sanggup menghadapi tekanan.

Di pembuka seminar, saya dan peserta lainnya mendengarkan pemaparan mengenai peran psikologi untuk meningkatkan kesehatan mental. Awalnya, kami juga diberi tahu mengenai definisi kesehatan mental menurut World Health Organization (WHO). Kesehatan mental adalah kondisi sejahtera seseorang, ketika seseorang menyadari kemampuan dirinya, mampu untuk mengelola stres yang dimiliki serta beradaptasi dengan baik, dapat bekerja secara produktif, dan berkontribusi untuk lingkungannya.

Kesehatan jiwa disingkat keswa adalah kondisi ketika seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan stres, dapat bekerja secara produktif, serta mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Dr Andik yang juga dosen tetap sejak 1992 di Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dan mengambil Doktor Psikologi Sosial (2008) di Fakultas Psikologi UGM ini, memaparkan dengan gamblang mengenai momen-momen penting di Aceh yang berkaitan dengan kestabilan negeri dan dampak langsungnya pada mental masyarakat. Misalnya, konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia (Pemri) yang berlangsung sejak tahun 1976–2005 dan menyebabkan jatuhnya sekitar 15.000 jiwa.

Lalu gempa dan tsunami berkekuatan 9,3 SR dan juga menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang sangat besar. Ada peran-peran psikologi dalam pemulihan peristiwa tersebut, bukan sekadar peran kedokteran saja, karena menurut Dr Andik, psikologi juga berhubungan dengan kedokteran.

Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai 2024 sebagai tahun politik karena akan diselenggarakan pemilihan calon presiden,wakil presiden, calon legislatif DPR. DPRD provinsi kabupaten/kota, serta DPD RI yang berlangsung 14 Februari 2024. Di tahun ini pula akan diselenggarakan pilkada, pemilihan calon gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, serta calon wali kota/wakil wali kota.

Jadi, 2024 akan menjadi penentu masa depan bangsa dan negara, karena saat itu akan muncul pemimpin masa depan, baik di eksekutif, maupun legislatif. Pemilih tetap (DPT) 2024 yang telah dilansir oleh KPU mencapai 204,8 juta pemilih potensi. Pemilih muda secara rinci 66,8 juta (33, 6 persen) di antaranya merupakan gen Z sebanyak 46,8 juta (22, 85 % ).

Dalam acara seminar ini, kami sebagai pemilih muda pun mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat serta pencerahan untuk memaksimalkan hak pilih dengan bijaksana. Adapun berkaitan dengan hoaks yang berseliweran serta tekanan-tekanan ujaran kebencian yang biasanya hadir di kolom-kolom komentar media sosial, sebaiknya tidak disikapi serius atau diladeni terus-menerus. Sebab, paparan terus-menerus terhadap tekanan politik telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kecemasan, depresi, dan pilihan gaya hidup yang buruk. Juga bisa berdampak pada memburuknya kesehatan fisik..

American Psychological Association (APA) melakukan survei pada 2020, hasilnya menunjukkan bahwa pemilihan presiden merupakan sumber stres signifikan bagi 68 % warga Amerika. Hasil ini bahkan meningkat 16?ri Pemilu 2016. Sedangkan survei oleh Litbang Kompas tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 56 % responden menyatakan kekhawatiran akan polarisasi yang ditimbulkan oleh pemilu atau kondisi tersebut dipengaruhi oleh peristiwa traumatis perpecahan kelompok dan ujaran kebencian, yang masih melekat hingga saat ini, juga merupakan dampak dari pemilu sebelumnya.

Dr Andik juga membeberkan kisah tragis Pemilu 2019, saat para caleg yang gagal menjadi legislatif kemudian terkena gangguan jiwa. Bahkan, untuk antisipasi caleg stres karena kalah pemilu, disediakan ruang khusus di beberapa rumah sakit jiwa. Mengikuti arus yang sedang ramai di media sosial memang sangat mengasyikkan, membuat kita lupa waktu, tetapi sebaiknya kita harus menyadari seberapa jauh hal-hal tersebut memengaruhi kehidupan dan kesehatan mental kita.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved